Ancaman perubahan iklim yang belakangan ini terjadi dapat berakibat pada kelangkaan pasokan air untuk pertanian. Hal tersebut sangatlah meresahkan petani dan dapat menjadi ancaman yang serius, karena pada akhirnya kelangkaan air dapat menurunkan produksi dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen. Kelangkaan air semata mata bukan hanya disebabkan oleh perubahan iklim, akan tetapi bisa juga disebabkan oleh cara penggunaan air sawah yang terlalu boros. Ini karena petani kerap kali mengairi sawah mereka dengan cara menggenangi lahan secara terus menerus. Oleh karena itu, untuk meminimalisir terjadinya kelangkaan air, para ahli dan peneliti telah menemukan sebuah teknologi yang bertujuan untuk menghemat air dalam irigasi, yaitu AWD. AWD (Alternate Wetting and Drying) adalah teknologi hemat air yang dapat diterapkan petani untuk mengurangi penggunaan air irigasi di lahan sawah. Teknologi ini merupakan salah satu teknologi untuk menghemat penggunaan air tanpa mengurangi produktivitas tanaman. AWD sangat cocok untuk diterapkan pada tanaman padi. Cara menerapkan AWD di lahan sawah sangatlah mudah dan sederhana yaitu hanya dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 10-15 cm dan dengan ukuran panjang 30-100 cm. Dengan ukuran pipa tersebut maka permukaan air dapat terlihat dari luar. Selanjutnya pipa paralon dilubangi kecil-kecil di semua sisinya untuk mempermudah masuk dan keluarnya air. Pipa dibungkus dengan kain kasa untuk mencegah tanah masuk ke dalam pipa. Pipa dipasang dengan membuat lubang pada tanah dan membenamkannya hingga tersisa 10-20 cm di atas permukaan tanah. Air akan masuk melalui lubang celah pipa yang dipendam di dalam tanah. Pipa harus ditempatkan di bagian yang mudah diakses dari lapangan dekat dengan pematang, sehingga mudah untuk memantau kedalaman airnya. Kedalaman air hendaknya mewakili kedalaman air rata-rata dari lahan sawah. Pipa tidak boleh dipasang di tempat yang lebih tinggi atau lebih rendah. Selanjutnya, cara pengairannya adalah dengan mengairi sawah setinggi 5 cm di atas permukaan tanah dan dibiarkan beberapa hari hingga air menyusut secara alami hingga kedalaman 15 cm di bawah permukaan tanah. Setelah air turun, pengairan dapat dilakukan kembali. Jumlah penyusutan air akan bervariasi antara 1 hingga 10 hari, tergantung pada jenis tanah, cuaca, dan tahap pertumbuhan tanaman. Penerapan AWD dapat dimulai pada 1-2 minggu setelah penanaman bibit padi. Apabila terdapat banyak gulma, AWD dapat ditunda selama 2-3 minggu untuk membantu menekan pertumbuhan gulma. Sebagai catatan penting, saat masa berbunga, pengairan AWD ini perlu dihentikan sementara selama seminggu sebelum berbunga sampai dengan seminggu setelah berbunga. Selanjutnya, AWD diterapkan kembali hingga menjelang panen. Manfaat dari AWD selain untuk menghemat kebutuhan air sawah juga dapat digunakan untuk membantu mengurangi pertumbuhan gulma, mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman seperti wereng dan keong sawah, serta menciptakan lingkungan yang kaya oksigen yang baik untuk pertumbuhan perakaran Pengujian terhadap AWD di Indonesia telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui peneliti di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) bekerjasama dengan National Agriculture and food Research Organization (NARO) pada tahun 2013-2016 selama 6 musim tanam. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan bahkan dapat dihindari, salah satunya dengan menerapkan teknologi AWD. Teknologi ini mampu menghemat penggunaan air irigasi sebesar 17-20%, Selain itu, teknologi ini juga dapat meningkatkan produksi hingga 1 ton/ha dibandingkan dengan pengairan terus menerus. http://8villages.com/full/petani/article/id/12-07-2019 Oleh : Irsyam (Penyuluh BPP Dolok Masihul)