MENGENALTANAMAN KACANG GUDE(Cajanus cajan L.) A. PENDAHULUAN Kacang gude dibudidayakan di Indonesia sejak abad ke enam sebagai tanaman sayuran. Akan tetapi budidaya kacang gude secara luas belum pernah dilaporkan. Daerah pusat pertanaman kacang gude pada umumnya adalah di lahan kering di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan (Suwasik dan Sumarno, 1989).Kacang gude termasuk tanaman semusim dan mempunyai keunggulan di banding tanaman kacang-kacangan lainnya antara lain tahan kekeringan, tahan rebah dan polong tidak mudah pecah, akan tetapi peka terhadap hama khususnya perusak polong (Darmadjati dan Widowati, 1985; Wallis et al., 1985).Umumnnya kacang gude tidak pernah ditanam secara monokultur, pertanaman tidak dilakukan secara intensif, tetapi hanya sebagai tanaman campuran di lahan tegal, pematang sawah atau pekarangan. Kacang gude juga dapat dimanfaatkan dalam mengembangankan pola usahatani terpadu karena dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti sorgum, jagung, kacang tanah dan kapas (Bahar, 1981; Litzenberger, 1974). B. MORFOLOGI TANAMAN Kacang gude (Cajanus cajan) adalah sejenis kacang-kacangan yang bersifat tahunan. Tanaman ini relatif tahan panas dan kering sehingga cocok sebagai tanaman penghijauan kawasan kering. Gude merupakan perdu setinggi 1,5 sd. 2 m. Pada ranting tanaman ini, terdapat tangkai dengan tiga helai daun. Masing-masing helai daun berbentuk ramping, dengan pangkal dan ujung meruncing. Panjangnya 6 cm, dengan bagian paling lebar 2 cm. Warnanya hijau tua. Permukaan daun, tangkai, ranting serta kulit batang berbulu halus. Pucuk daun berwarna kecokelatan. Bunganya berbentuk kupu-kupu berwarna keunguan dan muncul dari pucuk ranting. Bijinya dapat dimakan dan menjadi sumber pangan alternatif. Buah gude berupa polong, berbentuk mirip kedelai, namun berukuran lebih besar dan lebih panjang. Permukaan kulit polong juga berbulu halus. Warna polong hijau, dan akan berubah menjadi ungu kecokelatan setelah tua. Di dalam polong terdapat biji dengan bentuk seperti kedelai, namun berukuran sedikit lebih besar. Warna kulit biji bervariasi mulai dari hijau, kuning kecokelatan, cokelat sampai ke ungu tua. Polong gude bisa dipanen dalam keadaan tua (segar), tetapi bisa pula ketika sudah benar-benar tua, dan kulitnya agak mengering. C. KANDUNGAN GIZI GUDEKandungan gizi (per 100 gr) Jumlah Energi (Kkal) 350Karbohidrat (gr) 36-65,8Serat pangan (gr) 5-9,4Lemak (gr) 1-9Protein (gr) 20,7Air (gr) 7-10,3 D. BUDIDAYA KACANG GUDE Di Gunungkidul khususnya zona selatan, gude dibudidayakan secara monokultur maupun tumpang sari. Biasanya gude ditumpangsarikan dengan jagung, padi ladang, kacang tanah, dan palawija serta sayuran lainnya. Petani juga menanam gude di pematang sawah. Gude tidak mungkin ditumpangsarikan dengan tanaman berumur setahun, dengan tajuk yang terlalu rapat. Misalnya singkong. Tanaman kacang-kacangan ini juga tidak mungkin dibudidayakan di bawah tegakan tanaman keras, misalnya albisia. Sebab gude menghendaki lahan terbuka, dengan sinar matahari penuh.Meskipun areal jagung juga rapat, namun umur tanaman ini hanya 3,5 bulan, hingga pada bulan-bulan selanjutnya gude dapat menerima sinar matahari penuh, sampai dengan saat panen pada musim kemarau. Pengolahan lahan untuk budidaya gude secara monokultur, tidak perlu sebaik pada penanaman tumpangsari. Sebab gude mampu tumbuh dengan cukup baik, di lahan-lahan marjinal. Bahkan lahan alang-alang yang dibabat serta dibakar pun, bisa ditanami gude dengan cara ditugal. Tidak lama kemudian alang-alang memang akan tumbuh, dan menutup tanaman gude yang masih muda.Namun tidak lama kemudian, tanaman gude akan meninggi, hingga mampu mengalahkan alang-alang, dalam berkompetisi merebut cahaya matahari. Penanaman gude ditanam dalam lubang yang dibuat dengan tugal. Ke dalam lubang itu dimasukkan tiga biji gude. Biji akan tumbuh pada hari keempat sampai dengan kelima. Kalau tiga biji ini tumbuh semua, tetap harus dibiarkan besar hingga kelihatan, mana tanaman yang tumbuh kerdil dan harus dibuang. Kalau tiga individu tanaman ini tumbuh sama suburnya, maka tiga-tiganya harus dipelihara. Tanaman gude juga mampu meningkatkan kesuburan lahan. Pertama-tama kesuburan lahan itu disebabkan oleh daun gude yang rontok dan hancur menjadi pupuk hijau. Kedua, akar tanaman gude juga mampu bersimbiosis dengan bekteri Rhizobium, dan membentuk bintil akar untuk menyimpan oksigen, yang ditangkap oleh daun langsung dari udara. Dalam tiap areal gude seluas satu hektar, potensi nitrogen yang bisa dikumpulkan mencapai 40 kg. Meskipun berupa terna berkayu, gude tetap tanaman semusim. Setelah dipanen, tanaman gude akan mati, hingga diperlukan penanaman baru dengan benih baru. E. MANFAAT DAN KEGUNAAN KACANG GUDEPolongnya yang masih muda dipergunakan sebagai lalap, sayur ataupun rujak. Bijinya yang sudah tua bisa digunakan sebagai obat untuk mengobati gatal-gatal. Daun kacang gude dipergunakan untuk mengobati sakit kuning, sakit pada mulut, pernafasan, dan gangguan perut. Di Jawa, daun memang dipergunakan untuk mengobati demam, dan herpes. Akar dan biji juga tak kalah berguna; akar untuk mengobati cacingan, batuk berdahak, dan luka. Sementara, bijinya dipergunakan utnuk mengobati memar.Polong yang sudah tua dapat dipergunakan untuk membuat tempe dan tahu sebagai pengganti kedelai, digoreng ataupun dipanggang.