Loading...

PELATIHAN BAGI PELATIH PENYULUH DAN PETANI PEMANDU IKLIM

PELATIHAN BAGI PELATIH PENYULUH DAN PETANI PEMANDU IKLIM
Faktor cuaca sangat menentukan keberhasilan suatu usaha tani. Oleh karena itu kita sebagai petani paling tidak harus mampu memahami pengaruh unsur-unsur cuaca maupun iklim terhadap pertumbuhan tanaman. Sehingga kita bisa selalu waspada terhadap adanya perubahan cuaca atau iklim. Selain itu itu sebagai petani kita juga harus bisa membaca kondisi cuaca dan mengambil sikap untuk mengantisipasinya. Kalau kita tidak bisa mengantisipasi terhadap adanya perubahan cuaca yang terjadi bisa jadi usaha tani kita akan terancam penurunan hasil atau bahkan bisa terjadi kegagalan. Dalam rangka meningkatkan pengetahuan para penyuluh dan petani tentang iklim dan pengaruhnya terhadap sektor pertanian, maka diselenggarakanlah pelatihan Iklim bagi pelatih Penyuluh dan Petani Pemandu selama 4 (empat) hari dari tanggal 14 sampai 17 November 2016. Peserta yang hadir dari Penyuluh sebanyak 12 orang dan dari Petani sebanyak 18 orang yang berasal dari 5 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yaitu BPP Sukra, Cikedung, Lelea, Widasari dan Bangodua. Pelatihan ini bekerja sama antara Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Indramayu dengan Pusat Kajian Antropologi Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Tujuan dari adanya pelatihan ini aadalah merubah perilaku petani yang tadinya tidak mempertimbangkan pengaruh iklim, diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini dengan bimbingan penyuluh pertanian, mereka bisa mengukur dan menghitung curah hujan sendiri, bisa mengevaluasi hasil pengukuran tersebut dan mampu merencanakan kegiatan usahataninya dengan baik mulai dari pemilihan varietas, kapan tanam dan bagaimana menyesuaikan dengan iklim yang ada. Hasil akhir yang diharapkan adalah setiap usahatani yang dilakukannya mendapatkan keuntungan, karena terhindar dari bencana.Materi yang disampaikan terdiri dari Pengenalan Iklim dan Cuaca, Menghitung dan mengukur Curah Hujan, Pengaruh Radiasi Bagi Pertanaman, Penentuan Curah Hujan, Pengamatan Agroekosistem dan Penanganan Panen serta Pasca Panen. Sedangkan metoda yang disampaikan lebih banyak diskusi dan ungkapan pengalaman petani dalam berusahatani padi.Fasilitator pada pelatihan ini merupakan tim dan semuanya berasal dari Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia dengan ekspert Mrs. Kees Stigter dari Amerika Serikat. Kepala Badan dalam sambutannya menyampaikan bahwa perubahan fenomena alam yang ekstrim ini menambah kompleksitas permasalahan ketahanan pangan global. Implikasi dari permasalahan tersebut adalah bahwa variasi perubahan pasokan dan harga pangan dunia yang semakin besar dan sulit untuk diprediksi. Ditambah lagi dengan adanya kenyataan perilaku negara-negara pemasok bahan pangan dunia yang cenderung melakukan pengurangan ekspor pangannya manakala negara tersebut mengalami dampak negatif dari perubahan iklim global di negara masing-masing.Perubahan iklim global yang ekstrim sebagai suatu ancaman terhadap pembangunan pertanian dan ketahanan pangan nasional. Dampak negatif perubahan ekstrim iklim global di antaranya adalah: (1) terjadinya degradasi sumberdaya lahan dan air, (2) terjadinya kerusakan pada infrastrukur pertanian/irigasi, (3) timbulnya bencana banjir dan kekeringan dan (4) meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Dampak perubahan iklim global tersebut berpotensi mengancam penurunan produktivitas, produksi, mutu hasil