Dalam usaha agribisnis apa saja, kegiatan pelabelan, penyimpanan dan pengangkutan produk harus ditangani dengan baik, karena kegiatan ini sangat berdampak terhadap harga dan kualitas produk. Produk memiliki identitas kualitas yang jelas, disimpan dan diangkut sesuai Standard Operasional Prosedur (SOP), maka produk tersebut akan tetap segar sampai di tangan konsumen. 1. PelabelanPelabelan bertujuan untuk menunjukkan identitas produk. Label ditempatkan pada kotak kemasan dan diberi stiker kecil yang ditempelkan pada buah sebagai identitas kelas buah dan produsen. Secara umum petunjuk pelabelan ini juga dinyatakan dalam SNI Pisang 7422 - 2009.Label pada kemasan memuat informasi identitas produk sesuai dengan kebutuhan (dapat mencakup informasi nama dan varietas buah, nama dan alamat perusahaan eksportir, pengemas dan atau pengumpul, asal buah, kelas, ukuran serta bobot buah).2. Penyimpanan dan PengangkutanTujuan penyimpanan adalah untuk mengontrol permintaan pasar tanpa menimbulkan banyak kerusakan atau penurunan mutu dengan cara menghambat proses enzimatis, dengan meniadakan terjadinya respirasi dan transpirasi. Fasilitas penyimpanan diperlukan bila produksi buah meningkat. Penyimpanan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: (a) penyimpanan secara alami, yang dilakukan apa adanya tanpa menggunakan sarana atau perlakuan tertentu seperti yang dilakukan di India. Buah pisang yang sedang berbuah dan cukup tua tidak dipanen, tetapi pohonnya dipindahkan dan ditanam lagi di tempat lain dengan cara akar-akarnya dipotong terlebih dahulu sehingga keperluan air dan zat hara berkurang. Cara penyimpanan ini sangat ekonomis dan hasilnya dapat matang sempurna, (b) penyimpanan yang menggunakan sarana-sarana tertentu, yang dapat dibagi 3 bagian, yaitu: 1. Penyimpanan pada suhu rendah. Penyimpanan pada suhu rendah atau dingin antara 15 – 20 C atau tergantung varietas adalah penyimpanan buah pisang pada suhu diatas titik beku sehingga produk tidak membeku dan daya simpannya cukup lama. Suhu rendah ini biasanya diikuti dengan kelembaban nisbi yang optimum sehingga produk tetap segar dan tidak mengalami kekeringan. Suhu dan kelembaban dari berbagai macam buah tidak sama. Pada prinsipnya penyimpangan pada suhu dingin untuk menekan terjadinya respirasi dan transpirasi sehingga proses ini berjalan lambat. Akibatnya, daya simpan menjadi cukup panjang, susut beratnya menjadi minimal serta mutunya masih tetap baik. Penyimpanan dengan suhu 10 C dan kelembaban 85 – 90% serta buah yang disimpan masih berwarna hijau akan bertahan selama 5 minggu dan buah yang sudah masak mempunyai daya simpan 11 hari.2. Penyimpanan dengan pelapisan lilin, yaitu penyimpanan buah dengan mencelupkannya buah pisang mentah ke dalam emulsi lilin yang dikombinasikan dengan pestisida. Dengan cara ini buah pisang dapat tahan disimpan selama 13 hari.3. Penyimpanan dengan menggunakan KMnO4, bertujuan untuk menyerap etilen yang dihasilkan oleh buah, sehingga kematangan buah dapat dihambat dan tahan disimpan selama 3 minggu pada suhu ruang. Selain itu dapat menggunakan asam silisilat 500 ppm dan kasium klorida (CaCl2).Pengangkutan menjadi titik kritis dalam penanganan pasca panen pisang. Selama pengangkutan, mutu pisang harus dijaga agar tidak mengalami kerusakan seperti memar, pecah, busuk, dan lainnya. Untuk menjaga mutu tersebut, dapat dipergunakan sarana pasca panen seperti keranjang buah, boks karton, kemasan plastik, jaring, styrofoam dan lainnya. Jarak dan waktu tempuh harus diperhatikan dengan tingkat kematangan pisang yang akan diangkut untuk menghindari sehingga saat sampai ke tangan konsumen pisang sudah terlalu masak, atau hanya memiliki waktu konsumsi yang sangat singkat. Juga harus dihindari adanya kontak langsung dengan sinar matahari selama dalam proses pengangkutan. Hal ini akan menyebabkan buah mengalami penurunan tingkat kesegaran. Moda pengangkutan yang dapat digunakan bervariasi, ada yang menggunakan alat pengangkutan terbuka maupun tertutup. Disarikan oleh : Lasarus, Pusat Penyuluhan PertanianSumber : 1. Pedoman Penanganan Pascapanen Pisang, 2012. Direktorat Budidaya dan Pascapanen Buah, Ditjen Hortikultura.2. Suyanti, A. Supriyadi, 2008. Pisang, Budidaya, Pengolahan, Prospek Pasar, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.