Upaya Pencapaian Target Swasembada Pangan Padi Jagung dan Kedelai yang santer di gaungkan sejak awal Tahun 2015 di Kabupaten Penajam Paser Utara terus menunjukkan geliatnya, di tengah kondisi ketidakpastian iklim dan cuaca di pertengahan tahun 2015 serta kurang bersahabatnya alam dengan musim kemarau yang kurang memihak terhadap dunia pertanian tidak menyurutkan sedikitpun semangat para pelaku utama untuk terus menunjukkan karyanya di Bidang Pertanian sebagai bentuk dukungan tercapainya program swasembada pangan di Kabupaten Penajam Paser Utara dan swasembada Pangan Nasional. Bertempat di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Petung pada hari Jum'at Tanggal 13 November Tahun 2015 telah dilaksanakan Panen Raya Demplot Jagung Hibrida Tahun 2015. Setelah sebelumnya telah dilaksanakan panen pertama pada Bulan Oktober. Acara Panen Raya Demplot Jagung Tahun 2015 dipimpin Langsung Oleh Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (KKPP) Kabupaten Penajam Paser Utara Surito, SP. MP bersama dengan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Provinsi Kalimantan Timur Koordinator BPP Petung, dan Penyuluh Pertanian Lapangan di Lingkup Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Penajam Paser Utara.Mengawali kegiatan Panen Raya Demplot Jagung Tahun 2015 dalam sambutannya Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Petung Sumarno, A.Md menyampaikan bahwa pelaksanaan Demplot Jagung Tahun 2015 ini menjadi demplot yang sangat berat dikarenakan harus berhadapan dengan kondisi alam yang kurang bersahabat akibat kemarau yang cukup panjang, meski demikian tetap disyukuri karena pada akhirnya kegiatan demplot dapat dilaksanakan hingga panen. Demplot yang di laksanakan dibagi menjadi dua tahapan dimana pada tahap pertama di laksanakan penanaman pada Pertengahan Bulan Juli Tahun 2015 dan tahap kedua dilaksanakan pada Awal Bulan Agustus Tahun 2015. Benih yang digunakan Benih Bisi dua dengan Jarak tanam 20 x 40 Centimeter.Kepala Seksi Penyuluhan Sukirman, SP dalam sambutannya menyampaikan bahwa segala fasilitas penunjang untuk tanaman jagung dalam kegiatan Demplot Jagung Tahun 2015 sudah sangat memadai tapi karena dikarenakan musim dan cuaca yang kurang mendukung mengakibatkan hasil yang kurang maksimal, tetapi tetap masih dapat di penen. Meskipun secara ekonomis hasil panen dari kegiatan demplot kali ini mungkin kurang menguntungkan akibat panen yang kurang maksimal, harapannya didapatkan pengetahuan dan ilmu baru dalam teknologi budidaya jagung sehingga ketika kegiatan budidaya jagung selanjutnya mendapat dukungan dari cuaca dan alam yang bersahabat, hasil yang didapatkan dapat di Optimalkan.Selanjutnya Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (KKPP) Kabupaten Penajam Paser Utara, Surito, SP MP menegaskan kembali bahwasanya meskipun Hasil dari Demplot Tanaman jagung tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dikarenakan musim kemarau tetapi hal yang terpenting adalah kegiatan demplot ini dapat menjadi sumber informasi alih teknologi mulai dari proses budidaya hingga marlketing yang memiliki nilai inovasi. Potensi Untuk pengembangan Budidaya jagung di Kabupaten Penajam Paser Utara sangat terbuka luas, Hanya saja yang menjadi Kendala utamanya ada pada pangsa pasarnya, dimana sebagian besar peternak ayam yang merupakan sasaran pasar dari produksi jagung pipil telah memiliki ikatan kerjasama dengan produsen yang berasal dari luar Kabupaten Penajam Paser Utara, kedepannya hal tersebut menjadi salah satu tugas bersama dari kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan bersama para Penyuluh dilapangan dalam memecahkan masalah tersebut.Pada Akhir Kegiatan Panen Raya Demplot Jagung Tahun 2015, Mewakili Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Kalimantan Timur Ir. Iriannor Memberikan Apresiasi kepada Kabupaten Penajam Paser Utara khususnya bagi pelaku utama, Kelembagaan, dan Satuan Kerja Pemerintah Daerah dalam bidang Pertanian yang telah melahirkan prestasi - prestasi yang membanggakan baik di level Provinsi sampai ke level Nasional. Selain itu dalam Hal Ketahanan Pangan Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan Kabupaten yang tidak termasuk dalam daftar wilayah rawan pangan. Sebelum Mengakhiri sambutannya ditambahkan bahwa beberapa Kelemahan dari budidaya jagung dilapangan antara lain tidak adanya sentral jagung dalam artian lahan budidaya jagung para petani terletak pada lokasi yang terpisah, hal tersebut yang menyebabkan kendala dalam hal transportasi. Selain itu sebagian besar petani juga lebih memilih untuk memanen muda jagung mereka dikarenakan adanya perbedaan harga yang cukup signifikan antara jagung yang dipaen muda dengan jagung kering. Dengan perhitungan untuk mendapatkan satu kilogram jagung kering dibutuhkan sampai delapan tongkol jagung kering, yang jika di jual harganya tidak lebih dari Rp. 5000,- sedangkan jika dijual pada saat muda didapatkan harga Rp. 2000,- setiap tongkolnya. Dengan kata lain 1 Kg Jagung Kering Rp. 5000,- berbanding dengan Rp. 16.000,- Jagung Muda, ditambah lagi dengan terpangkasnya masa produksi. Permasalahan lain yang juga menjadi kendala menurutnya adalah tidak adanya pangsa pasar besar untuk jagung kering berkaitan Tidak adanya Pabrik Pengolahan Pakan ternak di Provinsi Kalimantan Timur. Suriyadi, A.Md (Admn Cyber Ext Kab. Penajam Paser Utara)