Loading...

PANEN PADI DENGAN COMBINE HARVERSTER! MENGAPA TIDAK!

PANEN PADI DENGAN COMBINE HARVERSTER!  MENGAPA TIDAK!
Puncak dari semua usaha dan harapan petani padi adalah hasil panen padi atau produksi yang tinggi. Menimbang usaha budidaya yang kini semakin sulit, terutama penangangan terhadap organisme pengagu tanaman (opt) padi yang kian tak bisa terkendalikan. Semakin maju teknologi (perbenihan dan pestisida) semakin menghebat serangan hama dan penyakit. Tetapi, dalam tulisan kali ini tidak membahas itu. Fokus terhadap kerugian petani akibat tidak sempurnanya dalam menangani panen dan pasca panen. Akibat ketidak-cakapan ini kehilangan padi bisa mencapai 20,24 persen. Sangat besar kerugian yang harus ditanggung petani. Rincian 20,24 persen tersebut adalah kehilangan saat panen (9,5 persen), perontokkan (4,8 persen), pengeringan (2,1 persen), penggilingan (2,2 persen), penyimpanan (1,6 persen) dan pengangkutan (0,25 persen). Saat panen dan perontokkan ternyata penyumbang kehilangan tertinggi. Dan hal ini yang harus disikapi para petani. Untuk panen, para petani wajib menenentukan atau menghitung masa pemasakan padi yang tepat. Penundaan panen akan meningkatkan susut hasil bisa mencapai 8,64 persen. Umumnya panen padi untuk varietas genjah, panen umur terbaik adalah 30-35 hari setelah padi keluar malai. Penampakan malai 90 – 95 persen gabah tampak kuning. Dan kadar air optimal saat pemanenan adalah 21 – 26 persen. Namun perlu diperhatikan, beberapa faktor seperti varietas, iklim, dan tinggi tempat juga penentu waktu panen. Perbedaanya bisa mencapai 5-10 hari. Yang kedua adalah perontokan. Perontokan padi wajib dilakukan setelah pemanenan. Bila tertunda atau ditunda akan menyebabkan kehilangan hasil, penundaan tidak boleh lebih dari satu malam dan tinggi tumpukan padi tidak boleh lebih dari 1 meter. Penundaan perontokan satu malam hasil akan berkurang 0,87 persen, dua malam 1,35 persen, tiga malam 3,12 persen dan akan bertambah kehilangan bila ditunda dan cuaca yang tidak mendukung seperti hujan. Menangani kedua masalah ini, dibutuh solusi yang tepat. Penggunaan teknologi panen: Combine Harvester jawabannya! Di awal Maret, combine harvester mini sedang beroperasi di persawahan Desa atau Pekon Gedung Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus Lampung. Muhammad Firman (36 tahun) sang operator tampak cakap memainkan combine di petakan sawah. “Agak becek pak lahannya, kudu harus teliti dan hati hati,” ujarnya saat Penulis menghampiri. Mesin combine ini adalah milik kelompok tani Sumber Rejeki 2 pekon tetangga, Pekon Kaca Marga. Dan siap menerima orderan di pekon pekon kecamatan ini. Topruddin (48 tahun), petani Pekon Gedung sangat antusias menggunakan teknologi ini. “Biasanya lahan sawah saya saat musim bagus mendapat 10 karung gabah, tapi Allhamdulillah sekarang menggunkan combine bisa mendapat 15 karung,” ujarnya. Lagipula, lanjutnya, keadaan padi sekarang terserang hama wereng, jadi hasil ini diluar perkiraan saya. Teknik penggarapan sawah milik Topruddin menggunakan sistem “majek” dengan perhitungan bagi hasil panen 6:1 (6 karung milik penggarap dan 1 karung milik pemajek). Untuk pembayaran upah combine adalah 10;1 (10 karung penggarap dan 1 karung pemilik combine). Bila melihat hasilnya Topruddin sangat diuntungkan dengan penggunaan combine ini. Bersih 11 karung. Sudah dikurangi si pemajek dan upah combine. Menurut Muhammam Firman keuntungan pemakain combine harvester adalah masa panen yang cepat untuk sawah satu ha bisa selasai sekitar 2 hari dan padi lansung dirontok dan dikarungkan jadi tidak ada jeda untuk penumpukan. “Untuk hasil gabah, Allhamdulillah alat kami bisa diandalkan karena ada bagian yang telah kami rubah atau modifikasi sehingga hasil perontokkan tidak kotor bercampur daun atau batang padi,” ungkap Firman dengan mantab. Dengan satu cerita di atas menggambar bahwa penggunaan kompenen teknologi dapat menjawab permasalahan petani dan utamanya adalah menekan kehilangan hasil panen. Jadi apa masih ragu? Oleh Roni Sepriyono, SP (PPL Tanggamus)