Jamur tiram (Pleurotus sp.) salah satu jenis jamur yang dibudidayakan dengan media serbuk kayu dan dipanen dengan cukup umur, yaitu 30 hari sejak inokulasi atau seminggu setelah baglog dibuka atau 2 – 3 hari setelah munculnya primordia (pinhead, yaitu gerombolan bakal jamur) dan memenuhi standar mutu baik untuk dikonsumsi. Setelah panen, jamur tiram harus segera ditangani, jika tidak akan layu, mengeluarkan lendir dan jika terlalu basah akan berubah menjadi gelap. Penanganannya harus dengan penerapan pasca panen yang baik atau Good Handling Practices (GHP) untuk menjamin mutu dan keamanan pangan. Pasca panen jamur tiram segar meliputi kegiatan: sortasi, pembersihan, grading, penimbangan, pengemasan dan pelabelan, serta penyimpanan. 1. Sortasi, dilakukan untuk memisahkan jamur tiram dari kotoran-kotoran yang terbawa pada saat panen, seperti tanah, pasir, kerikil, daun dan lain-lain. Biasanya dilakukan bersamaan panen untuk menjaga jamur tiram tetap segar. Setelah jamur bersih dari kotoran, dilakukan sortasi selanjutnya untuk memisahkan jamur-jamur yang cacat dengan jamur yang sehat kedalam wadah yang terpisah. Jamur yang sehat dimasukan dalam wadah/keranjang dengan aerasi yang baik dan tidak lembab. Wadah tersebut jangan terlalu dalam untuk menghindari penumpukan jamur terlalu tinggi yang dapat mengakibatkan kerusakan jamur. 2. Pembersihan, dengan cara memotong akar dan pangkal tangkai jamur dengan menggunakan pisau tajam dan bersih. Lalu kotoran, spora, dan air media yang menempel pada permukaan tubuh buah jamur dibersihkan. Buah jamur yang bersih akan mempunyai daya simpan lebih lama. 3. Grading atau pengelompokan jamur berdasarkan kualitas sebagai berikut: 1) Grade A dengan ciri-ciri antara lain garis tengah antara 10 – 15 cm, berwarna putih bersih, dan kandungan air kurang 2%; 2) Grade B dengan garis tengah antara 5 - 10 cm, berwarna putih bersih, dan kandungan air 21 – 25%; dan 3) Grade C dengan garis tengah kurang dari 5 cm, berwarna putih bersih, dan kandungan air 30%. 4. Penimbangan, dilakukan untuk mengetahui berat jamur tiram sebelum dipasarkan sesuai dengan keinginan konsumen. 5. Pengemasan jamur tiram sebaiknya dilakukan sesuai grading (garde A, garde B, atau garde C). Adapun cara pengemasannya juga dibedakan, untuk dipasarkan ke pasar tradisional dengan untuk disimpan atau dipasarkan ke wilayah lain. Jamur tiram segar yang akan dipasarkan ke pasar tradisional tidak dikemas secara permanen melainkan dilakukan dengan cara curah, yaitu jamur segar dimasukan ke dalam keranjang atau wadah yang memiliki lubang dengan daya simpan hanya beberapa jam saja atau dapat dimasukan ke dalam plastik transparan biasa dengan jumlah tertentu. Tumpukan jangan terlalu tinggi, karena dapat merusak jamur. Sedangkan jamur tiram segar yang akan disimpan dan didistribusikan/dikirim ke wilayah lain, harus dikemas dengan cara cool to cool sebagai berikut: 1) Kemasan styrofoam yang dibungkus plastik dengan jarak lubang perforasi 4 x 4 cm yang berdiameter/garis tengah 1 cm guna mempertahankan kadar air, susut bobot, derajat putih, pH dan tekstur; 2) Kemasan plastik Polypropylene (PP) 0.33 mm; dan 3) Kemasan plastik dengan jenis film Polypropylene Low Density dan Polypropylene High Density. Pelabelan dilakukan setelah jamur tiram dikemas, dengan memberikan stiker/kertas/plastik di atas kemasan dengan cara di tempel, digantung atau dapat pula hanya berupa tulisan pada plastik kemasan. Label tersebut dituliskan antara lain nama produk, tanggal pengemasan, manfaat produk, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, dan cara penyimpanan. 6. Penyimpanan, merupakan usaha untuk mempertahankan daya guna suatu produk agar tetap segar sampai konsumen. Penyimpanan jamur tiram segar dilakukan setelah dikemas dengan baik, caranya antara lain: 1) Penyimpanan jamur tiram segar di dalam wadah tertutup pada suhu kamar (25 – 28oC) hanya bertahan selama beberapa jam saja; 2) Penyimpanan jamur tiram segar yang dikemas dalam plastik biasa di dalam ruang pendingin 1 - 5oC dapat mempertahankan mutu jamur hingga 3 hari; 3) Jamur tiram yang telah dikemas dalam styrofoam yang dibungkus plastik dengan jarak lubang perforasi 4 x 4 cm yang berdiameter/garis tengah 1 cm pada suhu dingin 10oC dan dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram hingga 10 hari; 4) Penyimpanan jamur tiram segar yang sudah dikemas dalam plastik Polypropylene (PP) 0.33 mm pada suhu 5oC dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 17 – 20 hari, sedangkan pada suhu 10 oC hanya dapat mempertahankan kesegaran 8 - 10 hari; dan 5) Penyimpanan jamur tiram segar yang sudah dikemas dalam plastik jenis film Polypropylene Low Density dan Polypropylene High Density pada tempat dengan suhu 5 - 10oC dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram kurang dari 8 hari. Perlu diperhatikan, bahwa kemasan jamur tiram yang akan didistribusikan harus dilengkapi dengan fasilitas pendingin. Penulis: Susilo Astuti Handayani (Penyuluh Pertanian Pusluhtan)Sumber informasi:1. Pedoman Teknologi Penanganan Pasca Panen Jamur. Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2011.2. Buku Saku Sayuran. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2010.3. Buku Tahunan Hortikultura Seri: Tanaman Sayuran. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2010.