Padi Salibu Kelompok Tani Margo Tani 1 Desa Karangjati Kecamatan Karangjati Ngawi
Cara budidaya padi salibu dapat dilakukan pada berbagai agroekosistem dan ketinggian tempat (dari rendah sampai 1.100 m dpl), seperti lahan irigasi desa atau sederhana yang sistem pengairannya diusahakan secara mandiri oleh kelompok tani, di lahan tadah hujan dan Tanah sawah irigasi Teknis : bukan daerah endemik Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya penyakit tungro, busuk batang, hawar daun bakteri, keong mas, dan lain-lain, - ketersediaan air mudah dikondisikan dan cukup, tidak terjadi genangan dan kekeringan yang lama. kondisi lahan dengan drainase baik, - dan kondisi air tanah pada saatdua minggu sebelum dan setelah panen sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (lembab). Dalam hal ini tunas padi salibu lebih baik tumbuhnya jika kondisi tanah lembab dibanding kondisi tergenang. Di wilayah dengan sistem tanam serempak, pengembangan salibu disarankan pada suatu hamparan dengan luas minimal 25 ha untuk mengurangi serangan OPT.Teknik budidaya padi salibupada berbagai agroekosistem tersebut sebagai berikut : Lahan Irigasi Desa Kondisi lahan subur dengan sistem pengairan yang mudah diatur atau dikendalikan secara swadaya oleh kelompok tani. Jika saat panen kondisi tanah kurang basah, maka masukkan air ke lahan segera setelah dilakukan panen tanaman utama, yang menyisakan tunggul tanaman setinggi 25 cm dari permukaan tanah, untuk mencapai kondisi kapasitas lapang. Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru.Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi gunakan dekomposer. Lahan Tadah Hujan. Sebelum tanam tanaman utama dilakukan pengolahan tanah secara sempurna dan penambahan bahan organik sekitar 2-5 ton/ha. Saat panen tanaman utama upayakan kondisi tanah tidak terlalu kering, jika kering maka lakukan pemberian air segera setelah panen dengan ketinggian 2-5 cm untuk mencapai kondisi kapasitas lapang. Sisa pemotongan panen tanaman utama sebaiknya diletakkan di sekitar tanaman atau sebagai penutup permukaan tanah untuk mempertahankan kelembaban tanah. Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu. Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi dilakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer. Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu. Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Disusun oleh : GONO, SP Thl-Tbpp Kecamatan Karangjati Sumber: https://indonesiabertanam.com>teknologisalibu