Loading...

PELUANG PEMAMFAATAN JERAMI JAGUNG MENDUKUNG KETERSEDIAAN PAKAN TERNAK SAPI

PELUANG PEMAMFAATAN JERAMI JAGUNG MENDUKUNG KETERSEDIAAN PAKAN TERNAK SAPI
PELUANG PEMAMFAATAN LIMBAH JAGUNG MENDUKUNG KETERSEDIAAN PAKAN TERNAK SAPI Faktor utama penentu keberhasilan dalam usaha peternakan adalah penyediaan pakan. Salah satu penyediaan pakan bagi ternak ruminansia adalah dengan pemanfaatan pakan asal sisa hasil pertanian, perkebunan maupun agroindustri. Salah satu sisa tanaman pangan yang mempunyai potensi cukup besar adalah jagung. Apabila limbah yang banyak tersebut tidak dimanfaatkan, maka akan memicu terjadinya pencemaran lingkungan. Untuk itu, agar pencemaran limbah dapat diminimalisir perlu adanya pemanfaatan limbah agar mempunyai daya guna.Seiring dengan kebutuhan jagung yang cukup tinggi, maka akan bertambah pula limbah yang dihasilkan dari industri pangan dan pakan berbahan baku jagung. Limbah tanaman jagung biasanya berupa jerami, tongkol, dan klobot atau kulit jagung yang jumlahnya cukup banyak. Sebanyak 20-30% dari setiap 100 kg jagung yang dihasilkan adalah limbah jagung. Limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Menurut hasil penelitian, 1 hektar tanaman jagung akan menghasilkan 9 ton dan diperkirakan 1,8-2,7 tonnya adalah limbah. Seringkali limbah yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan, padahal limbah jagung berpotensi sebagai sumber pakan.Dengan demikian perlu adanya inovasi pemanfaatan limbah jagung ini agar lebih bermanfaatmenjadi bahan pakan dimanaketersediannya cukup, merupakan hasil potensi daerah, ekonomis dan banyak terdapat di daerah sekitar sehingga mampu menekan biaya pakan.Namun pada dasarnya limbah jagung sampai saat ini pemanfaatannya kurang maksimal, padahal jumlahnya sangat melimpah.Limbah yang dihasilkan diantaranya adalah jerami, klobot, dan tongkol jagung yang biasanya tidak dipergunakan lagi ataupun nilai ekonominya sangat rendah. Pemanfaatan JeramiJagungPemamfaatan hasil ikutan tanaman jagung berupa batang dan daun yang masih muda, dikenal sebagai jerami jagung dimamfaatkan sebagai hijauan makanan ternak. Selain diberikan sebagai hijauan segar, jerami jagung juga dapat diberikan sebagai hijaun pakan ternak olahan dalam bentuk hay dan silase. Hasil pertanian seperti jerami jagung jika dicampur dengan bahan pakan lain yang mempunyai kandungan nutrien lengkap akan menghasilkan susunan pakan yang rasional dan murah.Pembuatan hay dilakukan dengan dua cara yaitu model hamparan dan model pod. pembuatan hay model hamparan, dengan cara menghamparkan jerami jagung yang sudah dipotong-potong dilapangan terbuka dibawah sinar matahari. setiap hari dilakukan pembalikan berulang-ulang sampai kering baru bisa disimpan dan dapat digunakan pada saat musim paceklik pakan ternak. pembuatan hay dengan model pod diperlukan sedikit tambahan biaya, diperlukan rak sebagai tempat menyimpan jerami jagung yang telah dijemur selama 1-3 hari. rak tempat menyimpan jerami jagung dapat berbentuk tripod yaitu rak jerami berkaki tiga atau tetrapod (rak dengan kaki 4) pilihan rak dapat disesuaikan, pastinya rak dapat digunakan untuk menyimpan jerami jagung selama 3-6 minggu sebelum digunakan sebagai pakan ternak. Keuntungan pembuatan hay adalah: teknologinya sangat sederhana dan mudah untuk diterapkan oleh petani ternak; pada saat panen jagung tersedia jerami jagung yang melimpah dan dapat disimpan, sedangkan kelemahan dari pembuatan hay adalah: sangat tergantung dengan keberadaan sinar matahari; tidak semua jenis hijauan pakan ternak dapat dibuat