Gambut adalah tanah yang terbentuk dari penimbunan sisa-sisa tumbuhan (daun, ranting, kayu-kayu besar) setengah membusuk atau belum sepenuhnya membusuk karena terhambat proses pembusukannya, oleh sebab itu kandungan bahan organiknya tinggi. Gambut ini biasanya di lahan-lahan basah/rawa, karena kadar keasaman yang tinggi atau kondisi anaerob di perairan tempat tersebut. Kadang-kadang tidak adanya oksigen akan menghambat dekomposisi, bangkai binatang dan serangga menjadi lebih awet di dalam lapisan-lapisan gambut. Biasanya di dunia, menyebut gambut apabila kandungan bahan organik dalam tanah lebih 30%, tetapi gambut di Indonesia umumnya mempunyai kandungan bahan organik lebih 65% dan kedalamannya lebih dari 50 cm. Sekitar 60% lahan basah di dunia merupakan gambut dan sekitar 7% dari lahan-lahan gambut tersebut telah dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan kehutanan. Di Indonesia terdapat gambut tropis sekitar 18,8 juta ha (sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia). Sekitar 7,2 juta ha atau 35% nya terdapat di Pulau Sumatera dan selebihnya tersebar di pulau Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Lahan gambut yang dimanfaatkan untuk lahan pertanian atau pengembangan tanaman masih ditemui beberapa masalah, antara lain: kematangan tanah, ketebalan gambut bervariasi, penurunan permukaan gambut, rendahnya daya tumpu, rendahnya kesuburan tanah, adanya lapisan pirit (banyak mengandung besi) dan pasir, pH tanah yang sangat masam, kondisi lahan gambut yang jenuh air (tergenang) pada musim hujan dan kekeringan saat kemarau, serta rawan kebakaran. Namun lahan gambut yang bermasalah tersebut dapat dimanfaatkan dikelola dengan upaya khusus untuk pengembangan tanaman sayuran. Hampir semua jenis sayuran dataran rendah dapat dibudidayakan di lahan gambut, dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan kimia tanah. Jenis sayuran tersebut, seperti: bawang merah, bawang daun/petsai, bayam, cabai merah, cabai rawit, kacang panjang, terung, kangkung, mentimun, lobak, buncis, sawi, dan lain-lain. Pada dasarnya cara budidayanya sama dengan budidaya sayuran di lahan non gambut, hanya ada beberapa perbedaan sebagai berikut: a. Pemilihan jenis sayuranJenis sayuran dipilih berdasarkan nilai ekonomis atau dapat dijual dengan harga yang menguntungkan dan dapat dibudidayakan secara monokultur maupun tumpangsari dengan tanaman palawija atau dibawah naungan tanaman tahunan.b. Persiapan lahan tanam• Lahan harus dipilih, karena tidak semua lahan gambut cocok untuk tanaman sayuran. Pada dasarnya lahan gambut dikelompokan menjadi beberapa jenis, yaitu: lahan sulfat masam aktual (SMA), lahan sulfat masam potensial (SMP), lahan sulfat masam potensial bergambut, lahan potensial, lahan masam potensial, lahan gambut dangkal, lahan gambut sedang, lahan gambut dalam, dan lahan gambut sangat dalam. Lahan gambut yang sesuai untuk ditanami sayuran: lahan sulfat masam potensial bergambut, lahan masam potensial, dan lahan gambut dangkal. • Lahan gambut diatur dengan bentuk Sistem Surjan (seperti pada gambar di atas), yaitu dibuat guludan-guludan yang ditanami sayuran dan bawahnya untuk sawah ditanami padi. Ukuran guludan dengan lebar 3 - 5 m dan tingginya 0,5 - 0,6 m, sedangkan sawahnya dengan lebar 15 m dan panjangnya menurut panjang lahan. • Di atas guludan yang akan ditanami sayuran diolah dengan digemburkan, dilumpurkan dan diratakan.• Pada umumnya tanah gambut masam, maka perlu diberi kapur sebanyak 5 ton per hektar. Sekali memberi kapur dapat digunakan sampai 5 kali musim tanam.c. Pesemaian benih• Benih sayuran yang akan ditanam pada tanah gambut, harus disemaikan pada campuran tanah dan pupuk kandang yang sudah matang (siap pakai) dengan perbandingan 2 : 1.• Semaikan benih sayuran pada campuran tanah dan pupuk kandang sampai tumbuh tunas. d. Pemupukan• Pada saat tanam, dipupuk dengan seluruh dosis pupuk SP-36 dan ½ dosis pupuk KCL.• Pemupukan Urea diberikan sampai 3 kali, yaitu: 1) Pertama diberikan 7 – 10 hari setelah tanam sebanyak 1/3 dosis; 2) Kedua, diberikan 3 minggu setelah pemupukan Urea pertama sebanyak 1/3 dosis; 3) Ketiga, diberikan pada saat penyiangan sebanyak 1/3 dosis.• Untuk memperbaiki mutu dan produktivitas, dianjurkan diberi 1 gram ZnSO4 dan 0,5 gram CuSO4 yang dicampur dengan 1 liter air.e. Pemeliharaan dilakukan secara intensif, dengan sekaligus perbaikan guludan secara teratur.f. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan sesuai anjuran.g. Pemberian naungan untuk mengurangi panas matahari agar pertumbuhan optimal. Naungan biasanya dibuat dari para-para dengan intensitas 30% untuk tanaman labu siam, pare, kecipir, dan lain-lain. Pemanfaatan lahan gambut harus diiringi dengan kemauan, kerja keras dan telaten. Selamat mencoba. Penulis: Susilo Astuti Handayani (Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber informasi:1. Pengembangan Sayuran di Lahan Gambut dan Perbatasan. Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. 2007. 2. Wetlands International, 2003.3. Berbagai sumber dari Internet.