Untuk memenuhi kebutuhan jagung perlu adanya peningkatan produksi dengan cara meningkatan produktivitas lahan,melihat potensi pengembangan jagung di lahan kering dinilai masih bisa ditingkatkan Hal ini dapat ditempuh melalui pengembangan teknologi produksi seperti penggunaan varietas unggul, pengolahan tanah sempurna, pemupukan, pengendalian hama penyakit terpadu serta penanganan panen dan pasca panennya.Menanam jagung dilahan kering mempunyai karakteristik yaitu curah hujan yang sedikit dan tidak merata sehingga sering sekali terjadi gagal panen akibat kekurangan air. Sebagian besar lahan penanaman jagung di Indonesia berupa lahan kering. Masalah utama penanaman jagung di lahan kering adalah kebutuhan air sepenuhnya tergantung pada curah hujan. Masalah lainnya adalah bervariasinya kesuburan lahan dan adaya erosi yang mengakibatkan penurunan kesuburan lahan. Dengan kondisi seperti itu maka penanaman jagung di lahan kering harus memerlukan penanganan lebih bijaksana yang meliputi hal-hal berikut: 1. Varietas yang Sesuai Berdasarkan ketinggian tempat penanaman dapat dianjurkan penggunaan varietas-varietas yang sesuai. Untuk dataran rendah dapat digunakan jagung berumur dalam atau sedang Sementara untuk dataran tinggi dapat dipilih berumur dalam 2. Pola Tanam Anjuran pola tanam jagung didasarkan pada kondisi iklim lokasi penanaman. Pola tanam jagung dapat berupa sistem tanam tunggal, ganda, atau tumpang sari dengan tanaman padi gogo, ubi kayu, kedelai, kacang tanah, atau tanaman kacang-kacangan lainnya 3. Penyiapan Lahan Salah satu kegiatan penyiapan lahan untuk tanaman jagung adalah pengolahan tanah. Pengolahan tanah bertujuan untuk mengemburkan tanah, memperbaiki drainase, dan mematikan bibit penyakit4. Penanaman Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman jagung adalah waktu tanam, jarak dan populasi, serta cara penanaman. 1. Waktu tanam Umumnya usaha budi daya jagung di lahan kering maksimum hanya dilakukan dua kali penanaman. Hal ini terutama berkaitan dengan kebutuhan air pada awal pertumbuhan tanaman. Waktu tanam yang umum dilakukan adalah awal musim hujan (labuhan) antara September-November dan awal musim kemarau (marengan) antara Februari-April. 2. Jarak tanam dan populasi tanaman Penerapan jarak tanam tergantung varietas yang digunakan. Berikut jarak tanam dan populasi tanmaan per hektar dari beberapa varietas jagung yang dapat ditanam di lahan kering. 3. Cara penanaman Penanaman jagung dilakukan deangan cara penugalan. Kedalaman lubang tanam tergantung kelembapan tanah. Kedalaman lubang tanam pada tanah lembap dalam sedalam 2,5 cm, sedangkan pada tanah cukup kering dapat sedalam 5 cm. Jumlah benih untuk setiap ranam dapat sebanyak 2-3 biji untuk varietas nonhibrida, sedangkan varietas hibrida dapat sebanyak 1 biji (kecuali benih hibrida varietas CPI-1, Pioneer, dan IPB-4 dapat sebanyak 2 biji/lubang tanam). 5. Pemupukan Pada upaya peningkatan produksi jagung, pemupukan merupakan hal penting dan harus diperhatikan. Adapun hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah jenis, dosis, waktu, dan cara pemupukan. 1. Jenis dan dosis pemupukan Jenis pupuk yang diberikan pada jagung adalah pupuk organik dan pupuk organik. Pupuk organik berupa pupuk kandang yang diberikan pada lahan kurang subur. Dosisnya sekitar 5-10 ton/ha. pupuk untuk jagung hibrida sedikit berbeda dengan jagung nonhibrida. Untuk jagung hibrida, per hektarnya dibutuhkan urea 300 kg, NPK 300kg dan Organik 500kg/ha 2. Waktu dan jumlah pemupukan Pupuk kandang diberian seluruhnya saat pengolahan tanah, sedangkan pupuk anorganik diberikan sebagai pupuk dasar atau pupuk susulan. Pupuk N diberikan dua kali, yaitu saat tanam dan 4 minggu setelah tanam. Untuk tanah-tanah bertekstur ringan dan dengan curah hujan tinggi, pupuk N diberikan sebanyak tiga kali. 3. Cara pemupukan Pemberian pupuk kandang dilakukan dengan cara disebar dan diratakan bersamaan dengan pengolahan tanah. Sementara pemberian pupuk dasar berupa urea, TSP, dan KCl dilakukan dengan cara ditugal sedalam 10 cm sekitar 7 cm di kiri dan kanan tanaman 6. Penyulaman dan Penjarangan Penyulaman dilakukan jika ada benih yang rusak atau tidak tumbuh. Kegiatan ini dilakuan sekitar 7-10 hari setelah tanam. Kegiatan penyulaman dilakukan agar jumlah tanman per satuan luas akan tetap optimum sehingga target produksi akan tetap tercapai. Penjarangan dapat dilakukan 2-3 minggu setelah penanaman. Caranya dengan memotong batang tanaman menggunakan gunting atau pisau tajam. Tanaman yang disisakan berupa tanaman yang pertumbuhannya sehat, kokoh, dan vigor. Walaupun dilakukan penjarangan, jumlah tanaman yang harus disisakan tetap sesuai dengan rencana jumlah tanaman optimal setiap hektarnya. 7. Penyiangan Penyiangan merupakan upaya pengendalian atau pengurangan gulma yang tumbuh di areal penanaman. Kehadiran gulma perlu diberantas karena cdapat menurunkan kualitas dan kualitas hasil produksi. Penyiangan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu manual dan kimia. Penyiangan secara manual dilakukan dengan tangan, cangkul, atau alat lain, sedangkan secara kimia dilakukan dengan menggunakan herbisida. 8. Pembumbunan Pembumbunan bertujuan untuk menutup akar yang terbuka dan membuat pertumbuhan tanaman menjadi tegak atau kokoh. Pembumbunan dilakuan dengan cara menaikkan atau menimbunkan tanah pada pokok tanaman. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama.Ditulis oleh : I Made Agus Satriawibawa, SP Sumber : 1) Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Jagung Tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian;