Loading...

MANFAAT PENGGUNAAN MULSA PLASTIK HITAM PERAK

MANFAAT PENGGUNAAN MULSA PLASTIK HITAM PERAK
Budidaya tanaman pertanian mempunyai tujuan untuk mendapatkan produksi yang optimal baik kuantitas maupun kualitas. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan oleh petani perlu upaya yang menyeluruh dan berkesinambungan atau yang lebih sering dikenal dengan “ Sistem Pertanian Terpadu”. Hasil yang diperoleh dalam usaha pertanian merupakan hasil dari : Penerapan Teknologi dan inovasi, Lingkungan Ekologi, Iklim/cuaca dan keberuntungan atau sering dirumuskan :Y = f [ A, E, C, T, L ] Y : Yeald ( hasil) F : fungsi A : Action (tindakan dan paket teknologi yang diterapkan) E : Enviroment (lingkungnan/ekologi) C : Climate (iklim/cuaca) T : Tamperatur (suhu) L : Lucky (keberuntungan)Dari 5 (lima) komponen tersebut yang bisa dengan mudah dirubah sesuai syarat tumbuh dan tujuan budidaya adalah komponen A. Sedangkan komponen E, C, dan T untuk merubah atau rekayasa membutuhkan biaya yang besar. Komponen L untuk mendapatkanya petani harus mendekatkan diri pada Tuhan, yaitu dengan cara tekun , tawakal, sabar, jujur, dan banyak bersukur.Salah satu hal yang mempengaruhi hasil di dalam budidaya tanaman adalah gulma. Gulma akan bersaing dengan tanaman utama dalam : menyerap unsur hara; ruang tumbuh dan mendapatkan sinar matahari. Keberadaan gulma atau rumput pengganggu juga dapat menjadi tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman. Penurunan hasil akibat gangguan gulma pada tanaman pangan seperti jagung dan kedelai yang tidak dikendalkan dapat mencapai 12% sedangkan pada tanaman sayuran antara 5 – 10%.Pertumbuhan gulma terutama di daerah tropis seperti di Indonesia sangatlah cepat karena sinar matahari selalu tersedia setiap saat. Gulma akan tumbuh hanya dengan adanya tanah terbuka dan sinar matahari, lain halnya dengan tanaman yang akan tumbuh baik jika dirawat dengan baik. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual yaitu dengan mencabut atau menyiang menggunakan kored, menggunakan herbisida selektif dan penggunaan mulsa plastik hitam perak. Penyiangan secara manual akan membutuhkan waktu dan biaya tenaga kerja yang banyak apalagi di Papua yang kepemilikan lahan rata-rata 2 hektar sudah jelas tidak akan mampu melakukan penyiangan secara manual. Penggunaan herbisida untuk mengendalikan gulma dari segi tenaga kerja memang menghemat dan waktu yang digunakan juga lebih cepat, tetapi penggunaan herbisida secara terus menerus dapat merusak tanah dan residu masih terbawa didalam produk pertanian terutamam jenis herbisida yang sistemik. Salah satu upaya penanggulangan gulma yang dapat menekan pertumbuhan gulma dan menghemat tenaga kerja dan herbisida adalah penggunaan mulsa plastik hitam perak. Penggunaan mulsa plastik hitam perak disamping untuk mengendalikan gulma juga mengurangi hilangnya tanah permukaan akibat curah hujan tinggi, mengurangi serangan jamur pada tanaman sayuran dan trips pada sayuran terutama cabe dan melon. Pada saat memulai budidaya sistem mulsa dibutuhkan modal awal yang cukup besar untuk pembelian mulsa dan pembuatan bedengan atau guludan tetapi manfaat yang akan diperoleh bukan sekedar menekan gulma tetapi juga dapat mengendalikan berbagai serangan penyakit. Pada kondisi normal mulsa yang telah dipasang dibedengan dapat digunakan sampai 2 tahun atau 8 kali tanam untuk tanaman sayuran dan melon. Modal awal sudah bisa kembali setelah 2 kali panen sehingga di panen berikutnya merupakan keuntungan atau bonus. Penulis DWI PURWANINGSIH, SP