Pertengahan Juli 2016, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Bidang Ketenagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang mempuyai tugas dan fungsi meningkatkan kompetensi penyuluh, telah menyelenggarakan Pelatihan Teknis Budidaya Pertanian bagi Penyuluh Pertanan Swadaya (PPS) Rayon III Sedaratan Timor, Alor, Rote, dan Sabu. Kegiatan dilaksanakan di Hotel Livero - Kefamenanu Kabupaten TTU tepatnya tanggal 13-15 Juli 2016 yang dihadiri oleh 34 penyuluh pertanian swadaya dari 7 Kabupaten. Pertemuan dimulai dengan acara pembukaan yang dibuka oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT (Drs. Hadji Husien) didampingi oleh Sekretaris Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kabupaten TTU (Yoseph Kefi, SP). Pemateri adalah Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT dengan materi "Kebijakan Penyuluhan Tahun 2016", Kabid Ketenagaan P3K Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT dengan judul "Budidaya Pertanian Organik" dan Sekretaris Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kabupaten TTU berjudul "Budidaya Tomat".Pertemuan dengan salah satu agenda dinamika kelompok. Dimulai dari masing-masing peserta. Banyak hal yang diperoleh sebagai bahan pembelajaran. Dari aspek umur sangat variasi PPS yang mengikuti acara pelatihan ini berumur 23 tahun yang baru tamat sekolah dan paling senior 63 tahun. Dari aspek pendidikan mulai dari SMA sampai S2. PPS sedaratan Timor, Alor, Rote dan Sabu mempunyai tujuan sangat menarik diperoleh ketika dinamika kelompok dimana masing-masing berbagi melalui pengalaman selama ini. Tujuan antara lain; membagi ilmu pengetahuan, memberi contoh kepada orang lain, bersama petani meningkatkan produksi, petani belajar dari petani, mengabdikan diri untuk sesama petani. Setiap PPS mempunyai motto yang sangat menarik antara lain; "dimana mereka susah kita susah, dimana mereka senang kita senang" dan lainnya "membangun para petani maju dan mandiri". Dari motto ini memberi mereka semangat yang tak kunjung padam. Suatu nilai lebih yang dimilki oleh PPS yang mau mengabdi untuk kelompok atau kelompok lain. PPS yang hadir mempunyai usaha yang beragam yaitu budidaya padi, hortikultura, pakan ternak. Inspirasi peserta berbeda-beda berdasarkan pengalaman dan penelitian yang dilakukan oleh petani sendiri. Seorang PPS asal Kabupaten Kupang (Benyamin Kanu) membagi pengalaman kalau usaha bawang merah 3,5 ha hasil produksi per ha 14,5 ton dengan harga jual Rp.31.000/kg, mencapai keuntungan yang signifikan. Disamping itu juga mengusahakan budidaya padi dengan mempekerjakan 26 tenaga kerja dengan memberikan gaji bulan ditambah hitungan pendapatan saat panen. PPS asal Rote (Salmun Besi) mengusahakan tanaman padi 5 ha tanpa curah hujan dan irigasi. Disamping itu juga menanam semangka dengan terinspirasi saat membaca koran pembungkus kain pada waktu membeli bahan pakaian di toko kain. Diakhir pertemuan PPS membuat pernyataan kalau hidup sehat dimulai dari pengusahaan tanaman. Pertanian organik telah disadari oleh PPS yang sudah melaksanakan budidaya organik untuk tanaman hortikultura namun untuk tanaman padi belum semua daerah melaksanakannya. Demikian ungkapan hati dari PPS yang hadir dalam pertemuan ini. Penulis : Henderina S. Laiskodat, Bidang Ketenagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan pada Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Provinsi NTT