MENGENALI GEJALA PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI DAN HAWAR PELEPAH PADA PADI SAWAH
Para petani yang sudah biasa menjalani profesi sebagai petani padi di sawah irigasi maupun tadah hujan tentunya sangat mengutamakan dan memperhatikan betul tentang serangan hama dan penyakit yang muncul atau yang akan muncul di tanamannya. Karena hama penyakit merupakan suatu ancaman yang sangat serius bagi para petani. Bila tidak diketahui secara dini maka tindakan pengendaliannya akan membutuhkan biaya pemeliharaan yang sangat tinggi. Sedangkan, bila tanaman sudah terkena serangan hama dan penyakit maka dapat mengakibatkan secara langsung menurunkan hasil produksi secara drastis, bahkan dikasus yang ekstrim para petani tidak mendapatkan hasil sama sekali atau gagal panen. Maka dari itu, masalah hama penyakit perlu diberikan pengertian pengetahuan yang lebih kepada para petani dan cara penanggulangannya. A. Hawar Daun Bakteri (HDB) Penyakit hawar daun bakteri atau yang terkenal di petani dengan sebutan “Kresek”adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Xanthomnas Oryzae pv. Bacteri ini sangat menyukai pada lingkungan yang lembab (berair) dan sangat cocok hidup di lingkungan padi sawah. Bakteri ini tergolong sulit untuk dikendalikan karena bakteri ini memiliki musuh alami yang sedikit dari bakteri baik yang berpihak bagi petani. Selain itu, dalam perkembangan ilmu hama penyakit tanaman penyebab penyakit ini masih dalam perdebatan. Ada yang berpendapat bahwa penyakit ini masuk dalam golongan jamur/fungi dan ada yang menggolongkan jenis bakteri. Akan tetapi, semakin berkembangnya penelitian, penyakit ini cenderung lebih mengarah kepada golongan bakteri. Gejala yang ditimbulkan dari serangan hawar daun/kresek ini adalah:Pada awal pertumbuhan akan terjadi daun layu kering dan mati yang dimulai dari tepi pinggir menguning dan kering lalu keseluruh helai daun hingga keseluruh batang tanaman. Bila pada kasus yang sangat parah batang padi ikut mengering (mirip gejala busuk batang) sehingga tanaman padi akan mati. Cara pengendaliannya adalah dengan kombinasi tindakan berdasarkan pengalaman petani, yaitu:Tahap 1. Semprotkan bakterisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida pada hari pertama secara merata dan basah pada tanaman.Tahap 2. Semprotkan bacterisida sistemik dengan dosis yang tinggi bila serangannya mulai mengkhawatirkan seperti jenis bahan aktif streptomicyn pada hari keduaTahap 3. Semprotkan Fungisida sitemik dengan dosis tinggi berbahan aktif Karbendazim untuk penanggulangan jamur yang berkolaborasi ikut menyerang di tanaman tersebut.Bila masih diperlukan maka lakukan ulangan ini hingga 2-3 kali. Tindakan pencegahan yaitu:1. Pemupukan pupuk kalium (potassium = K+) untuk menambah daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit (pupuk KCl, dan KNO3)2. Penanaman dengan varietas yang tahan 3. Hentikan pemakaian pupuk nitrogen dan pupuk kandang yang masih belum matang. Karena secara penelitian dan pengalaman petani akan memperparah keadaan serangan, bahkan mempercepat penyebaran penyakit tersebut hingga merusak tanaman padi secara total hingga dipastikan akan gagal panen total. B. Penyakit Hawar pelepah Penyakit Hawar pelepah adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani Kuhn yang merusak bagian pelapah daun membentuk bercak pada pelepahnya hingga naik pada helai daun. Bercak mula-mula berwarna kelabu kehijau-hijauan yang oval / elips dengan panjang diameter 1-3 cm. Pada pusat bulatan bercak berwarna putih keabu-abuan sedangkan pinggirannya berwarna coklat. Serangan hawar pelepah ini akan menyebabkan pelepah busuk hingga mengering sehingga helai daun padi akan mati total mengering. Serangan ini akan cepat menular ke pelepah daun sebelahnya. Bahkan bila kondisi yang terlalu lembab maka 1 dapur/pokok tanaman akan mengalami kering total sehingga terlihat coklat kekuning kuningan kering atau “ngelaras” (bahasa jawa). Penularan penyakit ini sangat cepat dalam area sawah yang luas sekalipun dan mengancam pertumbuhan padi serta akhirnya dapat menggagalkan panenan padi petani. Cara pengendaliannya adalah pada hari pertama pengaplikasian fungisida berbahan aktif benomyl atau difenoconazol atau mankozeb, serta fungisida sistemik berbahan aktif karbendazim. Untuk antisipasi dapat juga selang 3 hari disemprotkan bactericida berbahan aktif streptomycin atau validamycin. Ulangi 2-3 kali agar penyakit dapat ditanggulangi.(Penulis: Khoirul Anwar, SP/ Penyuluh Pertanian Kec. Abung Selatan Kab. Lampung Utara. ) Daftar pustaka:- Hama penyakit Utama tanaman Padi. BPTP Lampung. Tahun 2017 (edisi selasa,5 April 2016). - 5 cara mengatasi penyakit Hawar daun pada padi. Ilmu budidaya.com