Loading...

WATER AND AGRICLIMATE RESOURCES MANAGEMENT (WARM) UNTUK MEMPREDIKSI POTENSI PRODUKSI TEBU

WATER AND AGRICLIMATE RESOURCES MANAGEMENT (WARM) UNTUK  MEMPREDIKSI POTENSI PRODUKSI TEBU
Salah satu tujuan pengembangan teknologi antaralain adalah peningkatan produksi. Tahun 2010-2014, Kementeri Pertanian telah mencanangkan program "Empat Sukses Pembangunan Pertanian" salah satu sukses yang harus dicapai adalah swasembada gula. Untuk mencapai swasembada gula perlu berbagai upaya agar produksi dan rendemennya meningkat. Seperti kita ketahui bahwa faktor penentu fluktuasi produksi tebu antara lain genetik tanaman dan lingkungan utamanya adalah ketersediaan air. Berkaitan dengan ketersediaan air, sejak tujuh tahun lalu tepatnya tahun 2004 Balai Penelitian Agroklimat (Balitklimat) telah mengembangkan program analisis berbasis neraca air untuk mengestimasi produksi hasil tanaman semusim yang disebut dengan Water Agriclimate Resources management (WARM). Metode WARM dapat dipergunakan untuk memperdiksi potensi produksi tanaman yang dihitung berdasarkan faktor genetik tanaman (tinggi tanaman, kedalaman perakaran dan fase fenologi tanaman) dan data lingkungan (fisika tanah dan iklim). Output model WARM antara lain penentuan waktu tanam terbaik dan penentuan skenario volume dan interval irigasi untuk mencegah defisit air. Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam aplikasi model WARM Bahan dan perlatan yang digunakan meliputi: 1) meteran untuk mengukur tinggi tanaman dan kedalaman perakkaran 2) timbangan untuk mengukur berat hasil panen tanaman; 3) data seri iklim; 4) hasil tanaman tebu yang digunakan (sebagai input); 5) seperangkat komputer untuk keperluan analisis. Metoda. 1. Penghitungan potensi produksi tanaman dihitung berdasarkan konsep neraca air FAO tahun 1998 yaitu menghitung "air yang masuk dikurangi air yang hilang didapatkan air yang tersedia". Yang diperhitungkan dalam air yang masuk adalah:a) curah; b) air irigasi; c) efek kapilaritas; d) aliran permukaan yang masuk kedalam lapisan perakaran. Air yang diperhitungkan hilang adalah: a) aliran permukaan yang keluar dari lapisanperakaran; b) run of; c) perkolasi; d) evaporasi; e) transpirasi. Hasilnya adalah adanya perubahan kandungan air tanah di lapisan perakaran. 2. Penghitungan neraca air harian (nilai angka pengurangan kandungan air dalam tanah) dilakukan dengan cara sebagai berikut: "nilai angka pengurangan kandungan air dalam tanah adalah hasil pengurangan dari kandungan air tanah (hari ke-i) dikurangi dengan : a) jumlah curah hujan hari ke-i, b) dikurangi run off dari permukaan tanah hari ke-i; c) dikurangi total irigasi yang terinfiltrasi kedalam tanah hari ke-i: d) efek kapilaritas hari ke-i, ditambah dengan: a) evapotranspirasi tanaman pada hari ke-i; dan b) perkolasi hari ke-i. 3. Prediksi potensi produksi tanaman yang diakibatkan oleh kekurangan air dapat diperhitungan dengan rumus sebagai berikut: ( Ya ) ( ETa ) ( 1 - ----- ) = ky (1 - ----- ) ( Ym) ( ETc ) Keterangan: Ya : Produksi tanaman aktual (ton/ha) Ym : Produksi tanaman maksimum yang diharapkan ETa : Evapotranspirasi tanaman aktual (mm/hari) Etc: : Evapotranspirasi tanaman potensial (mm/hari) (pada kondisi standar dimana tidak ada stres air) Ky : Faktor respon produksi Ky adalah faktor yang mendiskripsikan penurunan produksi relatif sehubungan dengan penurunan produksi relatif sehubungan dengan penurunan Etc yang diakibatkan oleh kondisi defisit air. Nilai Ky untuk tiap tanaman berbeda dan bervariasi selama masa pertumbuahnnya. Umumnya penurunan produksi sebagai akibat defisitnya air selama fase vegetatif dan pemasakan relatf kecil, sementara selama fase pembungaan dan pembentukan hasil nilai Ky lebih besar. Validasi neraca air Model WARM Validasi dilakukan untuk mengetahui sejauhmanaketepatan prediksi hasil dengan kondisi aktual. Potensi produksi tanaman tebu dengan hasil optimal (tanpa masalah kekurangan air) yang mengacu pada Doorenbos et al., 1979, dinyatakan bahwa untuk daerah tropis basah, hasil tebu yang dicapai adalah 100 ton/ha dengan rendemen 12%. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: 1. Tanaman tebu, umumnya di tanam (di Jawa) dengan umur 10-14 bulan dimana 6-7 bulan memerlukan banyak air yang diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif. 2. Tanaman tebu juga memerlukan periode kering selama 2-4 bulan dimana jumlah curah hujan kurang dari 100 mm yang diperlukan untuk proses pemasakan. Jika dalam periode ini curah hujan diatas 100 mm per bulan, maka kemasakan tebu akan terlambat dan rendemen rendah. 3. Penanaman tebu yang dilakukan pada musim kemarau dimaksudkan agar saat panen nantinya akan mendapatkan periode kering yang sangat dibutuhkan untuk proses pemasakan. Jika ingin ditingkatkan produksinya perlu ditambahkan irigasi suplementer sesuai dengan kebutuhan terutama pada fase vegetatif tebu di musim kemarau. Manfaat Model WARM merupakan salah satu model prediksi potensi produksi hasil tanaman semusim untuk lahan kering dengan ansumsi input sumber air hanya dari curah hujan. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Buletin Hasil penelitian Agroklimat dan Hidrologi, BB Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor 2009.