hay; perlu tenaga kerja untuk pembalikan jerami jagung dan simpan jemur pada saat proses pembuatannya.Pembuatan silase, dilakukan dengan cara jerami jagung dipotong-potong dan dimasukkan kedalam tempat/ruangan yang kedap udara dan dipadatkan untuk disimpan dalam wadah tertentu, menghasilkan silase yang berkualitas baik perlu diperhatikan benar temperature yaitu berkisar 27 - 35 ?C, dengan hasilnya: mempunyai tekstur segar; berwarna kehijau-hijauan; tidak berbau busuk; tidak berjamur; tidak menggumpal dan disukai ternak. Prinsip utama pembuatan silase adalah: menghentikan pernafasan dan sel-sel tanaman; mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara; menahan aktifitas enzyme dan bakteri pembusuk. Persyaratan lain yang harus adalah harus mempunyai luasan areal yang cukup untuk silo yaitu tempat menyimpan hijauan proses pembuatan silase idealnya pembuatan silase disesuaikan dengan kebutuhan dengan patokan penggalian lubang setiap 150 meter kubik dapat menampung 150 kg bahan kering hijauan.Bahan baku silase jerami dapat menggunakan tanaman jagung yang belum panen dan tanaman jagung setelah panen. Pembuatan silase pada tanaman jagung yang belum panen, kaya dengan kandungan gizi pakan utamanya zat gula yang akan membantu dalam proses fermentasi dengan kandungan protein mencapai 11-15 persen dan disukai ternak, bila pilihan bahan baku silase pada tanaman jagung yang masih muda, batang dan daun yang masih hijau untuk pembuatan silase. sedangkan pada pembuatan silase yang menggunakan bahan baku tanaman jagung setelah panen, pilihan jerami jagung yang berwarna hijau mempunyai kandungan serat kasar lebih tinggi dibandingkan dengan jerami warna kuning.Proses pembuatan silase jerami jagung dilakukan dengan melayukan jerami jagung selama 2 hari dan dilakukan pemotongan dengan ukuran 3-5cm, selanjutnya dilakukan pencampuran jerami jagung dengan bahan-bahan yang diperlukan. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan silase ukuran 1 ton hijauan terdiri dari asam organic (asam format, asam sulfat, asam klorida/asam propionat) 4-6 kg, molasses atau tetes 40 kg, garam 30 kg,dedak padi 40 kg, menir 36 kg dan onggok 30 kg. penambahan bahan dilakukan secara merata keseluruh potongan jerami jagung. pencamuran molasses atau tetes sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan cara pencampuran secara berlapis bergantian dengan campuran bahan dan jerami jagung yang dipadatkan, pada saat penempatan jerami jagung pada lubang galian tanah yang dikenal sebagai silo dan selanjutnya dilakukan penutupan silo.Pemadatan jerami jagung dilakukan setelah proses pencampuran semua bahan kecuali molasses/tetes, masukkan potongan jerami jagung dengan cara diinjak-injak sepadat mungkin dalam silo yang sudah diberikan atas lapisan plastik yang menjadi tempat penampungan selama proses pembutan silase. pemberian molasses/tetes dapat dilakukan dengan cara tumpukan padatan dasar ditambahkan molasses/tetes 2 bagian, selanjutnya pada padatan tumpukan lapisan tengah diberikan molasses/tetes 3 bagian kemudian lapisan tengah padatan tumpukan diberikan molasses/tetes 5 bagian. pencampuran molasses/tetes secara bertahap ini akan bercampur merata selanjutnya padatkan kembali dan tutup dengan plastik dan tanah. Penggunaan silase sebagai pakan ternak dapat dilakukan setelah 8 minggu proses pembuatan silase, pengambilanya secara bertahap sesuai dengan kebutuhan konsumsi ternak dan segera lakukan penutupan kembali. Sumber :1. http://nad.litbang.pertanian.go.id/2. http://www.digilib.mma.ipb.ac.id/output/popupPrint/