Tanaman kakao (Theobroma caaco L.) merupakan tanaman tahunan. Jika dibudidayakan dengan baik dapat memberikan produksi yang menguntungkan sampai umur yang panjang. Berdasarkan hasil penelitian, produksi puncak kakao dapat dicapai pada umur 10 – 20 tahun. Keuntungan nominal rata-rata pertahun terbesar dapat diperoleh jika tanaman kakao diusahakan sampai umur 37 tahun. Kakao sebagai salah satu komoditi unggulan perkebunan yang mempunyai peranan penting sebagai sumber devisa negara, sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, mendorong agribisnis dan agroindustri serta pengembangan wilayah. Meningkatnya permintaan kakao dunia, keterbatasan pasokan biji kakao dari negara produsen utama (Pantai Gading dan Ghana), ketersediaan lahan potensial, tenaga ahli dan teknologi serta minat masyarakat yang tinggi terhadap kakao merupakan peluang besar yang bisa dikelola dan dikembangkan. Sehingga bukan hal yang mustahil Indonesia akan bergeser dari negara pengahasil kakao nomor 2 dunia menjadi nomor satu. Disamping itu dengan adanya kebijakan BK (beaya keluar) atas ekspor biji kakao memberikan peluang untuk pengembangan industri kakao menjadi produk jadi dan produk setengah jadi serta pengembangan pasar dalam negeri. Walaupun demikian, hal ini tidak mudah untuk direalisasikan karena banyak sekali permasalahan yang dihadapi perkakaoan nasional diantaranya adalah produktivitas dan mutu biji kakao Indonesia masih rendah.Bahan tanaman kakao merupakan modal dasar untuk mencapai produksi kakao yang tinggi. Kesalahan pemilihan dan penggunaan bahan tanam akan mengakibatkan kerugian dalam jangka panjang. Karena itu, pemilihan bahan tanaman merupakan tindakan penting dalam budidaya kakao. Pemilihan dan penggunaan bahan tanam kakao unggul perlu diikuti dengan tindakan kultur teknis yang baik, antara lain meliputi: pembibitan, perawatan tanaman di lapangan, dan penanganan pascapanennya sehingga usaha budidaya kakao membawa hasil yang optimal dan memuaskan. Kakao merupakan komoditas yang sangat menguntungkan dan menghasilkan devisa negara, sebagai salah satu upaya kualitas buah kakao maka perlu dilakukan pengolahan biji kakao sebelum dipasarkan melalui beberapa perlakuan.Biji kakao merupakan salah satu komoditi perdagangan yang mempunyai peluang untuk dikembangkan dalam rangka usaha memperbesar/meningkatkan devisa negara serta penghasilan petani kakao. Produksi biji kakao Indonesia secara signifikan terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan sangat rendah dan beragam, antara lain kurang terfermentasi, tidak cukup kering, ukuran biji tidak seragam, kadar kulit tinggi, keasaman tinggi, cita rasa sangat beragam dan tidak konsisten. Hal tersebut tercermin dari harga biji kakao Indonesia yang relatif rendah dan dikenakan potongan harga dibandingkan dengan harga produk sama dari negara produsen lain. Namun disisi lain kakao Indonesia juga mempunyai keunggulan yaitu mengandung lemak coklat dan menghasilkan bubuk kakao dengan mutu yang baik. Pemberdayaan petani merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas kakao. Panen Kakao Buah cokelat sejak mulai berbunga sampai pembuahan menjadi matang dan siap dipanen memerlukan waktu sekitar 5 bulan. Untuk menjaga kualitas produksi biji cokelat, penting diperhatikan waktu petik yang tepat, teknik memanen, dan pengolahan pasca panen. Waktu petik yang tepat. Ciri buah yang siap dipetik biasanya dicirikan oleh perubahan warna kulit buah dan biji yang melepas dari dinding buah bagian dalam. Bila buah diguncang dan biji buah berbunyi merupakan suatu pertanda bahwa buah siap dipetik. Panen buah yang terlalu muda akan menghsilkan banyak biji kempes/ gepeng. Kadar gula dalam pulp biji muda juga masih rendah, sehingga kalau buah difermentasi hasilnya kurang bagus. Sebaiknya, kalau buah yang dipanen kelewat masak, hasilnya juga kurang baik. Biji yang sudah banyak mulai berkecambah, pulpnya sudah mengering, sehingga aromanya sudah banyak berkurang. Buah yang baik adalah buah yang dipanen tepat masak. Oleh karena kemasakan buah tidak serempak, panen musti dilakukan secara selektif, hanya buah yang bener-bener masak saja yang dipetik.Teknik memetik Buah. Buah cokelat dipetik dengan menggunakan pisau tajam. Bila buah jauh dari jangkauan tangan, biasa pisau yang melengkung disambungkan pada ujung bambu. Pada saat pemanenan buah cokelat diusahakan agar pemotongan pada tangkai buah harus tepat di batang/ cabang yang ditumbuhi buah. Dengan demikian, tangkai buah tidak tersisa pada batang/ cabang tanaman dan tidak menghalangi bertumbuhnya bunga pada musim bunga berikutnya. Diusahakan pada saat pemetikan buah tidak melukai batang pohon cokelat. Luka yang terjadi saat pemetikan dapat mengakibatkan bunga tidak akan tumbuh lagi pada tempat tersebut pada musim berbunga. Penyortiran. Dilakukan berdasarkan kematangan, dipisahkan sesuai kelas benih, selanjutnya dilakukan pemecahan buah untuk mendapatkan biji cokelat.Pemecahan biasanya dilakukan menggunakan kayu bulat yang keras. Setelah kulit buah sudah dibelah, biji dikeluarkan dan dikumpulkan pada tempatnya. ( Penulis: Nanik Anggoro P/ Penyuluh Pertanian BBP2TP. Sumber Bacaan:1) Peningkatan Mutu Kakao dalam Menunjang Industri Kakao Indonesia, Direktorat Rempah dan tanaman Penyegar, 2013; 2) Pedoman Teknis Perluasan Tanaman Kakao Tahun 2012; 3)Buku Pintar Budidaya Kakao, Pusat Penlitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2010; 4) Budidaya Kakao, BPTP Sulawesi tengah, BBP2TP, 2010; 5) Teknologi Budidaya Kakao, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008; 6) Pedoman Bertanam Cokelat, Tim Bina Karya Tani, Yrama Widya, 2008.)v