Loading...

PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK 2016

PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK 2016
Latar BelakangMemasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintesis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan "Back to Nature" telah menjadi tren baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia yang non alami, seperti pupuk, pestisida sintesis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian.Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati tropika yang unik, sinar matahari melimpah, air dan tanah serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanianorganik yang sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun. Oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Untuk menunjang pertanian organik maka dibutuhkan pupuk yang organik pula agar hasil dari pertanian tersebut benar-benar organik, sebab pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia.Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa - sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah). Pupuk organik mencakup semua bahan yang dihasilkan dari makhluk hidup dan bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman, seperti kotoran hewan, kotoran cacing, kompos, rumput laut, guano, dan bubuk tulang. Kotoran hewan merupakan limbah yang seringkali menjadi masalah lingkungan, sehingga penggunaan kotoran hewan sebagai pupuk dapat menguntungkan secara lingkungan dan pertanian. Tulang hewan sisa penyembelihan hewan bisa dijadikan bubuk tulang yang kaya kandungan fosfat.Pupuk organik diketahui mampu meningkatkan keanekaragaman hayati pertanian dan produktivitas tanah secara jangka panjang. Pupuk organik juga dapat menjadi sarana sekuestrasi karbon ke tanah. Nutrisi organik dapat meningkatkan keanekaragaman hayati tanah dengan menyediakan bahan organik dan nutrisi mikro bagi organisme penghuni tanah seperti jamur mikoriza yang membantu tanaman menyerap nutrisi dan dapat mengurangi input pupuk. Pupuk adalah material tertentu atau senyawa organik/ an organik yang ditambahkan ke media tanam atau tanaman dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga tanaman dapat berproduksi dengan baik.Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meliputi unsur hara makro seperti Nitrogen (N), Phosphor (P) dan Kalium (K) serta mineral-mineral mikro seperti Mangan (Mn), Besi (Fe), Seng (Zn), Boron (B), Cobalt (Co), dll. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral).Semakin lama kondisi tanah / lahan di Kota Semarang semakin kecil dan sempit dikarenakan alih fungsi lahan yang pelan namun pasti. Di sisi lain Kota Semarang masih ada potensi untuk lahan pertanian yang mana tingkat kesuburannyapun semakin berkurang. Upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah perlu penanganan khusus antara lain dengan memberikan pupuk organik di dalam proses penanaman.Pemberian pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan unsur hara tanaman dengan takaran yang tepat karena pemberian pupuk yang terlalu banyak atau terlalu sedikit akan mengganggu pertumbuhan tanaman dan merusak ekosistem tanah.Saat ini sedang trend yang dinamakan Pupuk Hayati. Pupuk Hayati adalah Pupuk yang berasal dari makhluk hidup (mikroorganisme) yang berukuran sangat kecil. Mikroba ini dianggap mampu memperbaiki kesuburan tanah serta meningkatkan produksi tanaman budidaya. Pupuk yang kita berikan dalam pengolahan tanah dan tanaman sebaiknya merupakan pupuk organik agar keberadaan kesuburan tanah dapat terjaga dan terpelihara dengan baik. Pupuk organik tersebut bisa diperoleh dari pengolahan sisa hijauan/limbah tanaman atau juga dengan pengolahan limbah kotoran ternak.Semarang masih memiliki jumlah populasi ternak yang cukup besar. Selain dimanfaatkan dagingnya, ternak dapat juga kotorannya yaitu dengan mengolah kotoran ternak untuk menjadi pupuk organik. Namun masih banyak peternak yang belum mampu dan mau mengelola kotoran ternaknya untuk dijadikan pupuk organik.Dengan merubah limbah hijauan atau limbah dedaunan serta limbah kotoran ternak menjadi pupuk diharapakan pertanian di Indonesia dapat tumbuh dengan subur. Beberapa limbah yang dikomposkan, jika tidak diolah secara tepat, dapat menjadi sarana pertumbuhan patogen yang merugikan tanaman. Kotoran ternak juga sudah biasa digunakan untuk pupuk, namun apabila tidak diproses dengan benar ternyata dapat menjadi sumber masalah, yaitu menimbulkan hama dan penyakit bagi tanaman sehingga jamur, bakteri, rumput pengganggu tanaman (gulma) serta serangga pengganggu tanaman dapat berkembang dengan subur. Untuk menghindari semua itu maka perlu dilakukan tindakan yang benar dalam proses pengomposan atau proses pembuatan pupuk.Pupuk organik merupakan pupuk yang bersifat kompleks karena ketersediaan senyawa yang ada pada pupuk tidak berupa unsur ataupun molekul sederhana yang dapat diserap oleh tanah secara langsung. Kadar nutrisi yang tersedia sangat bervariasi dan tidak dalam bentuk yang tersedia secara angsung bagi tanaman sehingga membutuhkan waktu lama untuk diserap oleh tanaman.Di daerah pedesaan masih banyak petani peternak yang belum memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik. Mereka umunya belum memanfaatkan limbah ternak ataupun limbah pertanian dengan baik. Masih banyak limbah pertanian dan peternakan yang terbuang dengan sia-sia karena ketidak tahuan dan ketidak mampuan petani, sementara di sisi lain bahan-bahan tersebut tersedia banyak di sekitar kita, misalnya limbah ternak yang berasal dari rumah potong hewan (tulang, darah, dll), limbah industri berbahan pertanian (limbah pabrik gula, minyak kelapa sawit, dll) serta limbah pertanian yang berasal dari sisa-sisa proses pertanian (sekam, jerami, dll) Maksud dan Tujuan Pelatihan1. Meningkatkan SDM dan pengetahuan petani dan masyarakat utamanya bagi petani peternak.2. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan konsumsi hasil produk pertanian organik dan bebas pestisida.3. Sebagai media dan ajang bimbingan dalam pembuatan pupuk organik.4. Memanfaatkan kotoran hewan serta limbah pertanian (seperti sekam, jerami, ampas tahu) menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi tinggi.5. Meningkatkan pendapatan petani dan keluarganya. Sasaran Pelatihan1. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petani / masyarakat.2. Terlatihnya petani, anggota masyarakat di 8 (delapan) Kecamatan di Kota Semarang, serta PKK Kota Semarang. Manfaat Pelatihan1. Menumbuhkan kesadaran petani/masyarakat dalam hal pemanfaatan limbah pertanian atau limbah kotoran ternak.2. Meningkatkan pengalaman dan kemampuan masyarakat umumnya tentang pupuk organik. Peserta PelatihanPeserta pelatihan sejumlah 55 orang terdiri dari :1. Petani, KWT dan Masyarakat dari 8 Kecamatan se Kota Semarang2. PKK Kota Semarang3. Petugas pendamping (PPL) dan Tim Pelaksana Kegiatan Pembuatan Pupuk Organik. Narasumber 1. Haris Cahyo S, SP. Penyuluh Pertanian Lapangan Wil. Kecamatan Tembalang2. Munanto Ketua Kelompok Tani Tlumpak Makmur (Kel. Tandang - Kec. Tembalang) Pelaksanaan Pelatihan Hari : Kamis dan JumatTanggal : 26 dan 27 Mei 2016Waktu : 09.00 Wib – SlsiTempat : Balai Penyuluhan Pertanian, Mijen – Semarang. (SUMBER : LAPORAN KEGIATAN )