Penggunaan pestisida kimiawi di lingkungan pertanian menjadi masalah yang sangat dilematis dimana OPT (organisme Pengganggu Tanaman) dapat ditekan tetapi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Dampak negatif yang ditimbulkan tidak hanya ke lingkungan saja bahkan ke OPT itu sendiri. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat dan menjaga kondisi lingkungan yang sehat, maka sudah saatnya kita memasyarakatkan serta mengembangkan pemakaian pestisida nabati di lingkup pertanian yang ramah lingkungan. Pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan. Pestisida nabati relative lebih mudah dibuat dengan kemampuan yang terbatas, bahan baku tersedia di alam mudah terurai. (Biodegrable) di alam, tidak meninggalkan residu (residu relatif lebih pendek) pada tanaman, tidak menimbulkan pencemaran (ramah lingkungan) dan multi guna. Aktifitas biologi dari pestisida nabati yaitu penghambatan / penolakan makanan. Beberapa Ramuan Pestisida Nabati dapat di aplikasikan pada hama ulat pada bawang merah, cabe, semua tanaman yang dapat dibuat bahan yang tersedia dilingkungan kita terdiri dari : 1 kg gadung racun, 1 kg tembakau, kecubung/serai, 1 liter EM4, 50 gr gula pasir dan 5 liter air. Semua bahan ditumbuk halus ditambahkan em4 dan gula. Fermentasi dilakukan selama 1 minggu kemudian disaring, Semprotkan ke tanaman, khususnya drahkan ke hama pada pagi atau sore hari dngan konsentrasi 100 ml/tangki, bisa ditambahkan zat perekat. Frekuensi semprot 2 x seminggu. Beberapa Ramuan Pestisida Nabati dapat digunakan untuk hama penghisap dan jamur dapat dibuat dengan menggunakan bahan yang ada disekitar lingkungan kita yaitu : 8 kg daun nimba / mindi / kipahit, 6 kg daun serai, 6 kg lengkuas, 1 liter EM 4, 250 gram gula pasir dan 20 liter air, Semua bahan ditumbuk halus, tambahkan em4 dan gula, fermentasi selama 1 minggu kemudian disaring. Semprotkan ke tanaman , arahkan ke hama at2 x seminggu.au jamur pada pagi atau sore hari dengan konsentrasi 100 ml / tangki, bisa ditambah zat perekat. Frekuensi semprot 2 x seminggu. (admin_tjjbngtmr). Penulis : Mitaria, SP / Penyuluh Pertanian Muda