Loading...

MENGOPTIMALKAN AMPAS TEBU UNTUK BIOETANOL

MENGOPTIMALKAN AMPAS TEBU UNTUK BIOETANOL
Etanol dari tebu bukan hanya bisa diperoleh dari tetes tetapi juga bisa berasal dari ampas (bagasse) dan daun. Ini sekaligus untuk menepis kritik soal etika berkaitan persaingan penggunaan sumber pangan dan energi. Pengunaan bahanbahan yang bisa langsung dikonversi menjadi etanol seperti tetes, jagung, singkong, gandum, dan umbi-umbian sejauh ini menuai banyak kritik karena akan menurunkan suplai bahan pangan. Nah, kalau kembali ke tebu, maka hal tersebut bisa dihindari. Ampas (32% tebu) dan trash (14% tebu) merupakan senyawa lignoselulosa. Lignoselulosa dipecah menjadi selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selulosa diuraikan menjadi glukosa terus menjadi etanol. Selulosa didegradasi menjadi silosa yang bisa diubah lebih lanjut menjadi silitol (silitol merupakan pemanis alternatif yang baik bagi kesehatan karena berkalori rendah dan tidak merusak gigi). Dengan cara ini, produksi etanol per ha tebu akan meningkat 2-3 kali lipat. Bila hanya mengandalkan tetes, produksi etanol per ha tebu kira-kira 1.200 liter. Dengan konversi ampas dan trash akan dihasilkan lebih dari 2.500 liter etanol per ha. Limbah padat tebu berupa ampas (bagasse) untuk energi terbarukan. Bila per tahun ada sekitar 6 juta ton tebu yang digiling di 11 pabrik gula (PG) milik PTPN X, setidaknya tersedia 1,8 juta ton ampas."Proses pengolahan tebu menjadi gula menghasilkan sejumlah produk samping, seperti ampas dan tetes. Sekitar 30 persen bagian tebu dalam proses produksi gula akan menjadi ampas," Sebanyak 1,3-1,5 juta ton ampas itu digunakan sendiri untuk operasional PG. Adapun 300-500 ribu ton ampas sisanya dapat dikonversi menjadi bioetanol. "Satu unit pabrik bioetanol generasi ketiga ini membutuhkan ampas minimal 500 ton per hari,". Potensi ampas tebu yang besar itu bisa digunakan untuk substitusi bahan bakar minyak di pabrik gula sekaligus mengembangkan energi terbarukan berupa bioetanol. PG-PG di lingkungan PTPN X selama ini telah mengoptimalkan ampas sebagai pengganti BBM untuk proses produksi gula. Langkah ini berpengaruh positif terhadap peningkatan efisiensi, sehingga meningkatkan profitabilitas perusahaan. Biaya BBM di PG-PG milik PTPN X menurun dari sekitar Rp 130 miliar pada 2007 menjadi Rp 4 miliar pada 2012. Pengembangan bioetanol dengan ampas tebu juga lebih murah dibanding menggunakan tetes tebu (molasses). Satu liter bioetanol butuh 5 kilogram ampas. Ia memperkirakan 5 kilogram ampas itu harganya Rp 1.000. Jika menggunakan tetes tebu, butuh 4 kilogram tetes untuk menghasilkan 1 liter bioetanol. Empat kilogram tetes tebu harganya sekitar Rp 4.000. "Jadi pengembangan bioetanol menggunakan ampas menjanjikan profit margin yang lebih tebal ketimbang menggunakan tetes tebu". PTPN X sendiri kini sudah memiliki pabrik bioetanol berbasis tetes tebu yang terletak dalam kompleks Pabrik Gula Gempolkrep, Mojokerto. Saat ini, pengembangan bioetanol dari ampas tebu tengah dikaji oleh tim khusus, termasuk mengkaji pendirian pabriknya. "Ini bagian dari diversifikasi usaha untuk mengoptimalkan kinerja". Indonesia mempunyai potensi besar dalam hal produksi energi alternatif yang ramah lingkungan berupa bioetanol dari limbah pertanian atau biomass, termasuk limbah padat industri gula, yaitu ampas tebu. Salah satu potensi yang relatif besar adalah pengembangan bioetanol berbahan baku tebu. Dengan asumsi 80 liter bioetanol dapat dihasilkan dari 1 ton tebu (data teknis di Brazil) dan produktivitas tebu rata-rata 80 ton per ha, maka dari setiap ha lahan tebu dapat dihasilkan 6.400 liter etanol. Apabila etanol dari tebu dapat mensubstitusi 10% dari kebutuhan gasoline pada tahun 2010 (33,4 milyar liter), maka target tersebut bisa dicapai dengan pengembangan areal tebu seluas 522 ribu ha. Dengan target