pertanian, serta menurunnya efesiensi dan efektifitas distribusi pangan, yang berujung kepada rentannya ketahanan pangan di suatu wilayah dan pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kehidupan sosial dan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.Dalam rangka mengantisipasi dampak perubahan iklim tersebut, kebijakan pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk: Meningkatkan produksi pertanian secara berkelanjutan; Mengembangkan perekonomian pedesaan; Stabilitas harga pangan; Meningkatkan kemampuan daerah dalam pelaksanaan jaring pengaman sosial;Mengembangkan kemampuan early warning system; Pengembangan jaringan kerjasama regional/internasional.Beberapa point yang harus kita perhatikan pengaruh iklim terhadap pertanian antara lain : 1. Pengaruh Suhu dan Radiasi Matahari Pengaruh iklim terhadap tanaman diawali oleh pengaruh langsung cuaca terutama radiasi dan suhu terhadap fotosintesis, respirasi, transpirasi dan proses-proses metabolisme di dalam sel organ tanaman. Fotosintesis hanya berlangsung siang hari. Adapun intensitas respirasi daun sepenuhnya dipengaruhi oleh suhu udara dan berlangsung secara terus-menerus sepanjang umur tanaman. Maka semakin rendah suhu udara harian akan semakin rendah penggunaan karbohidrat untuk respirasi. Produksi gugus karbohidrat netto harian pada tanaman merupakan produk bruto fotosintesis siang hari dikurangi pemanfaatan untuk respirasi selama 24 jam. Maka pada kisaran toleransi, semakin tinggi intensitas radiasi PAR yang berlangsung semakin lama, disertai suhu udara yang rendah akan menghasilkan produk fotosintesis netto yang semakin tinggi. Proses fotosintesis dan respirasi tergantung pada pengaruh radiasi surya, gas CO2 dan O2 di atmosfer, kadar air di daerah perakaran (tanah), pengaruh suhu udara dan suhu tanah. Sedangkan seluruh unsur khususnya iklim mikro di sekeliling tumbuhan saling berinteraksi. Dapat disimpulkan fotosintesis dan respirasi dipengaruhi langsung oleh unsur cuaca/iklim utama yaitu radiasi surya dan suhu sebagai faktor utama (main factors) dan unsur-unsur lainnya sebagai pendukung (cofactors). Radiasi surya (matahari) terdiri atas : intensitas radiasi (kal/cm2/menit , W/m2)Radiasi surya, suhu udara dan suhu tanah akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan dan perkembangan, kuantitas produksi dan mutu hasil panen, intensitas cahaya/PAR (foot candle, lux, lumen) adalah ketersediaan cahaya sebagai sumber energi untuk pembuatan karbohidrat, lama penyinaran (jam/hari, %), panjang hari (jam/hari). Pengaruh suhu terhadap tanaman terutama pada proses fisiologi tanaman seperti : bukaan stomata (mulut daun), laju transpirasi, laju penyerapan nutrisi dan air, fotosintesa dan respirasi. Peningkatan suhu sampai titik optimum akan diikuti oleh proses diatas. Jika melewati titik optimum maka proses tersebut mulai dihambat baik secara fisik maupun kimia, dan menurunnya aktivitas enzim). 2. Pengaruh Angin dan Kecepatan Angin Angin merupakan salah satu unsur cuaca yang dapat berpengaruh terhadap lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara luas angin akan mempengaruhi unsur cuaca yang lain seperti suhu, kelembaban udara maupun pergerakan awan. Arah datangnya angin akan berpengaruh terhadap kandungan uap air yang dibawanya. Ketika angin banyak mengandung air maka akan terbentuk awan. Hal ini terjadi pada saat awal musim hujan. Selain itu, angin yang banyak mengandung uap air akan meningkatkan kelembaban udara dan dapat pula menurunkan suhu udara. Angin dalam budidaya