Loading...

MENGENDALIKAN LALAT BIBIT (Agromyza phaseoli) PADA TANAMAN KEDELAI

MENGENDALIKAN LALAT BIBIT (Agromyza phaseoli)  PADA TANAMAN KEDELAI
LATAR BELAKANG Kedelai merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama untuk industri makanan seperti tahu, tempe, pakan ternak dan kebutuhan lain yang berbahan baku Kedelai. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri pemerintah mencanangkan swasembada Kedelai melalui program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Kedelai. Wilayah Sukabumi Selatan khususnya Kecamatan Surade, Kedelai merupakan salah satu komoditas unggulan. Dimana pada tahun 2019 ditanam seluas 650 ha dengan target produksi rata-rata 1,8 ton/ha. (Programa BPP Kecamatan Surade Tahun 2019). Untuk meningkatkan produktivitas usahatani perlu peningkatan kualitas sumberdaya petani sehingga terjadi peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani. Hal ini dapat ditempuh melalui penyuluhan pertanian. Ditinjau dari segi teknis, pada umumnya produktivitas usahatani tersebut masih rendah, hal tersebut dikarenakan, penggunaan benih lokal, petani belum menggunakan pupuk sesuai anjuran, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) belum sesuai anjuran terutama petani masih belum memanfaatkan jerami padi sebagai mulsa dalam mengendalikan lalat bibit. Pada umumnya petani belum memanfaatkan jerami sebagai mulsa, petani membakar jerami setelah panen karena jerami dianggap mengganggu pada saat pengolahan tanah, padahal jerami dapat bermanfaat disamping sebagai pupuk juga dapat mengendalikan lalat bibit (Agromyza phaseoli) yang dapat merugikan bagi tanaman Kedelai sebagai hama utama pada tanaman Kedelai. MASALAH Produktivitas Kedelai pada di Kecamatan Surade, masih dapat ditingkatkan. Masalah yang dihadapi petani diantaranya banyaknya serangan OPT terutama lalat bibit yang dapat menurunkan produktivitas usahatani. Hal tersebut dikarenakan para petani membakar jerami setelah panen padi karena dianggap dapat mengganggu pada saat pengolahan tanah. KAJIAN PUSTAKA Di Indonesia, lalat bibit kacang (Ophiomyia phaseoli, Diptera: Agromyzidae) merupakan salah satu hama tanaman Kedelai yang patut diperhitungkan karena kerugian yang ditimbulkan. Lalat bibit kacang merupakan hama yang paling dahulu menyerang tanaman Kedelai karena investasi dan serangannya terjadi pada tanaman berumur muda dan dapat menyebabkan kematian tanaman umur 2 - 3 minggu setelah tanam (MST). Hama ini menyerang pada kondisi lingkungan cuaca yang relatif panas, dan biasanya sumber investasi berasal dari tanaman sekitar maupun tanaman sebelumnya. Fase kritis serangan hama ini terjadi pada tanaman Kedelai umur 6 – 11 hari. Jika pada fase tersebut lalat bibit kacang meletakkan telurnya pada keping biji atau daun pertama, maka sudah dapat dipastikan bahwa tanaman akan mati pada umur 2 -3 MST. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 80%, bahkan dapat terjadi puso apabila tidak ada tindakan pengendalian. Hama ini telah menyebar hampir di seluruh provinsi dan bahkan menjadi salah satu hama utama di daerah sentra produksi Kedelai. Lalat bibit kacang menyerang tanaman Kedelai sejak pertumbuhan benih pada saat membentuk keping biji hingga tanaman umur 10 hari. Serangan lalat bibit ditandai dengan adanya bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertama atau ke dua, yang merupakan bekas tusukan alat peletakan telur lalat kacang betina (ovipositor). Lalat betina meletakkan telur pada tanaman muda yang baru tumbuh. Telur diletakkan di dalam lubang tusukan antara epidermis atas dan bawah keping biji atau disisipkan dalam jaringan mesofil dekat pangkal keping biji atau pangkal helai daun pertama dan ke dua. Telur berwarna putih seperti mutiara dan berbentuk lonjong dengan ukuran panjang 0,31 mm dan lebar 0,15 mm. Setelah dua hari, telur menetas dan keluar larva. Larva masuk ke dalam keping biji atau pangkal helai daun pertama dan ke dua, kemudian membuat lubang gerekan. Selanjutnya larva menggerek batang melalui kulit batang sampai ke pangkal batang hingga ke akar kemudian membentuk kepompong. Pada pertumbuhan penuh, panjang larva dapat mencapai 3,75 mm. Kepompong mula-mula berwarna kuning kemudian berubah menjadi kecokelat-cokelatan. Selain Kedelai, lalat kacang juga menyerang kacang hijau, kacang merah, kacang uci, kacang