Pada saat ini ketersediaan tenaga kerja dalam pengelolaan di bidang pertanian semakin terbatas. Keterbatasan ini baik mulai dari penyiapan lahan pengolahan tanah, pemeliharaan tanaman, panen, penanganan pasca panen, maupun pengolahan hasil. Untuk mengatasi kondisi tersebut maka penting memanfaatkan peralatan dan mesin di bidang pertanian, agar tenaga kerja orang semakin efektif. Terkait dengan ketenagakerjaan, mekanisasi pertanian dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Mekanisasi dalam arti penggunaan alat mesin pertanian antara lain mengatasi masalah berkurangnya tenaga kerja perdesaan terutama ketika terjadi panen raya, pengolahan dan tanam serempak, dapat berkerja cepat dan tepat waktu, meningkatkan efisiensi dan efektivitas, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, pengolahan tanah yang lebih baik dan meningkatkan produktivitas lahan serta mengurangi beban kerja petani. Pengembangan mekanisasi pertanian di Indonesia dilakukan melalui akselerasi bantuan alsintan berkaitan dengan Upaya Khusus (Upsus) padi, jagung dan kedelai (Pajale) sejak tahun 2015. Bantuan alsintan prapanen yang telah disalurkan adalah traktor roda dua, pompa air, rice transplanter dan traktor roda empat untuk tanaman pangan. Dukungan penyediaan alat dan mesin pertanian diharapkan dapat mengatasi permasalahan substantif keterbatasan dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian.Salah satu Desa penerima bantuan Rice Transplanter atau alat tanam indo jarwo ini yaitu Desa Segong Kecamatan Karangkancana Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Dengan adanya alat tanam, petani dapat terbantu secara waktu, tenaga dan biaya. Namun disamping itu, para petani masih perlu bimbingan agar alat tanam itu digunakan dengan baik, karena Rice Transplanter (Indo Jarwo Transplanter) merupakan alat tanam padi yang masih baru penggunaannya bagi petani di Desa Segong Kecamatan Karangkancana.Alat transplanter ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kerja untuk melakukan penanaman benih padi di lahan sawah. Dengan hadirnya teknologi ini diharapkan dapat mempercepat laju peningkatan produksi padi untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk yang kian meningkat, sehingga kebutuhan akan pangan dapat terpenuhi bagi masyarakat kita. Keunggulan IndoJarwo Transplanter diantaranya (1) mendukung sistem jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam antar barisnya 20 cm, jarak tanam legowo 40 cm (2) kapasitas tanam cukup tinggi 6-7 jam/ha, (3) jarak tanam dalam barisan dapat diatur, (4) tingkat kedalaman tanam yang dapat diatur, (5) jarak dan kedalaman tanam seragam sehingga pertumbuhan dapat optimal dan seragam.Walaupun ada beberapa hal yang menjadi unggulan Indo Jarwo Rice Transplanter juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain : (1) lebar antar barisan tidak dapat diubah, (2) tidak bisa dioperasikan pada kedalaman sawah lebih dari 40 cm, (3) diperlukan alat angkut untuk membawa mesin ke sawah atau ketempat lain, (4) perlu bibit dengan persyaratan khusus dan (5) harga masih relatif mahal sehingga tidak terjangkau petani. Di sisi lain tak semua lahan dapat menggunakan alat ini dikarenakan sebagian lahan di Desa Segong merupakan jenis sawah terasering dengan luasan kecil,sehingga alat tidak dapat digunakan dengan baik. Selain itu dampak kurang baik dari alat tanam tersebut adalah tenaga manusia yang biasa untuk menanam kurang diberdayakan serta jumlah bibit perlubang tanam sekitar 6-7 bibit perlubang, sehingga mengakibatkan jumlah kebutuhan bibit lebih banyak daripada menggunakan cara tanam manual yang selama ini telah dilakukan.Dengan beberapa permasalahan yang muncul dalam penggunaan alat ini diharapkan kedepannya dapat ditemukan solusi dan modifikasi alat sehingga menjadi lebih baik dan efisien. Proses difusi inovasi yang terjadi pada inovasi Rice Transplanter merupakan sebuah inovasi yang diharapkan oleh Pemerintah dapat meningkatkan taraf hidup petani, meningkatkan kapasitas produksi pertanian, serta efisien dalam hal tenaga, waktu dan biaya. Penulis : Yono Suryana (PPL Desa Segong)