Loading...

Pelatihan Pengembangan Teknologi Jajar Legowo dengan Pemakaian Alat Tanam Padi (Rice Transplanter)

Pelatihan Pengembangan Teknologi Jajar Legowo  dengan Pemakaian Alat Tanam Padi (Rice Transplanter)
Dalam upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan khususnya untuk komoditas padi, BP4KKP Pasbar mengadakan pelatihan pengembangan teknologi jajar legowo dengan pemakaian alat tanam padi (rice transplanter). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Nopember 2016 bertempat di lahan petani poktan Pulau Harapan Bandarejo Kecamatan Pasaman pukul 09.00 sampai selesai. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh penyuluh THL TBPP se Pasbar, koordinator penyuluh dan penyuluh programa kecamatan se Pasbar sebanyak 60 orang disertai dengan anggota poktan Pulau Harapan. Acara ini juga dihadiri oleh kepala BP4KKP Bapak Gustiwarman sekaligus membuka acara pelatihan, selain itu juga dihadiri dari Wali Nagari dan dari Kecamatan Pasaman Dalam sambutannya, Bapak kepala BP4KKP menceritakan kondisi kekinian dan masa lampau yang pernah beliau rasakan semasa menjadi penyuluh diera 80 an. "Tahun 80 an jorong Bandarejo ini merupakan basis tanaman padi lumbung beras, sangat kontra dengan kondisi sekarang dimana kondisi sawah sudah semakin sedikit, sudah banyak yang beralih fungsi ke komoditas lain seperti tanaman jagung dan kelapa sawit, ini sangat memprihatinkan kita semua" ungkap beliauKepala BP4KKP mengajak semua pihak untuk menyukseskan program pemerintah nawacita dibidang pertanian yaitu mencapai swasembada pangan dan swasembada berkelanjutan kalau bisa kita surplus atau eksport. Sekarang ini kita masih import walaupun hanya untuk stock (cadangan) dan belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Oleh karena itu sangat diperlukan kerjasama kita semua saling bersinergi antara petani, penyuluh dan pemangku kepentingan. Seorang penyuluh sebagai garda terdepan yang selalu berinteraksi langsung dengan pelaku utama berperan dalam menyampaikan teknologi informasi kepada petani guna meningkatkan produksi usahataninya. Penyuluh dan pembuat kebijakan mengajak petani yang memiliki lahan sawah untuk mengembalikan fungsinya dengan membuat regulasi yang sesuai karena perilaku petani sangat berperan dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan yang tidak merusak lingkungan (sustainable farming) menggunakan teknologi tapi yang ramah lingkungan. Petani sebagai pelaku utama bisa mengakses fasilitas yang diadakan pemerintah untuk mendukung usahataninya seperti bantuan sosial benih dan pupuk bersubsidi, bantuan alsintan, sarana prasarana seperti jalan usahatani, rehabilitasi jaringan irigasi, kredit usaha seperti KUR, KKPE, KUPS, AUTP dll. semua fasilitasi itu diadakan pemerintah untuk petani demi tercapainya cita bersama yaitu swasembada panganMateri teknik Jajar Legowo (Jarwo) secara teknis sudah dipahami oleh penyuluh dan penyuluh berkewajiban menyampaikan kepada petani dalam materi penyuluhannya di WKP. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DPTPHP) Pasbar yang sejatinya menjadi narasumber Teknik Jarwo dalam hal ini Ibu Nenny Nurlina hanya meyampaikan beberapa fasilitasi dinas pertanian yang digalakan pemerintah untuk Kabupaten Pasaman Barat. Sejak tahun 2015 telah digalakan sistem jarwo ini sebanyak 2500 Ha. Berdasrkan hasil laporan dan evaluasi tekologi ini bisa meningkatkan produksi mencapai 9 ton/ Ha (Talamau). Tahun 2016 bantuan benih padi untuk 3500 Ha. Sudah terbentuk sebanyak 6 kelompok penangkar benih, adanya kegiatan GPPTT, SL PTS, POL dll. Ibu Nenny kembali menghimbau petani padi yang terlanjur mengalihfungsikan lahannya ke komoditas selain padi agar mengembalikan fungsi lahan sawah ke asalnyaAcara ini diakhiri dengan demonstrasi pemakaian alat tanam padi (rice transplanter) oleh penyuluh. Sebelum dipraktikan dipandu dulu oleh Bapak Roni bagaimana instruksi pemakaian alat, dan selanjutnya didemonstrasikan oleh Bapak Saridin (Zuhelmi, Penyuluh SRP)