Loading...

MENGENAL BALAI PENYULUHAN KECAMATAN (BPK) KECAMATAN KERTANEGARA KABUPATEN PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH

MENGENAL BALAI PENYULUHAN KECAMATAN (BPK) KECAMATAN KERTANEGARA KABUPATEN PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH
Kertanegara, kecamatan baru di Kabupaten Purbalingga, hasil pemekaran dari Kecamatan Karanganyar ini menyimpan kekayaan sumber daya pertanian. Tangan-tangan petani yang ulet dan terampil dalam budidaya pertanian, telah mengangkat ketenaran Kertanegara sebagai penghasil padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, manggis, duku, dan durian. Buah manggis asal Kertanegara laris manis diborong oleh para pedagang berskala pasar nasional maupun internasional.Melampaui jejak si manggis, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mugi Berkah dari Desa Adiarsa, Kertanegara, melangkah gagah hingga meraih gelar Juara Nasional pada tahun 2011. Kesuksesan Gapoktan Mugi Berkah tak lepas dari peran aktif delapan kelompok tani yang menopangnya, juga kerja sama dengan perangkat pemerintah serta para penyuluh pertanian yang selalu mendukung kemajuan masyarakat tani. Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) Kertanegara yang dimotori oleh Kisno, SP, menunjukkan keseriusan komitmennya untuk membangun pertanian, perikanan, dan kehutanan di Kertanegara. Para penyuluh terjun langsung mendampingi 11 gapoktan, 46 kelompok tani, 4 kelompok wanita tani, dan 1 kelompok pemuda tani. Kini hanya 8 kelompok tani yang masih tergolong kelas pemula. Tiga puluh dua kelompok tani berkelas lanjut dan enam kelompok tani sudah memasuki kelas madya.Penilaian kelas kelompok tani tersebut didasarkan pada sepuluh kriteria yang disusun sendiri oleh BPK Kertanegara. Tidak hanya diam menunggu instruksi penilaian kelas dari atas, BPK Kertanegara berinisiatif menentukan kriteria penilaian dengan merujuk kepada lima jurus dan kebijakan terbaru. Unsur-unsur yang dinilai, meliputi pertemuan kelompok, rencana kerja kelompok, aturan kelompok, catatan kelompok, kegiatan kelompok, fasilitasi kelompok, penyebaran informasi, kerja sama kelompok, permodalan kelompok, dan peningkatan produktivitas kelompok.Kriteria penilaian kelas kelompok tani yang sekaligus berfungsi sebagai indikator kinerja penyuluh itu diharapkan dapat memacu produktivitas setiap kelompok tani beserta penyuluh pendampingnya. Guna menjamin ketertiban administrasi kelompok tani, BPK Kertanegara pun membagikan paket buku administrasi dengan format yang seragam, kepada seluruh kelompok tani di wilayah binaannya.Berbagai kebijakan BPK Kertanegara ditanggapi secara positif oleh kelompok tani-kelompok tani yang bersemangat maju. Mereka rajin berkumpul dan aktif berkegiatan. Lebih-lebih saat panen raya, banyak kelompok tani yang mengundang para petinggi pemerintahan untuk turut menyaksikan FFD (Farm Field Day), bersyukur dan bergembira bersama petani. Di tingkat kecamatan, pertemuan KTNA terlaksana rutin pada tanggal 12 setiap bulan, mengambil tempat bergiliran dari desa ke desa.Pada tahun 2011 BPK Kertanegara mengelola 11 unit SL-PTT padi nonhibrida, 7 unit SL-PTT padi hibrida, 2 unit SL-PTT padi gogo, 7 unit SL-PTT jagung hibrida, 2 unit SL-PTT kacang tanah, 2 unit SL-PTT kedelai, 2 unit SL-PHT cengkih, 2 unit KBR, 1 unit UPPO SRI, 13 unit demplot koro pedang, 5 UPJA, program pengolahan hasil perikanan, program ketahanan pangan, dan program GP3K seluas 10 ha bekerja sama dengan PT SHS. Selain itu, Kertanegara menerima CBN jagung hibrida untuk lahan seluas 285 ha, serta 2 unit PUAP baru.Kisno menambahkan, "Studi banding penyuluh juga telah dilakukan ke lokasi pembuatan pelet ikan di Kemangkon, pengembangan SRI di Bakulan dan Penolih, pengembangan jambu biji dan pepaya kalina di Bukateja, dan kantor PT SHS di Sumpiuh untuk memperluas pengetahuan tentang penangkaran benih padi."Peningkatan kapasitas dan fasilitas penyuluh tentu berpengaruh terhadap kualitas penyuluhan. Penyuluh Kertanegara yang berwawasan luas, ditunjang dengan kemapanan kantor baru plus kecanggihan perangkat komputer, laptop, LCD proyektor, kamera, handycam; seharusnya mampu mengembangkan penyuluhan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Menjadi penyuluh yang aktif dan produktif adalah wujud nyata pengabdian, bukan sekadar angan-angan. Sumber : Marbowo Leksono