Loading...

MEMBANGUN KADAULATAN PANGAN DI KULON PROGO

MEMBANGUN KADAULATAN PANGAN DI KULON PROGO
Nasi Sawut Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas wilayah 58.627 hektar yang terbagi dalam 12 Kecamatan, 87 Desa, 1 Kelurahan dan 933 Dusun. Sebagian besar wilayah merupakan zone pegunungan (42,80%) dan zone bergelombang (44,14%) yang disebut perbukitan Menoreh, dan sebagian kecil zone datar di bagian selatan/pesisir (13,08%) dengan jumlah penduduk sekitar 416.209 jiwa.Sebagai kabupaten yang berbasis pertanian, Kabupaten Kulon Progo mempunyai luas sawah irigasi teknis 7.464 Ha, irigasi ½ teknis 663 Ha, irigasi sederhana 2.300 Ha, tadah hujan 793 Ha, dan budidaya lahan kering 28.124,16 Ha, serta lahan pesisir 1.541 Ha.Pada tahun 2013 produksi padi mencapai 114.702 ton, dengan luas panen 17.614 Ha dgn produktivitas 63,59 kuintal/ha. Sedangkan produksi padi gogo 2.695 ton dengan luas panen 788 Ha dan produktivitas 34,20 kuintal/ha. Konsumsi beras tahun 2013 dgn asumsi 79,2 kg/kapita/th dgn jumlah penduduk 479.189 jiwa adalah 38.805 ton, sedangkan produksi beras adalah 71.124 ton sehingga masih terjadi surplus 34.032 ton.Produksi bahan pangan lainnya adalah Jagung 27.456 ton dengan luas panen 499 Ha, Kedelai 3.874 ton dgn luas panen 2.702 Ha, Ubi Jalar 381 ton dengan luas panen 39 Ha, Kacangtanah 1.324 ton dengan luas panen 1.155 Ha dan Kacanghijau 80 ton dengan luas panen 146 Ha, serta Ubikayu 45.793 ton dengan luas panen 2.968 Ha.Sejalan dengan Visi Bupati Kulon Progo 2011 - 2016, yaitu Terwujudnya Kabupaten Kulon Progo yang sehat, mandiri, berprestasi, adil, aman dan sejahtera berdasarkan iman dan taqwa maka pembangunan ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas yang harus dilaksanakan dengan semboyan "Madep Mantep Mangan Pangane Dewe" dan "Madep Mantep Ngombe Banyune Dewe". Dalam rangka mewujudkan Madep Mantep Mangan Pangane Dewe, Bupati Kulon Progo mengangkat janji yang dikenal dengan Janji A-Tri Tedo yang isinya tidak makan nasi selama masih ada rakyat miskin, tidak makan buah kecuali buah lokal, dan tidak minum gula kecuali gula kulon progo. Janji A-Tri Tedo tersebut sebagai bentuk implementasi Peraturan Bupati Nomor 1 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Pangan Lokal dan semangat Bela dan Beli Kulon Progo.Dalam upaya membangun ketahanan pangan dan kesejahteraan petani maka Bupati Kulon Progo telah merintis RASKIN menjadi RASDA dengan ditandatanganinya MoU antara Perum Bulog dengan Pemerintah Kab. Kulon Progo Nomor 501/7496 dan MOU-01/12000/XII/2013 tanggal 30 Desember 2013, dimana pengadaan beras daerah dilakukan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari beras asli Kulon Progo.Upaya lainnya yang dilakukan pemerintah daerah dalam pembangunan ketahanan pangan, Bupati Kulon Progo telah melaunching Padi Menor atau Padi Melati Menoreh yang saat ini dalam proses pengusulan untuk menjadi padi varietas unggul nasional. Padi Menor merupakan plasma nuftah asli Kabupaten Kulon Progo dengan potensi produksi relatif tinggi 8,24 ton/ha GKP dan secara agroklimat cocok untuk dibudidayakan di Kulon Progo. Beras Menor mempunyai keunggulan wangi, pulen dan rasanya enak. Beras Menor diproduksi untuk beras premium.Dalam rangka mendukung peningkatan ketahanan pangan, sampai tahun 2016 dilakukan cetak sawah baru sekitar 350 ha, sedangkan target cetak sawah baru berdasarkan potensi yang ada seluas 427 ha yang tersebar di wilayah Kecamatan Nanggulan, Sentolo dan Pengasih. Cetak sawah baru tersebut didukung dengan kegiatan Jalan Usaha Tani, Jitut dan Jides.Pembangunan cetak sawah baru tersebut didukung pembangunan Waduk Mini diarahkan bagi pemenuhan air irigasi melalui teknologi panen air hujan (rain water harvesting) menggunakan teknologi Geo Membrane. