Sambas : Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BPK) Kecamatan Sebawi Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat telah menyelenggarakan panen padi perdana varietas Pak Tiwi bertempat di lokasi Demonstrasi Plot (Demplot) BP3K Sebawi pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2015 baru-baru ini. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan Dana Dekonsentrasi UPSUS TA. 2015 Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Kalimantan Barat. Ikut hadir dalam kegiatan panen ini dari Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Kalimantan Barat, unsur-unsur Dinas Teknis Kabupaten terkait seperti Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sambas, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas, Badan Pusat Statistik Kabupaten Sambas, unsur Muspika Kecamatan, Pengelola BPK, PPL, Penyuluh Swadaya, Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT). Padi varietas Pak Tiwi ditanam pada lahan tadah hujan musim tanam gadu, yang penanamannya dimulai tanggal 27 April 2015 dan dipanen pada tanggal 7 Agustus 2015, sehingga genap berumur 120 hari. Pelaksanaan kegiatan ini dikawal oleh 4 (empat) orang demonstrator terdiri dari 2 orang Gapoktan,, 1 orang Penyuluh dan 1 orang KWT. Perlakuan yang diberikan dalam upaya pemeliharaan tanaman padi varietas ini berupa persiapan dan pengolahan lahan, persemaian, pemupukan, pengairan, penanaman, pengendalian hama/penyakit dan pemanenan. Khusus untuk pemupukan menggunakan dosis dan waktu pemberian sesuai dengan rekomendasi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Barat. Hasil pengamatan mulai pertumbuhan secara vegetatif hingga panen, didapatkan pertumbuhan yang cukup baik yang ditunjukkan oleh beberapa indikator pertumbuhan tanaman berupa tinggi tanam dan jumlah anakan. Pada pengamatan pertama minggu ke-2 tinggi tanaman 30,5 cm dan jumlah anakan sebanyak 8 batang, dan pengamatan akhir pada pengamatan ke-6 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dengan tinggi tanaman mencapai 71,8 cm dan jumlah anakan sebanyak 37 batang. Dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tanaman tentunya tidak terlepas dari kendala-kendala lapangan, dan beberapa kendala yang ditemukan adalah (1) tidak tersedianya air pada waktu yang ditentukan, (2) belum tersedianya embung di sekitar lokasi Demplot, dan (3) adanya serangan hama dan penyakit tanaman. Solusi yang patut diterapkan untuk menghindari kendala-kendala tersebut adalah (1) mentaati ketentuan jadwal waktu tanam dalam Kalender Tanam (KATAM), (2) perlunya pengawalan tanaman untuk mencegah hama dan mengendalikan hama dan penyakit, (3) menjaga kebersihan lingkungan tanaman dari gulma, dan (4) mengupayakan ketersediaan air sesuai waktu yang ditetapkan. Pemanenan padi varietas Pak TIWI dilaksanakan dengan 4 (empat) titik lokasi pengubinan untuk memperoleh hasil per hektarnya. Berdasarkan perhitungan dari 4 titik lokasi pengubinan diperoleh rata-rata hasil produksi per hektarnya sebesar 6,38 ton/ha, dengan rincian masing-masing titik lokasi pengubinan adalah 4,40 kg (titik 1), 3,75 kg (titik 2), 3,50 kg (titik 3) dan 4,30 kg (titik 4). Menurut kondisi lazimnya, varietas Pak Tiwi di daerah yang memiliki pengairan dengan irigasi teknis, hasil yang dicapai hingga mencapai 10 ton/ha. Akan tetapi, berbeda dengan kondisi lahan demplot yang ada di BP3K Kecamatan Sebawi Kabupaten Sambas yakni lahan tadah hujan, dimana hasil yang dicapai walaupun berbeda signifikan dengan pengairan sistem irigasi teknis, ternyata hasil 6,38 ton.ha masih dikatakan cukup tinggi bila dibandingkan rata-rata hasil padi per hektar tingkat provinsi, 3 – 4 ton/ha, walaupun sempat digenangi air/banjir selama 3 hari pada saat pertumbuhan tanaman padi pade pase bunting muda.