subsitusi tersebut, jumlah gasoline yang dapat disubstitusi sebesar 3.34 milyar liter atau lebih dari Rp 15 triliun. Data survey menunjukkan ketersediaan lahan di luar Jawa yang sesuai untuk tebu terdapat sekitar 750 ribu ha, disamping potensi arael existing industry seluas 420 ribu ha (areal tebu Indonesia tahun 1993/1994) Pembuatan Bioetanol dengan Cara Fermentasi ; dalam proses fermentasi etanol digunakan ragi. Ragi ini dapat mengubah glukosa menjadi alkohol dan gas CO2. Ragi merupakan mikroorganisme bersel satu, tidak berklorofil dan termasuk golongan eumycetes. Dari golongan ini dikenal beberapa jenis, antara lain Saccharomyces anamenesis, Schizosaccharomyces pombe dan Saccharomyces cerevisiae. Masing-masing mempunyai kemampuan memproduksi alkohol yang berbeda. Syarat-syarat yang dipergunakan dalam memilih ragi untuk fermentasi, adalah: Cepat berkembang biak, Tahan terhadap alkohol tinggi, Tahan terhadap suhu tinggi, Mempunyai sifat yang stabil, Cepat mengadakan adaptasi terhadap media yang difermentas. Untuk itu dalam penggunaan ragi digunakan ragi tape. Karena dalam ragi tape terdapat jenis khamir Saccharomyces cereviae, yang mempunyai pertumbuhan sempurna pada suhu + 30 0C dan pH 4,8. Selain itu pada ragi tape terdapat mikroorganisme yang pada kondisi anaerob akan menghasilkan enzim amilase dan enzim amiloglukosidase, dua enzim yang bertanggung jawab dalam penguraian karbohidrat menjadi glukosa dan maltosa. Pada ampas tebu terkandung karbohidrat jenis selulosa. Maka dari itu untuk bisa memperoleh etanol dari ampas tebu terlebih dahulu selulosa harus dihidrolisa. Untuk menghidrolisa selulosa dapat dilakukan dengan cara memanaskannya dengan air. Karena air tedapat H+ yang mampu menghidrolisis selulosa, namun untuk mendapatkan hasil yang sempurna bisa ditambahkan enzim yang biasa digunakan untuk penguraian karbohidrat. Jika telah didapatkan selulosa yang terhidrolisa dari bahan yang digunakan, fermentasi dapat dilakukan dan membutuhkan waktu sekurangnya tujuh hari untuk mendapatkan etanol. Dan kondisi fermentasi harus benar-benar dalam keadaan anaerob. Destilasi, produk hasil fermentasi mengandung alkohol yang rendah , dan itu perlu dinaikkan konsentrasinya dengan jalan destilasi. Maksud dari proses destilasi adalah untuk memisahkan etanol dari campuran etanol air. Untuk larutan yang terdiri dari komponen-komponen yang berbeda suhu didihnya, destilasi merupakan cara yang paling mudah dioperasikan dan juga cara pemisahan yang secara thermal adalah efisien. Pada tekanan atmosfir, air mendidih pada 100 0C dan etanol pada sekitar 77 0C. perbedaan dalam titik didih inilah yang memungkinkan pemisahan campuran etanol air. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang menghadapi persoalan energi yang serius akibat ketergantungan yang sangat besar terhadap energi fosil, sementara pengembangan bioenergi sebagai alternatif masih kurang mendapat perhatian. Sesungguhnya potensi Indonesia untuk mengembangkan bioenergi relatif besar, baik bioetanol maupun biodisel. Pembuatan bioetanol ini dapat dilakukan oleh semua kalangan masyarakat, karena proses pembuatan bioetanol dari kulit tebu ini tidak terlalu sulit dan alat-alat yang digunakan mudah didapatkan dan banyak tersedia serta Biaya untuk memproduksi bioetanol berbahan baku ampas tebu berkisar Rp3.400-Rp4.000 per liter. Masyarakat dapat melakukannya sendiri dan mengolahnya sendiri. Masyarakat juga dapat langsung memproduksi dan memasarkan sendiri bioetanol ini. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Madya Pusluhtan BPPSDMP Email : agussutarman56@gmail.com Sumber : PT. Perkebunan X Jawa Timur, 2013 http://www.tempo.co/read/news/2013/10/10/092520873/PTPN-X-Optimalkan-Ampas-Tebu-untuk-Bioetanol, DIANANTA P. SUMEDI http://imfran-imfranpurba.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-ampas-tebu.html