Loading...

PELATIHAN BUDIDAYA TEBU KEGIATAN PENDAMPINGAN KAWASAN TANAMAN PERKEBUNAN TAHUN 2018

PELATIHAN BUDIDAYA TEBU KEGIATAN PENDAMPINGAN KAWASAN TANAMAN PERKEBUNAN TAHUN 2018
Salah satu komoditi utama sektor perkebunan di Kabupaten Lampung Tengah khususnya Kecamatan Terusan Nunyai yaitu tanaman tebu. Komoditi ini memiliki kontribusi yang cukup besar karena merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Pemerintah pun berusaha meningkatkan produksi dan produktivitas tebu guna mencapai swasembada gula. Sejak tahun 2014, Kecamatan Terusan Nunyai ditetapkan menjadi kawasan sentra produsen tebu. Hal ini disebabkan karena terdapat pabrik gula (PG) PT. Gunung Madu Plantations (PT. GMP) yang memiliki areal pertanaman tebu yang sangat luas. Hingga saat ini untuk areal tebu produktif saja PT. Gunung Madu Plantations memiliki luas sekitar 25 ribu hektar. Untuk meningkatkan produksi gula nasional pemerintah bekerjasama dengan pihak PT. GMP untuk melakukan kemitraan dengan petani di sekitarnya. Pada tahun 2014 kemitraan mulai terjalin antara petani dengan pihak PG. Pemerintah pun turut melakukan pendampingan dengan memberikan bantuan sosial kepada para petani tebu yang bermitra berupa permodalan maupun alat mesin pertanian (Alsintan). Para petani tebu yang tergabung dalam kelompok tani dapat mengakses bantuan tersebut melalui Koperasi Karya Madu Mandiri. Sekarang program kemitraan tebu sudah terjalin selama 4 tahun. Namun masih banyak petani yang belum mengetahui tentang teknik budidaya tebu yang tepat sehingga usaha taninya masih belum menghasilkan tebu secara optimal. Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas lahan tebu, maka dilaksanakan Pelatihan Budidaya Tebu yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Pertanian (BPTP) Provinsi Lampung dan bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Terusan Nunyai.Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 10 dan 11 Desember 2018 di kediaman Bapak Abdul Mukti di Jalan Polri Kampung Bandar Agung Kecamatan Terusan Nunyai. Pelatihan dihadiri oleh 40 orang petani tebu sebagai peserta, Tim BPTP Lampung yang terdiri dari enam orang diketuai oleh Ibu Soraya, dan para Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Terusan Nunyai (5 orang). Pada hari pertama pelatihan agenda berupa teori mengenai Teknis Budidaya yang disampaikan oleh Bapak Haryadi, S.ST selaku Korluh Terusan Nunyai, materi Penanganan & Pascapanen Tebu (Tebang Muat Angkut) disampaikan oleh Ibu Renny Kusumah Dewi, S.P selaku PPL Kampung Bandar Agung dan materi mengenai hama penyakit tebu oleh Bapak Wahyu Tri Cahyono selaku petani berpengalaman yang sebelum purna-tugas merupakan pegawai di bagian riset PT. GMP. Pada hari kedua pelatihan yaitu tanggal 11 Desember 2018 dilakukan praktik pembuatan bokasi (bahan organik terfermentasi). Bahan organik yang menjadi bahan utama yaitu bagasse yang merupakan limbah dari pengolahan tebu. Bagasse dipilih menjadi bahan utama karena ketersediaannya yang cukup banyak yang diperoleh dari pabrik gula merah tebu yang dimiliki oleh Bapak Abdul Mukti yang terletak tidak jauh dari kediamannya. Selama ini bagasse hanya digunakan untuk bahan bakar memasak nira dalam proses pembuatan gula merah tebu. Dengan adanya pelatihan ini maka bagasse yang merupakan limbah dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos yang kemudian dapat diaplikasikan ke lahan tebu untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Para petani tebu sangat antusias selama mengikuti kegiatan pelatihan. Bahkan mereka merasa perlu diadakan pelatihan-pelatihan lanjutan agar dapat mengetahui perkembangan informasi dan teknologi terkini mengenai budidaya tebu agar dapat diaplikasikan ke lahan pertaniannya dengan tujuan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tebu. Jika swasembada gula nasional tercapai maka pemerintah tidak perlu lagi melakukan impor gula yang dapat menyebabkan melemahnya harga tebu di tingkat petani lokal. (red. Renny Kusumah Dewi)