Mengenal Varietas Padi Green Super Rice (GSR) Mampu Berdaya Hasil Tinggi pada Lahan Kurang Subur
Green Super Rice (GSR) adalah padi yang tetap mampu berdaya hasil tinggi baik pada kondisi optimum maupun ketika daya dukung lingkungan tumbuhnya (misalnya air dan hara tanah) dalam kondisi terbatas. Varietas GSR dirancang untuk memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit sehingga dapat meminimalisir aplikasi pestisida. Padi GSR ada 2 Varietas yaitu Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 GSR yang dilepas tahun 2016 oleh Balai Besar Penelitian Panaman Padi.Istilah Super menekankan pada kemampuannya memberikan hasil panen yang sangat tinggi meskipun pada kondisi input usahatani relatif rendah. Inpari 42 Agritan GSR mempunyai spesifikasi :- Umur 112 hss- Potensi hasil 10,6 t/ha- Tekstur nasi pulen- Kandungan amilosa 18,8%- Rendemen beras giling 69,4%- Ketahanan terhadap hama dan penyakit agak tahan wereng batang coklat biotipe 1, agak tahan hawar daun bakteri patotipe III, tahan blas daun ras 073, agak tahan blas daun ras 033.Sedangkan Inpari 43 Agritan GSR mempunyai spesifikasi :- Umur 111 hss- Potensi hasil 9,2 t/ha- Tekstur nasi pulen- Kandungan amilosa 19%- Rendemen beras giling 70,1%- Ketahanan terhadap hama dan penyakit tahan hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII. Tahan blas daun ras 073 dan 133, dan agak tahan blas daun ras 033.Tahun 2018, BPTP Papua mencoba varietas Inpari 43 GSR di Kabupaten Keerom. Lokasinya ada di lahan sawah kampung Jaifuri Distrik Skanto Kabupaten Keerom. Introduksi benih oleh BPTP Papua dari BB Padi Sukamandi Jawa Barat ini mampu tumbuh dengan baik, tidak ada serangan hama dan penyakit. GSR dirancang meminimalkan penggunaan pestisida. Hal ini terbukti ketika tanaman padi di sekitar lahan UPBS banyak ditemukan serangan penyakit, namun Inpari 42 dan 43 tetap tumbuh bagus dan sehat ketika padi muali masuk fase pengisian buah. Varietas Padi GSR sudah memasuki 68 hst dan direncanakan panen pada 112 hst di pertengahan bulan Januari Tahun 2018. Estimasi produksi minimal 1 ha menghasilkan 6 ton bebih bersih. Produksi padi yang diperoleh hasilnya akan diperbanyak dan digunakan sebagai benih lagi sehingga diupayakan lulus sertifikasi BPSB Provinsi Papua. Penulis : Septi Wulandari Jabatan : Penyuluh Pertanian Ahli Pertama BPTP Papua