Loading...

KWT Menambah Wawasan dalam Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal

KWT Menambah Wawasan dalam Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal
Terwujudnya kemandirian pangan suatu daerah atau Negara dengan sendirinya akan mempercepat tercapainya ketahanan pangan nasional. Adanya novasi teknologi pangan lokal dapat menjadi langkah strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Untuk itu perlu dikembangkan bagaimana cara mengolah bahan baku lokal untuk mengurangi konsumsi tepung terigu dan beras. Tepung pisang dan tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) dapat menggantikan fungsi tepung terigu dalam pembuatan produk pangan yang tidak membutuhkan pengembangan seperti brownies, bolu kukus, kue kering. Kedua tepung ini menjadi pilihan karena bahan bakunya yaitu pisang dan ubi kayu, tersedia hampir di seluruh wilayah tanah air, selain itu teknologi budidaya dan pengolahannya mudah diterapkan oleh petani. Demikian disampaikan sebagai pengantar dalam kegiatan Pelatihan Pangan Lokal. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dalam dua hari (18 dan 19 Agustus 2015) dengan peserta 40 anggota KWT. Kepala BKP3 Ir. Pulung Haryadi, MSc., yang membuka pelatihan tersebut mengharapkan agar materi yang disampaikan dapat menambah ilmu bagi peserta. Pada hari pertama, narasumber dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, Nurdeana Cahyaningrum, STP. dan Erni Apriyati, STP. mengajarkan sekaligus praktek langsung pembuatan Bolu kukus dari tepung Mocaf dan butter cookies dari tepung pisang. Para peserta cukup antusias dan aktif berpartisipasi mulai dari menakar bahan, mengolah, mengukus dan memanggang hingga menyajikannya. Sementara itu, adanya inovasi atau kreasi terhadap produk pangan perlu mempertimbangkan aspek selera konsumen. Dalam penyajian suatu makanan, hal yang paling diutamakan selain rasa yang enak, adalah cara menghidangkannya, karena keindahan dan keserasian hidangan akan mempengaruhi nilai tambah dari makanan tersebut. Oleh karena itu dalam materi hari kedua, Ibu Mujirah, S.Pd. dari SMK 1 Sewon dengan dibantu dua siswanya dari Jurusan Patiseri menyampaikan materi tentang cara memberi garnish atau hiasan pemanis pada kue. Garnish merupakan penghias menu dalam bentuk yang unik dan cantik yang diberikan pada makanan atau minuman yang terbuat dari bahan yang bisa dimakan dengan tujuan memberikan daya tarik seseorang untuk menikmati menu tersebut. Ada beraneka bahan yang dapat digunakan, pada kesempatan ini dipraktekkan cara menghias dan melapis kue memakai butter cream dan hiasan dari coklat dan buah. Kasubid Kewaspadaan Pangan, Ir. Suryanti, MMA. memberikan materi tentang Bahan Tambahan Pangan (BTP) serta Pengemasan Produk Olahan. BTP ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan dan ragamnya antara lain berupa bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat, dan pengental. BTP yang dilarang dipakai antara lain Rhodamin B (pewarna merah), metanil yellow (pewarna kuning),boraks dan formalin (pengawet). Untuk BTP yang diijinkan, penggunaanya harus dengan dosis yang sesuai agar tidak justru merusak kesehatan. Untuk dapat meningkatkan nilai tambah, pengolahan bahan pangan memerlukan sedikit sentuhan, antara lain melalui pengemasan. Tujuan pengemasan adalah untuk memperpanjang umur simpan bahan pangan, menyelamatkan produksi bahan pangan yang berlimpah, mencegah kerusakan nutrisi, memudahkan distribusi dan menambah estetika serta nilai jual. Diuraikan oleh beliau, syarat dan macam-macam bahan pengemas serta contoh tampilannya. Diingatkannya pula agar memperhatikan kemanan dalam pengemasan makanan agar tidak membahayakan bagi konsumen. Selain itu juga disinggung tentang cara pemasaran yang baik. Tak hanya pemberian materi dan praktek, dalam kegiatan pelatihan ini juga diselingi dengan diskusi antara peserta dengan narasumber sehingga diharapkan dengan adanya pelatihan dapat memperkaya ide serta merangsang inovasi dan kreasi para anggota KWT dalam mengolah dan menyajikan pangan terutama yang berbahan lokal.(Primasari M., SP -admin BKP3 Kab. Bantul)