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo telah membangun 2 (dua) waduk mini di Desa Banjaroyo Kecamatan Kalibawang dengan kapasitas tampung air sebanyak 8.000 - 10.000 m3 dan di Desa Giripurwo Kecamatan Girimulyo dengan kapasitas tampung air sebanyak 8.000 m3. Pengamanan terhadap ketersediaan produksi pangan juga didukung pembangunan jalan pertanian tahun 2011 sepanjang 46.170 m, tahun 2012 80.253 m dan tahun 2013 80.253 m atau mengalami peningkatan sebesar 73,82%. Demikian pula pembangunan jaringan irigasi sampai tahun 2013 mengalami peningkatan 34,51%.Dukungan lainnya adalah pengadaan alat mesin pertanian budidaya sampai tahun 2013 juga mengalami kenaikan 3,96% meskipun peningkatannya relative kecil. Pengadaan alat mesin pertanian pasca panen/pengolahan sampai tahun 2013 juga mengalami kenaikan sebesar 10,23% dibanding tahun 2011.Ketersediaan protein di Kabupaten Kulo Progo didukung dengan pengembangan kolam ikan, pada tahun 2013 luas kolam tradisional sebesar 11,3173 ha, kolam semi modern/semi permanen 28,2934 Ha, dan kolam modern/permanen 16,9760 hektar. Pemanfaatan kolam pada umumnya untuk usaha budidaya ikan lele, gurameh, nila, tawes dan mujair. Demikian pula dengan pembangunan tambak, luas tambak dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, tahun 2011 hanya 8,61 ha tahun 2012 13,40 ha dan tahun 2013 seluas 45,59 ha dan pada umumnya tambak digunakan untuk budidaya udang Paname.Ketersediaan pangan organic dikembangkan pemupukan menggunkan pupuk organic baik pabrikan maupun UPPO, penyaluran pupuk organic (UPPO) mengalami peningkatan sebesar 15,22% dari 4.600 ton tahun 2011 meningkat menjadi 4.990 ton tahun 2012 dan 5.300 ton tahun 2013.Penyediaan benih padi oleh kelompok penangkar benih padi dari tahun 2011 - 2013 mengalami peningkatan 125% sedangkan kemampuan penyediaan benih mengalami peningkatan 170%. Penyediaan benih padi dari kelompok penangkar terhadap kebutuhan benih padi tahun 2011 - 2013 juga mengalami peningkatan 172%. Kebutuhan Benih Jagung, Hortikultura dipenuhi Benih Pabrikan, sedangkan Benih Kedelai dipenuhi dengan Sistem Jabal (Jaringan Benih antar Lapang).Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan telah mengembangkan bibit durian dari pohon Induk Durian Menoreh Kuning Varietas Unggul Berdasarkan SK Mentan No. 316/KPTS/SR.120/5/2007 yang ada di Kalibawang.Sedangkan dalam mewujudkan Madep Mantep Ngombe Banyune Dewe, telah diproduksi air mineral Kulon Progo oleh PDAM Tirto Binangun untuk penyediaan air minum kemasan "Air-Ku" yang telah lolos sertifikasi SNI: 01-3553-2006, standar mutu ISO 9001:2008 dengan kapasitas produksi 2.400 gelas perjam.Upaya lainnya yang dilakukan dalam rangka pembangunan ketahanan pangan adalah fasilitasi Lembaga Akses Pangan Masyarakat (LAPM) bagi gapoktan di wilayah desa rawan pangan. Fasilitasi LAPM tersebut bertujuan untuk mendekatkan akses pangan masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau / lebih murah dari harga pasar sehingga dapat diakses oleh masyarakat yang tergolong Pra-KS. Sampai saat ini sudah dilaksanakan pada 21 desa rawan pangan melalui kegiatan LAPM tersebut, dimana setiap gapoktan diberikan bansos/hibah sebesar 50-75 jt rupiah untuk akses pangan ekonomi produktif dan 25 jt rupiah untuk cadangan pangan.Sedangkan pada wilayah non rawan pangan juga dilakukan penguatan Gapoktan melalui fasilitasi Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) dalam rangka peningkatan kemampuan gapoktan di sentra produksi beras dan jagung dalam pengendalian distribusi pangan dan stabilisasi harga serta penyediaan pangan bagi petani / masyarakat di saat terjadi paceklik dan atau rawan transien.Sampai dengan tahun 2014 di Kabupaten Kulon Progo telah ditumbuhkan dan dikembangkan sejumlah 7 gapoktan yang sudah memasuki tahap pasca kemandirian, 4 gapoktan memasuki tahap kemandirian, 1 gapoktan memasuki tahap pengembangan, 1 gapoktan memasuki tahap penumbuhan dan 2 gapoktan dalam tahap pra penumbuhan. Secara keseluruhan jumlah gapoktan yang ditumbuhkan sejak pra penumbuhan sampai dengan pasca kemandirian sebanyak 15 gapoktan.Disamping itu upaya penumbuhan gapoktan melalui fasilitasi dana bergulir LDPM terus ditingkatkan dan dikembangkan dalam rangka mendorong terselenggaranya stabilisasi harga bahan pangan. Sejak adanya kegiatan Penguatan LDPM total cadangan pangan yang sudah dikelola oleh gapoktan sejumlah ± 72 ton gabah kering giling (GKG). Sedangkan cadangan pangan masyarakat di Kabupaten Kulonprogo th 2013 mencapai 870 ton atau 114% dari target cadangan pangan masyarakat sebesar 760 ton. Sedangkan Cadangan Pangan Pemerintah masih relatif kecil 4,5 ton.Peran utama Gapoktan LDPM adalah menjaga stabilisasi harga beras, bahkan Gapoktan LDPM telah mampu membeli Gabah Kering Panen berkisar Rp.3.600 - Rp.3.900 per kg jauh diatas harga yang ditetapkan Pemerintah sebesar Rp.3.300 per kg. Disisi lain Gapoktan LDPM juga telah mampu mengendalikan harga beras pasca kenaikan BBM dan menjelang lebaran/hari hari besar lainnya, beras medium ± Rp.7.700 dan beras premium ± Rp.8.200 per kg dimana di wilayah lain harga beras bisa mencapai Rp.8.000 sampai Rp.8.500 per kg.Gapoktan LDPM saat ini juga menyiapkan kebutuhan beras bagi PNS di Kulonprogo yang setiap bulannya mencapai ± 13.200 kg. Himbauan Bupati Kulon Progo nantinya seluruh PNS dapat membeli beras "SEHAT" Kulonprogo minimal 10 kg/orang setiap bulan sehingga apabila seluruh PNS di Kulonprogo membeli beras 'Sehat" Kulonprogo ada ± 90.000 kg setiap bulannya atau senilai ±Rp.693.000.000 (enam ratus sembilan puluh tiga juta rupiah) atau Rp.8.316.000.000 (delapan milyar tiga ratus enam belas juta rupiah) setiap tahun dibelanjakan di Kulonprogo dalam rangka mendukung Bela dan Beli Kulon Progo.Selain upaya yang telah dilakukan tersebut, untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya melalui kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang telah dilaksanakan pada 30 Desa dengan kegiatan pengembangan pekarangan, pengembangan kebun bibit desa dan kebun sekolah serta pengembangan menu B2SA dari hasil pekarangan. Kegiatan ini ternyata mampu meningkatkan ketersediaan pangan masyarakat, bahkan hasil kegiatan pengembangan pekarangan sebagian dijual dengan cara mengepul di tingkat kelompok. Apabila diperhitungkan paling tidak setiap rumah tangga mampu mengurangi pengeluaran untuk belanja konsumsi pangan sebesar Rp.25.000 setiap hari atau Rp. 750.000 setiap bulan, belum termasuk hasil yang dijual.Konsep yang diterapkan pada kegiatan KRPL sangat ramah lingkungan karena menggunakan pupuk organic yang dibuat sendiri dari hasil kotoran ternak, bahkan pestisida juga dibuat dari bahan-bahan alami dan tidak menggunakan pestisida pabrikan sehingga sangat ramah lingkungan dan sangat murah harganya karena semua bahan tersedia di lapangan.Kegiatan-kegiatan lainnya dalam mengatasi daerah rawan pangan adalah dengan kegiatan Desa Mandiri Pangan yang telah dilaksanakan di 13 Desa dimana masing-masing desa membentuk Tim Pangan Desa dan Lembaga Keuangan Desa. Tahun 2011 terdapat 36 Desa Rawan Pangan dan berkurang menjadi 34 desa pada tahun 2012, dan pada tahun 2013 tinggal 27 desa rawan pangan. Masih tingginya Desa Rawan Pangan bukan berarti penanganan tidak berhasil, tetapi semata-mata karena aspek akses pangan yang diukur dari angka kemiskinan yang relative masih tinggi, sedangkan pada aspek ketersediaan pangan (produksi) dan aspek pemanfaatan pangan (prevelensi gizi buruk) cukup baik/aman.Dalam rangka mendorong semangat, kreativitas dan partisipasi masyarakat serta membangun sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan, pemerintah melalui Dewan Ketahanan Pangan menyelenggarakan Desa Percontohan Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Kulonprogo, yaitu