Loading...

MENINGKATKAN PRODUKSI KAKAO

MENINGKATKAN PRODUKSI KAKAO
MENINGKATKAN PRODUKSI KAKAO Ir. Abdullah ( Koordinator Penyuluh BPP Kec. Bua) Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan cukup pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dimana pada tahun 2015 luas areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 1,72 juta ha. Sebagian besar (88,48%) dikelola oleh perkebunan rakyat, 5,53% dikelola perkebunan besar negara dan 5,59% perkebunan besar swasta dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Lampung dan Sumatera Utara. Kabupaten Luwu merupakan salah satu sentra perkebunan kakao di Provinsi Sulawesi-seletan. Kecamatan Bua adalah bagian dari sentra penghasil kakao di Kabupaten Luwu yang memiliki potensi cukup baik.Produktivitas kakao yang dicapai di tingkat petani di sebagian besar Kecamatan Bua masih sangat rendah, yaitu 0,5-0,8 ton/ha dibandingkan potensi yang bisa dicapai sebesar 2-2,5 ton/ha (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2004). Hal ini berarti bahwa produktivitas kakao masih dapat ditingkatkan. Salah satu kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi kakao adalah rendahnya kualitas dan kuantitas bibit. Penanaman kakao di Bua selama ini dilakukan melalui perbanyakan bibit secara generatif yang umurnya sudah tua sehingga masa produktifnya sudah berkurang, dengan luas dan ketersediaan lahan maka kebutuhan bibit juga meningkat untuk peremajaan disetiap kawasan penanaman. Ada dua cara perbanyakan tanaman kakao, yaitu secara generatif menggunakan biji dan secara vegetatif menggunakan metode sambungan, stek, okulasi, cangkokan, dan kultur jaringan. Pada perbanyakan secara generatif seringkali bibit yang dihasilkan cenderung tidak seragam sehingga menurunkan sifat-sifat yang beragam dan tidak sama dengan pohon induknya, sedangkan pada perbanyakan vegetatif ini perubahan bentuk genetik tidak terjadi. Persireron (2010) menyatakan upaya untuk meningkatkan produktivitas persatuan luas dilakukan melalui pengkajian teknologi inovasi baru yang terarah dan berkelanjutan, yaitu pengkajian perbanyakan benih secara vegetatif. Bahan yang digunakan untuk perbanyakan secara vegetatif bisa berupa akar, batang, cabang, bisa juga daun. Sampai saat ini bagian vegetatif tanaman kakao yang banyak digunakan sebagai bahan tanam untuk perbanyakan vegetatif adalah batang atau cabang yang disebut dengan entres. Ciri-ciri entres yang baik antara lain tidak terlalu muda dan tidak pula terlalu tua, ukurannya relatif sama dengan batang bawah, tidak terkena penyakit penggerek batang, dan masih segar. Perbanyakan vegetatif tanaman kakao dapat dilakukan dengan cara okulasi, sambung, setek, atau kultur jaringan. (Kurmawati et al, 2010). Tujuan dari perbanyakan tanaman adalah untuk menghasilkan tanaman baru sejenis yang sama unggul atau bahkan lebih. Caranya adalah dengan menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari tanaman induk yang memiliki sifat unggul (Agro Media, 2007). Perbanyakan secara vegetatif memiliki beberapa keuntungan diantaranya pembuahannya lebih cepat, pemenuhan populasi tanaman dengan dilakukan sulaman. Menurut Rahardjo (2011), perbanyakan vegetatif akan menghasilkan tanaman yang secara genetis sama dengan induknya sehingga akan diperoleh tanaman kakao yang produktivitas serta kualitasnya seragam. Perbanyakan secara vegetatif yang sering dilakukan pada tanaman kakao adalah dengan cara sambung pucuk dan sambung samping, yaitu memasukkan klon unggul sebagai batang atas yang disebut dengan entres pada bibit atau batang bawah. Untuk menghasilkan bibit klon siap tanaman di kebun dengan cara sambung memerlukan waktu 6 bulan, maka diperlukan cara dan suatu metode untuk mempercepat masa muculnya tunas dengan persentase tumbuh bibit sambung lebih tinggi pada pembibitan kakao, sehingga pemindahan bibit sambung yang siap tanam akan lebih cepat.