Kenapa saya disini menulis tentang sagu? Karena Selasa, 19 Desember lalu saya mengikuti FGD tentang pemanfaatan sagu di Jakarta. Disitu saya mendengar tentang pohon sagu dan kandungannya. Dan saat itu baru saya tau bahwa di Provinsi Lampung ada tanaman sagu di Kabupaten Lampung Selatan, walaupun setelah acara saya konfirmasi ke petugas kabupaten ternyata sudah tidak dibudidayakan kembali. Hanya saja saya tertarik dengan yang disampaikan oleh pemateri tentang mudahnya membudidayakan sagu. Sagu berasal dari Indonesia dan merupakan tanaman hutan hujan tropis sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Untuk prakiraan luas total hutan sagu di Indonesia seluas 1,25 juta hektar dengan prodktivitas kebun 10 sampai dengan 15 ton pati per hektar per tahun. Ini berarti potensi pati sagu sebanyak 12,5 juta ton per hektar dan ini memenuhi konsumsi pangan karbohidrat sebanyak 60 kg per kapita per tahun artinya mampu memenuhi sekitar 500 juta manusia. Sampai saat ini teknologi pengolahan sagu sendiri ada yang tradisional, semi mekanis dan mekanis. Apa saja kelebihan dari pati sagu ini? Pati sagu merupakan bahan organik yang mengandung kadar pati tinggi dan rendah protein sehingga tahan bila lama disimpan. Pati sagu juga memiliki Indeks Glikemik rendah dan Kadar RS tinggi sehingga menjadi pangan sehat dan merupakan produk asli Indonesia. Sagu juga tahan terhadap kekeringan dan produktifitas pati paling tinggi diantara sumber karbohidrat lainnya seperti padi, jagung, kentang, ubi kayu dan ubi jalar maka kandungan pati yang tertinggi ada pada sagu. Pati juga mengandung polifenol yang tinggi sehingga baik sebagai anti oksidan. Untuk panganan yang berasal dari sagu ini, saat ini sudah banyak bahan pangan yang dikembangkan, contohnya mie sagu, beras sagu, dan pati sagu, hanya saja perlu disosialisasikan dan dipromosikan sehingga masyarakat secara luas dapat mengetahui produk-produk inovatif berbahan dasar sagu. Bahan pangan berbasis sagu juga dapat menurunkan kadar gula dalam darah sehingga bisa menjadi alternatif pangan pengganti nasi bagi orang yang terkena diabetes. Di akhir FGD, peserta rapat melakukan perumusan terhadap sagu. Kedepan diharapkan pemerintah dapat menjadikan sagu sebagai sumber pangan strategis nasional. Sekian artikel dari saya, semoga bermanfaat. Penulis : NetySumber : Berbagai sumber