2. Masa Birahi dan Waktu KawinMengawankan kambing untuk mendapatkan keturunannya maka kambing betinanya harus ada dalam keadaan birahi. Induk betina tidak akan mau dikawini jika tidak sedang birahi. Siklus birahi betina terjadi antara 17 hingga 21 hari sekali. Lamanya waktu birahi pada kambing betina adalah 24-36 jam atau 2-3 hari.Kambing betina tidak akan bunting bila dikawinkan dalam keadaan tidak sedang birahi. Kambing betina yang sedang birahi menunjukkan tanda sebagai berikut: menjadi gelisah, tidak tenang, sering mengibas-ngibaskan ekor dan selalu mengembik ; nafsu makan dan minum menurun; sering kencing ; selalu hendak keluar dari kandang dan mencari kawan ; jika bertemu kawan itu maka ia mendesak padanya, mencium dan menjilati. Selain tanda dapat terlihat dari organ/alat kemaluannya menjadi agak bengkak dan selaput kulit di dalamnya menjadi kemerahan. Sewaktu-waktu keluarlah lendir yang agak kental dari kemaluan itu. Sebentar ia membuang air kencing sedikit. Setelah itu bibir kemaluannya terbuka dan menutup berganti untuk beberapa waktu lamanya.Selanjutnya induk sebaiknya dikawinkan 18 – 20 jam setelah muncul tanda-tanda birahi. Induk dikawinkan dengan cara ditempatkan dalam satu kandang dengan kambing jantan atau induk dan pejantan dilepaskan di tempat terbuka. Dalam mengawinkan sebaiknya dihindari induk dan pejantan berasal dari satu garis keturunan karena dapat menghasilkan anakan cacat dan tidak sehat. Berbeda dengan induk, pejantan bisa dikawinkan kapan saja asalkan dalam kondisi sehat dan prima. Namun untuk menjaga fertilitas atau kesuburan sel sperma, sebaiknya pejantan tidak dikawinkan setiap hari, minimal diberi jarak tiga hari. Kambing pejantan bisa dikawinkan sesekali mulai umur 10 bulan tetapi tidak dibiarkan melayani lebih dari 20 ekor induk betina sebelum umurnya genap satu tahun. Dalam tenggang waktu dua bulan itu, kambing jantan hanya kawin 16 – 20 kali saja atau maksimal dua kali kawin dalam seminggu. Pejantan dapat digunakan sebagai pemacek sampai umur 7 – 8 tahun. Berikut waktu-waktu saat mengawinkan betina yang tepat : • Pagi HariWaktu Birahi : Pagi hari sampai pukul 10.00.Saat Kawin Yang Baik : Siang itu juga sampai pukul 5.00 pagi.Saat Kawin Yang Kurang Baik : Mulai pukul 06.00 pagi dan seterusnya.• Siang HariWaktu Birahi : Siang hari sampai pukul 15.00.Saat Kawin Yang Baik : Malam hari itu juga sampai pukul 9.00.Saat Kawin Yang Kurang Baik : Mulai pukul 10.00 dan seterusnya.• Malam HariWaktu Birahi : Sore atau malam hari.Saat Kawin Yang Baik : Malam hari itu juga sampai besok sore pukul 15.00.Saat Kawin Yang Kurang Baik : Mulai pukul 16.00 dan seterusnya.Lama birahi ternak kambing antara 25-30 jam, rata-rata 27 jam. Saat perkawinan terbaik berlangsung selama 18-20 jam setelah kemunculan birahi terlihat.3. Tempat PerkawinanPerkawinan di Tempat Terbuka. Perkawinan berlangsung di padang gembalaan atau tempat terbuka. Perkawinan dilakukan dengan melepaskan induk kambing pejantan ke dekat sekelompok induk kambing betina sepanjang waktu. Perbandinganny, satu ekor induk pejantan untuk 20-25 ekor induk betina.Perkawinan di Kandang. Perkawinan yang paling baik berlangsung di dalam kandang dan diatur. Pejantan jangan sampai kawin dua kali dalam seminggu. Dengan cara ini, seekor pejantan dapat melayani induk betina sampai 100 ekor dalam jangka waktu dua tahun. Induk betina tak akan mau dikawinkan bila tidak dalam keadaan birah. Masa birahi kambing betina berlangsung antara 24 – 36 jam. Dalam satu kali kawin biasanya sudah cukup untuk menghasilkan keturunan. Tetapi untuk lebih meyakinkan, kambing betina dapat dikawinkan ulang setelah 6 – 12 jam sesudah perkawinan pertama. Kambing betina yang sudah dikawinkan sebanyak tiga kali dalam masa subur tetapi belum juga bunting, sebaiknya diafkir untuk ternak potong. D. Masa Bunting, Beranak dan MenyusuiBila perkawinan berhasil, induk akan menunjukan tanda-tanda kebuntingan sekitar tiga minggu setelah kawin. Tanda-tanda induk telah bunting antara lain perilakunya lebih tenang, birahi pada siklus berikutnya tidak muncul, tidak suka di dekati pejantan serta sering menggesek-gesekan tubuhnya ke dinding kandang.Kondisi fisik berubah dimana perut sebelah kanan membesar, ambing tampak menurun. Induk yang bunting dipisahkan dari kelompoknya dalam ruangan tersendiri yang telah diberi alas jerami atau rumput kering yang berfungsi untuk memberikan rasa empuk dan hangat. Masa bunting kambing berlangsung 144 – 152 hari atau sekitar lima bulan. Induk yang akan melahirkan juga menunjukan tanda-tanda diantaranya gelisah, menggaruk-garuk lantai kandang, alat kelamin membengkak berwarna kemerah-merahan dan mengeluarkan lendir putih jernih, ambing membesar, ada cekungan dekat pinggang dan disekitar ekor, puting susu terisi penuh serta mengeluarkan cairan susu kolostrum bila dipencet. Proses kelahiran akan berjalan lancar bila kondisi tubuh kambing sehat dan tidak terlalu gemuk. Umumnya anak segera lahir setelah induk yang merejen selama sekitar 15 menit. Bila proses kelahiran anak ternyata sulit, sebiaknya pengeluaran anak segera dibantu. Selanjutnya agar perkawinan kambing sesuai dengan waktunya, baik waktu kelahiran, penyapihan serta perkawinan kembali, sebaiknya dibuat kalender perkawinan.Setelah melahirkan, induk kambing dibirkan menjilati tubuh anaknya samapi bulunya kering. Setelah 3 – 6 jam dilahirkan, anak kambing sudah dapat berdiri seniri. Anak kambing akan segera menyusu pada ambing induknya untuk memperoleh kolostrum. Kolostrum merupakan susu pertama yang mengandung zat antibodi. Hingga tiga hari setelah beranak induk akan menghasilkan susu kolostrum. Jika hingga empat jam setelah lahir anak kambing tidak mau menyusu pada induknya, harus segera diberi susu pengganti kolostrum.Susu pengganti kolostrum dibuat dari campuran 0,5 liter susu sapi atau susu bubuk instan, 1 sendok teh gula pasir, 1 sekdok teh minyak ikan dan 1 butir telur ayam. Susu pengganti kolostrum tersebut diberikan dengan bantuan dot atau botol minum bayi. Susu ini diberikan 2 hingga 3 kali sehari hingga anak kambing mau menyusui pada induknya. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM . Sumber : Kaleka, Norbertus. Beternak Kambing Tanpa : Bau, Angon, dan Ngarit, 2013 ; Mulyono, Subangkit. Penggemukan Kambing Potong, 2007)