Desa Hargorejo dan Desa Pagerhajo.Mengingat pembangunan Ketahanan Pangan merupakan tugas dan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, maka diperlukan sinergitas kegiatan - kegiatan pada setiap SKPD untuk mendorong terlaksananya pembangunan ketahanan secara maksimal sesuai dengan tugas pokok masing masing SKPD.Dalam rangka mendukung kegiatan B2SA atau Beragam Bergizi Seimbang dan Aman maka setiap tahun diadakan Lomba Cipta Menu dengan berbagai resep menu makanan local non gandum, non terigu dan non beras yang diikuti oleh Tim Penggerak PKK Tk. Kecamatan yang diwakili oleh ibu-ibu KWT. Berdasarkan hasil penilaian lomba cipta menu tersebut ternyata ibu-ibu PKK / KWT mampu menyusun resep menu makanan local termasuk menghitung kalori sehingga sesuai dengan harapan B2SA. Resep menu makanan local tersebut telah diterapkan sebagai menu makanan sehari-hari khususnya pada masyarakat pedesaan sehingga masyarakat menjadi SEHAT karena kebutuhan kalori maupun protein tercukupi sesuai dengan kebutuhan minimal 2.000 kkal/kapita/hari dan protein 52 gram/kapita/hari.Berdasarkan hasil survey rumah tangga terhadap konsumsi pangan, skor Pola Pangan Harapan (PPH) di Kabupaten Kulonprogo tahun 2013 mencapai 91 naik dari tahun sebelumnya yang baru mencapai 89 dengan konsumsi energy sebesar 1.834 kkal/kapita/hari. Meskipun tingkat konsumsi energy masih dibawah konsumsi energy yang diharapkan sebesar 2.000 kkal/hari, namun angka tersebut sudah cukup baik dibanding tingkat propinsi maupun nasional. Namun disparitas PPH antar wilayah/desa memang masih lebar, wilayah pertanian skor PPH mencapai 91,3 - wilayah perikanan 86,9 dan wilayah lainnya 86,5. Untuk mengatasi disparitas tersebut maka sosialisasi B2SA ini terus menerus dilakukan kepada warga masyarakat, antara mengenai pola konsumsi pangan dan 10 pesan gizi seimbang yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan.Sedangkan berdasarkan data Neraca Bahan Makanan (NBM) Kabupaten Kulonprogo tahun 2013, ketersediaan energy kita sebesar 3.110 kkal/kapita/hari terdiri dari energy nabati 2.364 kkal/kapita/hari dan energy hewani 746 kkal/kapita/hari. Ketersediaan energy cukup aman dari target kebutuhan energy sebesar 2.200 kkal/kapita/hari. Sedangkan ketersediaan protein hewani mencapai 99,31 gr/kapita/hari dan protein nabati 46,36 gr/kapita/hr sehingga ketersediaan protein juga cukup aman dari kebutuhan actual sebesar 55 gr/kapita/hari.Sejalan dengan dinamika pemantapan ketahanan pangan maka di Kulonprogo telah diupayakan dengan mengembangkan sumber-sumber bahan pangan, kelembagaan pangan dan budaya pangan yang dimiliki pada masyarakat masing-masing wilayah/desa. Misalnya garut telah diolah menjadi tepung garut, ubi jalar menjadi criping dan brownis, gula kelapa menjadi gula semut, peyek daun pegagan dan lain-lainnya.Dalam kaitan inilah, pemerintah daerah melakukan fasilitasi produk pangan lokal bersrtifikat mulai dari budidaya, pelatihan olahan pangan industri rumah tangga, sertifikasi PIRT sampai aspek pemasaran. Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan sertifikasi produk pangan olahan tersebut untuk meningkatkan kemandirian masyarakat sebagai perwujudan dan pengembangan kapasitas masyarakat yang berlandaskan pada pemberdayaan sumberdaya manusia agar dapat memenuhi hak dan kewajibannya sesuai status dan peranannya dalam pembangunan ketahanan pangan.Kegiatan lain dalam rangka pemberdayaan rakyat khususnya bagi warga pra-ks adalah Bedah Rumah Swadaya Berbantuan, pada tahun 2012 rumah tinggal layak huni yang diperbaiki sebayak 661 unit, sedangkan tahun 2013 sebanyak 1.235 unit dengan dana swadaya berbantuan 89 unit, bantuan APBD 365 unit dab bantuan pemerintah 781 unit.Dalam rangka Pengelolaan Zakat Infak Shodaqoh/Dana Persembahan, penerimaan zakat, infaq, shodaqoh dari PNS Muslim tahun 2012 sebesar Rp. 1.437.407.783,- dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi Rp. 3.222.546.600,-. Pentasyarufan dilaporkan secara transparan dan berkala setiap Safari Jum'at dan melalui media Buletin Menoreh yang terbit setiap bulan. Demikian pula penerimaan dana persembahan dari PNS Kristiani ahun 2012 sebesar Rp. 31.805.086,- pada tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi Rp. 109.027.943,-.Bupati Kulon Progo juga mencanangkan Program Desa Binaan Menuju Desa Bebas Kemiskinan "One Village One Sister Company" yang di launching pada 7 November 2012. Prioritas utama program pada pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin dalam satu wilayah desa. Bantuan ini diberikan langsung oleh perusahaan kepada masyarakat desa, dan sampai saat ini sebanyak 22 perusahaan telah menyanggupi bantuan kepada 30 desa.Dalam rangka membangun koperasi dan kelompok usaha bagi masyarakat miskin, maka Bupati Kulon Progo mendorong adanya sentra kulakan dimana sebanyak mungkin rakyat sbg pelaku dan menguasai produksi yang diberi nama 'Senkudaya". Sentra Kulakan Warung Pemberdayaan Keluarga membuka jejaring warung - warung kecil di desa-desa dengan pemilik warung kecil khusus keluarga miskin.Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) dilakukan melalui Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang memiliki 4 bidang kegiatan: Kesehatan dan KB, Pendidikan, Kewirausahaan dan Sosial dan Lingkungan. KAKB pada Posdaya pedukuhan beranggotakan 11 orang, terdiri 4 orang sejahtera, 6 orang pra sejahtera dan 1 orang miskin absolut. Pada tahun 2012 Posdaya telah terbentuk 253 KAKB yang memiliki 130 KAKB Warung dan 86 KAKB Ekonomi Produktif. Pada bulan Agustus 2012 didirikan Sentra Perkulakan Posdaya (Senkudaya) dan telah telah melayani 78 KAKB Warung.Demikian pula Bupati Kulon Progo juga mencanangkan Tomira atau Toko milik rakyat yang merupakan kolaborasi antara Mart dengan pengusaha local sehingga barang-barang produksi local dapat dijual di Tomira tersebut.Bupati Kulon Progo juga mencanangkan Gerakan Orangtua / Bapak Asuh bagi PNS dalam pendampingan KK Miskin dimana masing-masing PNS mendampingi 4 KK Miskin. Gerakan ini sebagai bentuk kepekaan sosial PNS kepada masyarakat dalam rangka mempercepat pengentasan kemiskinan di Kabupaten Kulon Progo. Progam Padat Karya tahun 2011 - 2013 dengan alokasi dana APBD Rp. 15.086.952.400,00 mampu menyerap dana swadaya masyarakat sebesar Rp. 3.654.629.000,00 dengan panjang jalan 99.600 meter.Kegiatan gotong royong juga telah dihidupkan kembali untuk pembangunan dan perbaikan jalan dengan semboyan "Gentong Rembes"Bupati Kulon Progo juga telah mencanangkan kembali melalui Jamkesda untuk biaya berobat ditanggung Pemerintah Daerah. Di bidang pertambangan, di Kulon Progo saat mulai dikembangkan industry batu andesit dengan nilai ekonomi tinggi. Lokasi batu andesit tesebar di wilayah Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Pengasih, dan Kalibawang. Potensi Andesit massif, boulder, bongkah sebanyak 1.029.334.383 ton, sedangkan potensi Andesit lembaran, lempeng 5.804.756 ton. Penggunaan batu andesit dimulai dengan kegiatan pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah, antara lain untuk trotoar dan taman perkotaan.Pemerintah Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2014 melalui Dinas Pendidikan juga melaksanakan Beasiswa Siswa Miskin SMP/Sederajat baik melalui APBN maupun APBD Murni sebanyak 4.600 siswa dengan dana Rp.1.808.000.000,00 dan Beasiswa Siswa Miskin SMA/Sederajat sebanyak 15.946 siswa.Demikianlah apa yang telah dikerjakan Bupati Kulon Progo dalam rangka membangun Kulon Progo demi terwujudnya Kabupaten Kulon Progo yang sehat, mandiri, berprestasi, adil, aman dan sejahtera berdasarkan iman dan taqwa. admin THL TB PP KP4K Kab.Kulon Progo