tunggak, kacang hiris, orok-orok, Vigna kosei, Phaseolus mungo, P. trilobus dan P. semierectus. Komponen pengendalian hama lalat bibit kacang adalah: 1) Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari; 2) Pergiliran tanaman; 3) Pemanfaatan mulsa jerami pada pola tanam Kedelai setelah padi. Pemanfaatan mulsa jerami dapat mengurangi serangan lalat kacang hingga 75%; 4) Perlakuan benih (seed treatment) dengan pestisida (carbosulfan, fipronil) dan 5) Aplikasi insektisida (thiodicarb, dekametrin, BPMC, sipemetrin) bila populasi mencapai ambang kendali yaitu 1 imago/50 rumpun pada umur 5 – 7 hari setelah tanam (HST). (MWT/RHP) Lalat bibit kacang (Ophiomya phaseoli) adalah salah satu hama penting yang sering menyerang pada tanaman Kedelai dan kacang-kacangan lainnya. Lalat ini menyerang sejak tanaman mulai muncul atau tumbuh di permukaan tanah hingga 10 hari setelahnya. Lalat yang tentu saja masuk dalam ordo diptera ini masuk dalam family Agromyzidae. Lalat betina meletakan telurnya pada tanaman muda yang baru tumbuh dipermukaan tanah. Telur tersebut biasanya diletakan dalam lubang tusukan yakni antara jaringan epidermis atas dan bawah keping biji. Telur lalat ini berwarna putih seperti mutiara dengan bentuk lonjong berukuran panjang 0,31 mm dan lebar 0,15. Telur tersebut setelah selang 2 hari dari awal peletakannya akan menetaskan dan mengeluarkan larva. Larva tersebut akan menggerek keping biji kacang yang ditanam atau ke pangkal helaian daun pertama dan ke dua. Jika gerekan dimulai dari batang, larva akan menggerek hingga pangkal batang dan kemudian bermetamorfosis menjadi kepompong. Kepompong berwarna kuning pada awalnya kemudian menjadi kecoklat-coklatan. Panjang larva dan kepompong biasanya mencapai 3,75 cm. Serangan lalat kacang dapat diidentifikasi melalui adanya bintik-bintik putih pada pangkal daun pertama atau pada keping biji yang ditanam. Bintik-bintik tersebut merupakan bekas tusukan lalat kacang betina saat meletakan telur. Serangan lalat kacang pada tanaman dapat dicegah melalui penggunaan mulsa jerami. Penggunaan mulsa jerami dimaksudkan agar lalat kacang betina kesulitan jika akan meletakan telurnya pada bibit muda. Jika dalam intensitas serangan yang tinggi yakni telah mencapai ambang batas kendali dengan kerapatan populasi sekitar 50 imago per rumpun, lalat kacang dapat dikendalikan melalui aplikasi insektisida sistemik pada saat tanaman atau bibit yang ditanam berumur 7 hari. PEMBAHASAN Salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman Kedelai adalah terjadinya serangan OPT yang dapat menimbulkan kehilangan produksi. Lalat bibit menyerang tanaman Kedelai mulai saat awal petumbuhan sehingga bila terjadi serangan dapat menimbulkan kerugian sampai 80% bahkan sampai puso. Untuk mengendalikan serangan lalat bibit ( Agromyza phaseoli ) dapat dilakukan dengan cara : Tanam serempak Tanam harus dilakukan dengan serempak maksimal beselang 10 hari dengan tanaman Kedelai yang lainnya, sehingga hama tidak terpokus pada satu blok dan populasi serangan dapat berkurang. Pergiliran Tanaman Agar serangan hama lalat bibit tidak berkembang pada tanaman berikutnya, maka perlu dilakukan pergiliran tanaman dan tidak menanam tanaman yang menjadi inang OPT lalat bibit. Tanaman inangnya adalah tanaman yang satu famili leguminose. Seed Treatment Seed treatment dilakukan dengan cara mencampur biji dengan insektida sistemik seperti marshal 10 ST, hal tersebut dilakukan agar pada saat pertumbuhan tanaman dapat terlindungi dengan insektisida. Penggunaan Mulsa Jerami Mulsa jerami dapat berfungsi sebagai pelindung dari serangan lalat bibit, karena lalat bibit menyerang Kedelai dengan meletakan telur pada pangkal batang dan larvanya menggerek bagian pangkal batang sehingga tanaman muda akan mati. Selain itu mulsa jerami dapat mengendalikan gulma karena gulma pertumbuhannya akan terhambat oleh jerami padi. Manfaat lain penggunaan mulsa jerami adalah dapat menjaga kelembaban di dalam tanah sehingga sangat bermanfaat saat penanaman pada musim kedua setelah tanaman padi. Mulsa jerami juga dapat bermanfaat sebagai pupuk organik yang dapat menggemburkan dan menyediakan nutrisi bagi tanaman. SUMBER PUSTAKA Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi, 2015 Oleh : SOPYAN, BPP KECAMATAN SURADE KABUPATEN SUKABUMI PROPINSI JAWA BARAT