PANENPanen yang tepat berdasarkan umur tanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, yaitu pada umur 10 – 12 bulan setelah tanam, biasanya daun mulai luruh atau mengering. Dapat pula dipanen pada umur 20 – 24 bulan. Cara panenPanen dilakukan dengan cara menggali dan mengangkat rimpang secara keseluruhan. Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember. Kegiatan Pasca PanenTemulawak sebagai bahan baku obat dapat merangsang sekresi empedu dan pankreas. Sebagai obat biofarmaka, temulawak bermanfaat untuk mengobati penyakit saluran pencernaan, kelainan hati, kandung empedu, pankreas, usus halus, tekanan darah tinggi, kontraksi usus, TBC, sariawan, dan dapat dipergunakan sebagai tonikum. Temulawak sebagai bahan dasar herba dapat proses menjadi beberapa produk olahan diantaranya simplisia temulawak, tepung temulawak, maupun produk olahan lainya berupa cookis dengan tambahan ekstrak dan tepung temulawak serta permen putih telur. Untuk dapat meningkatkan harga jual dari Temu Lawak, ada beberapa cara harus diperhatikan antara lain :1. Cara Pengolahan Temulawak menjadi Simplisia Temulawak dapat dilakukan dengan cara menyortasi rimpang temulawak, pencucian, perajangan, penjemuran dengan ditutup kain hitam. 2. Pembuatan tepung temulawak dilakukan dengan cara menyortasi rimpang yang telah berumur 9 bulan, pencucian, pengupasan kulit ari, penyawutan, penjemuran dengan ditutup kain hitam, penggilingan, pengayaan dan pengemasan. Selain itu pembuatan tepung dapat pula dilakukan tanpa pengupasan kulit ari, namun hasil tepung tampak gelap dan kurang bersih. Rendemen pada saat menjadi sawut kering dengan cara pengupasan kulit ari berkisar 19,4%, sedangkan tanpa pengupasan kulit ari sekitar 10,9%. Tepung temulawak mengandung kadar air 16,94%, Protein 8,12%, Lemak 3,73%, Vitamin E 1,64% dan Curcumin 1.41%. 3. Pembuatan Cookis Temulawak dapat dilakukan dengan cara mencampur margarine dan gula halus, ditambahkan kuning telor dan diaduk, adonan ditambahkan tepung terigu, susu/tepung/ekstrak temulawak. Adonan diuleni hingga kalis dan dicetak sesuai selera selanjutnya dipanggang dengan oven dengan suhu 100-1500C selama 1-1,5 jam. 4. Permen Putih Telor (SCJUMPJES) merupakan salah satu makanan ringan yang dapat meminimalkan rasa khas temulawak. Cara pembuatan dilakukan dengan dua cara yaitu pertama dengan pembuatan ekstrak temulawak dan yang kedua pembuatan Sumber : 1. Buku pintar tanaman obat: 431 jenis tanaman penggempur aneka penyakit (Google eBuku), AgroMedia, 2008 - 332 halaman. 2. Berbagai Sumber : www. Lestari Mandiri.org 3. Temu Lawak Tanaman Rempah dan Obat, Ir. Rahmat Rukmana, Kanisius 1995. Penulis : Iman Priyadi, (Penyuluh Pertanian Balai Besar pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian) email : imanpriyadi@yahoo.co.id