Loading...

MERAUP UNTUNG DARI BUDIDAYA SINGKONG

MERAUP UNTUNG DARI BUDIDAYA SINGKONG
Oleh-oleh yang kini sedang digemari dan banyak diperbincangkan dari Salatiga adalah olahan singkong. Bahkan di Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga telah ada Kampung Singkong, dimana sebagian besar penduduknya berjibaku denga dunia usaha pengolahan singkong. Olahannya pun telah beraneka ragam dari getuk, aneka kripik, makanan beku, dan aneka kue berbahan singkong. Omzet bisnis ini pun nilainya fantastis menjapai ratusan juta perbulan dengan putaran yang cepat. Pangsa pasarnya telah sampai ke seluruh pulau Jawa, bahkan mulai merambah luar Jawa. Di salah satu icon dari olahan singkong, yaitu D9, membutuhkan sekitar 5 ton bahan baku singkong segar per hari (www.kompasiana.com). Potensi pasar yang sangat besar tersebut, harus ditangkap oleh para petani di Kota Salatiga untuk menjadi pemasok bagi para pengolah singkong. Singkong dapat ditanam di semua kondisi lahan, bahkan di lahan-lahan marjinal yang kurang subur pun, tanaman ini dapat tumbuh, dengan resiko gagal panen yang kecil. Petani harus melakukan teknologi budidaya yang benar, hingga tingkat kesuburan lahannya terjaga, di antaranya adalah dengan pengolahan lahan dan pemupukan yang benar, juga melakukan pergiliran tanaman. Umur panen singkong dari penanaman hingga panen berkisar sembilan bulan, bahkan memasuki usia delapan bulan sebenarnya singkong telah bisa dipanen, dengan pemupukan selama 2 kali selama periode tanam, yaitu pada bulan kedua dan kelima. Lahan harus dibersihkan dari gulma, dicangkul merata kemudia dibuat bedengan tanaman sesuai ukuran yang dikehendaki. Pemupukan dasar dapat dilakukan pada saat pembuatan bedengan dengan cara menebarkan pupuk kandang secara merata pada bedengan tanaman, dosisnya adalah 2 ton/ha. Bibit harus disiapkan terlebih dahuludan harus berasal dari tanaman induk yang sehat yang hasil umbinya besar, sehat dan seragam dengan umur sekitar 10-12 bulan. Batangnya telah berkayu dengan diameter sekitar 2,5 cm, dan belum muncul tunas baru. Penanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah kering/tegalan waktu tanam terbaik adalah awal musim hujan. Stek ditanam dengan kedalaman 5-10 cm dalam tanah, atau kira-kira 1/3 bagian stek tertimbun tanah. Singkong adalah tanaman yang mudah perawatannya. Perawatan utama yang harus dilakukan adalah penyiangan, pemupukan, pemangkasan/perempelan, pembubunan, dan pengairan/penyiraman Kelemahan singkong adalah pada fase pertumbuhan awal tidak mampu berkompetisi dengan gulma. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. pengendalian gulma dilakukan pada 2 tahap, yaitu pada umur 4-5 minggu setelah tanam dan 8 minggu setelah tanam. Dengan asumsi pola tanam monokultur, jarak tanam 1x1 m, maka diperoleh populasi tanaman sekitar 7000 pohon. Jika 1 pohon menghasilkan minimal 5 kg umbi singkong dengan harga jual Rp 2000/kg maka petani dapat memperoleh hasil Rp 70 juta. Dengan asumsi total biaya budidaya berkisar antara 15-20 juta/hektar, maka selisih keuntungannya masih sangat menjanjikan. (Penulis : Ida Fauzia, STP., MSi – PPL Kecamatan Argomulyo,Salatiga).