Varietas Kedelai Mutiara 1 berasal dari singkatan mutan aplikasi teknologi isotop dan radiasi, merupakan jenis kedelai yang aman untuk dikonsumsi, meskipun diperoleh dengan menggunakan teknik iradiasi. Menurut Kepala Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR) BATAN disampaikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir akan terkena efek zat radioaktif karena bibit yang diradiasi adalah bibit induk. Kedelai yang dikonsumsi adalah turunan ke-4 dan ke 5, sedangkan yang masih ada efek radiasinya itu hanya sampai turunan ke-2.Varietas Kedelai Mutiara 1 memang di rancang oleh para pemulia untuk memenuhi permintaan pasar yang menghendaki kedelai varietas lokal, tetapi berbiji besar seperti kedelai impor. Oleh Menteri Pertanian Suswono, Kedelai Mutiara 1 ini didiskripsikan sebagai kedelai yang super besar karena memiliki bobot rata-rata per 100 biji dapat mencapai 23,2 gram , hampir dua kali lipat dari rata-rata kedelai unggul nasional (12 – 15 gram/100 biji). Biji kedelai Mutiara 1 ini juga lebih besar dibandingkan dengan kedelai impor Amerika Serikat yang hanya sekitar 18 gram per 100 biji.Kedelai dengan ukuran super besar ini cocok sebagai bahan baku pembuatan tahu maupun tempe, serta mampu mensubtitusi kebutuhan industri tahu dan tempe nasional yang saat ini tergantung pada kedelai impor yang berbiji besar. Varietas Mutiara 1 mempunyai rendemen yang tinggi sehingga prospektif untuk menggantikan kedelai impor. Rendemen tahu berbahan baku kedelai Mutiara 1 dapat mencapai 373,3 % dan rendemen tempe mencapai 193,3 %. Sedangkan kedelai impor hanya mencapai 323% untuk rendemen tahu dan 188,3% untuk rendemen tempenya. Lebih lanjut deskripsi Varietas Mutiara 1 dapat disampaikan sebagai berikut : Dilepas tahun : 22 Juli 2010SK Mentan : 2602/Kpts/SR.120/7/2010Nomor seleksi : 37 MBBAsal : Iradiasi sinar y 150 Gy pada varietas MuriaTinggi tanaman : ± 46,8 cmTipe pertumbuhan : DeterminiteWarna daun : Hijau Bentuk daun : LanceolateWarna hipokotil : UnguUmur berbunga : ± 30 hariWarna bunga : UnguWarna polong masak : Coklat Umur panen : ± 82 hariWarna bulu : Putih kecoklatanBentuk biji : Bulat lonjongWarna biji : KuningWarna hilum biji : HitamUkuran biji : Super besarBobot 100 butir : ± 23,2 gramKandungan protein : ± 37,7% bkKandungan lemak : ± 13,8% bkRata-rata hasil : 2,4 ton/haPotensi hasil : 4,1 ton/haKerebahan : Tahan rebahKetahanan thd penyakit : Toleran terhadap penyakit karat daun (Phakospora pachyrhizi Syd), tahan terhadap penyakit bercak/hawar daun coklat (Cercospora) dan agak rentan CMMVKetahanan thd hama : Tahan terhadap hama penggerek pucuk (Melanagromyza sojae)Keterangan : Berpotensi tinggi di lahan optimal/sawah.Wilayah adaptasi : Lahan kering tegalan dan lahan sawahPemulia : Harry Is Mulyana, Arwin, Tarmizi Masrizal, dan Muchlis AdieInstansi Pengusul : Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Didik Harnowo, 2013, Deskripsi Varietas Unggul Kedelai, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.2) https://indonesiaproud.wordpress.com/2010/09/03/3) http://www.diperta.jabarprov.go.id4) https://www.google.com/