pertanian dapat berpengaruh langsung seperti merobohkan tanaman. Namun pengaruh angin secara tidak langsung sangat komplek baik yang menguntungkan maupun merugikan bagi tanaman. Dengan adanya angin maka akan membantu dalam penyerbukan tanaman dan pembenihan alamiah. Namun kelemahannya juga akan terjadi penyerbukan silang dan penyebaran benih gulma yang tidak dikehendaki. Selain itu angin merupakan salah satu penyebar hama dan patogen yang dapat mempertinggi serangan hama san penyakit yang akan sangat merugikan. Angin adalah udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Dalam mengukur kecepatan angin terdapat istilah kecepatan angin rata-rata. Kecepatan angin rata-rata adalah jumlah seluruh kecepatan angin pada saat pengamatan di bagi dengan jumlah pengamatan tanpa memperhatikan arah angin. Alat untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer. Kecepatan angin dapat diukur dalam satuan meter per detik, kilometer per jam, atau knot (1 knot– sekitar 0,5 m/s). Arah angin diukur dalam satuan derajat yaitu utara 360°, selatan 180°, timur 90°, barat 270°, dan seterusnya. Beberapa contoh angin yang diberi nama sesuai dengan arah datangnya angin yaitu angin darat adalah angin yang datang dari darat menuju lautan dan angin laut, yaitu angin yang menuju darat dari lautan. 3. Pengaruh Curah HujanCurah hujan (mm) mempengaruhi tanaman melalui proses evaporasi (proses kesediaan air pada pori-pori tanah yang menguap karena peningkatan suhu dan radiasi surya). Jika curah hujan tinggi maka cadangan air yang ada di permukaan tanah (pori-pori tanah) lebih besar dibandingkan dengan penguapan air akibat proses evaporasi. Fungsi air bagi tanaman : Penyusun tubuh tanaman sekitar 70% - 90 %, Sebagai pelarut dan media reaksi biokimia pada tanaman, Medium (perantara) pembawa senyawa (molekul) nutrisi/hara (seperti ; nitrogen/kalium/kalsium/fosfor,dll) bagi tanaman, Berperan pada proses pembelahan sel pada tanaman, Sebagai bahan baku foto sintesa, Menjaga suhu tanaman agar tetap konstan 4. Pengaruh Kelembaban udara Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Yaitu oleh temperatur, kelembaban udara dan fotoperiodisitas (perbedaan lamanya siang dan malam) berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause (masa hibernasi atau aestivasi ) serangga. Pengaruh kejadian iklim ekstrim sering kali menstimulasi ledakan (outbreak) beberapa hama dan penyakit utama tanaman padi, seperti tikus, penggerek batang, wereng coklat dan tungro. 5. Pengaruh Tekanan UdaraPengaruh tekanan udara terhadap tanaman mungkin tidak bersifat langsung. Tekanan udara mempengaruhi terhadap proses penyediaan lengas tanah (cadangan air pada permukaan atas tanah) melalui proses pengembunan uap air diudara. Jika tanah mempunyai lengas tanah yang tinggi, maka akan membantu proses perkecambahan benih tanaman yang ditanam di atas permukaan tanah. Penurunan cadangan lengas tanah bisa dihindari dengan memasang mulsa, dan tanaman peneduh agar suhu udara dan suhu tanah tidak meningkat yang dapat memacu peningkatan penguapan air pada permukaan tanah (evaporasi). Semoga dengan tambahan ilmu pengetahuan tentang pengaruh iklim terhadap pertanian khususnya usahatani padi dan hortikultura, para petani menjadi terampil dalam mengukur dan menghitung curah hujan serta mampu menganalisa / memprediksi cuaca di masa yang akan datang. Diharapkan pula dari pertimbangan tersebut kegiatan usahatani yang digelutinya terhindar dari bencana, sehingga produksinya bagus dan memperoleh pendapatan yang layak. (Edi Harnadi)