Permasalahan penyediaan pakan bagi usaha ternak merupakan salah satu tantangan bagi peternak kecil seperti kambing pada musim kemarau di desa Sinar Ogan Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara. Ketersediaan pakan hijauan akan sangat menurun saat musim kemarau. Di lain waktu pada musim hujan ketersedian pakan seperti daun ubikayu melimpah bahkan terbuang mengering di lahan pertanian bersamaan proses panen ubikayu untuk mengejar waktu tanam baru di awal musim hujan. Dimusim kemarau, dampak negatif dari sedikitnya sumber pakan hijauan menyebabkan banyak peternak yang menjual murah kambingnya. Dengan alasan kesulitan mencari pakan untuk mencukupi pakan ternak setiap harinya. Di sisi lain kebutuhan untuk biaya anak menjelang masuk sekolah sudah tidak dapat dielakkan lagi oleh petani. Akhirnya, petani menjual ternaknya dengan harga kurang memuaskan. Berbeda bila waktu menjualnya saat akan memasuki musim hari raya idulfitri dan hari raya kurban yang direncanakan oleh peternak sebelumnya. Oleh karena itu, melihat kondisi masalah tersebut para petani memerlukan adanya teknologi pengawetan hijauan pakan ternak, guna mengantisipasi kekurangan hijauan di musim kemarau dan berlimpahnya pada muisim hujan. salah satunya adalah dengan cara pembuatan silase . cara pembelajaran teknologi pembuatan pakan tersebut mulai diajarkan oleh petugas penyuluh pertaniannya kepada para petani yang bergabung di dalam kelompok tani. Sekaligus memanfaatkan fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar bagi para petani anggotanya. Silase adalah pakan yang telah diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya,dengan jumlah kadar / kandungan air pada tingkat tertentu kemudian di masukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara, yang biasa disebut dengan “Silo”, selama kurang lebih tiga minggu. Sedangkan Silo adalah tempat untuk membuat silase yang berbentuk menara diatas tanah atau lubang di bawah tanah ( Wahid, 2010) atau silo bisa berupa bangunan permanen berupa tembok, beton, besi, seng atau bahan lain. Prinsip dasar dari proses silase adalah mencegah proses pembusukan pakan hijauan. Karena, secara teori bahan organik yang mengandung glukosa atau serat bisa mengalami proses fermentasi atau juga pembusukan. Kunci dalam pembuatan silase adalah menyimpan hmt (Hijauan makanan ternak) dalam kondisi hampa udara untuk mencegah oksidasi dan pembusukanBahan pakan yang akan dibuat silase adalah hmt yang umumnya disukai oleh kambing seperti jagung, rumput, tumbuhan perdu, alfalfa dan lain-lain yang disebut petani dengan nama “ramban”. Di desa Sinar Ogan yang biasa dimanfaatkan sebagai pakai hijauan adalah daun dan batang muda ubikayu (singkong). Daun singkong mengandung asam sianida yang dapat meracuni hewan ternak apabila ternak tersebut memakannya. Untuk itu salah satu upaya untuk menghilangkan kandungan asam sianida (HCN) maka daun singkong dijemur dibawah terik matahari hingga layu agak kering, atau disimpan yang lama. (McDonald 1988).Di tinjau dari segi nutrisi kandungan zat gizi daun singkong tergolong jenis hijauan yang cukup baik dan memiliki kandungan protein yang lebih tinggi. Ada kecenderungan semakin tinggi pertambahan bobot badan harian dikuti juga dengan konsumsi pakan, hal ini diduga akibat semakin tingginya protein silase daun singkong, yaitu sebesar 25,75% (sesesudah di buat menjadi silase) dan 21,45% (sebelum dibuat silase). (Analisis proksimat BPTP Lampung, 22 juni 2011). Selain itu juga bau khas silase yang lebih disenangi oleh ternak kambing dibandingkan dengan daun singkong yang di keringkan saja sedangkan kandungan rumput lapang yaitu 6,69 % (Martawidjaya. 2002).Cara pembuatan silase daun singkong1. Alat dan bahanalat:Golok/arit atau alat lain yang dapat digunakan untuk mencacah,1. Silo, Atau kantong plastik. Daun Singkong yang masih segar2. Dedak halus dan onggokLangkah kerja pembuatan silase Daun Singkong1. Daun Singkong segar (kadar air 60-70%) setelah dipanen ditimbang sesuai dengan kebutuhan, kemudian dipotong-potong dengan ukuran sekitar 3 – 5 cm. Pemotongan dan pencacahan perlu dilakukan agar mudah dimasukkan dalam silo dan mengurangi terperangkapnya ruang udara di dalam silo serta memudahkan pemadatan.2. Bahan yang sudah siap dibuat silase diberi imbuhan bahan aditif berupa dedak padi,/ kemudian dicampur secara merata.3. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik (poly ethylene) yang tebal dan ditutup rapat; perlu dinjak-injak hingga betul-betul padat dan dicapai kondisi an-aerob, secara bertahap, lapis demi lapis.4. Biarkan silo tertutup rapat serta diletakkan pada ruang yang tidak terkena matahari atau kena hujan secara langsung, selama tiga minggu (21 hari).5. Proses silase berjalan baik ditandai dengan tidak adanya jamur dan baunya asam, maka penyimpanan dapat diteruskan sampai waktu diperlukan lagi. Guna menjaga kestabilan kualitas gizi silase selama penyimpanan, maka selama penyimpanan tetap harus diupayakan sedikit mungkin udara luar (O2) masuk ke dalam kantung plastik. Biasanya ketika derajat keasaman tertentu, proses silase berhenti. Pakan menjadi stabil, suhu normal dan beraroma manis. (Penulis: Khoirul Anwar, SP / PPL UPT Dinas Pertanian Kec. Abung Selatan Kab. Lampung Utara)Daftar pustakaMcDonald, P.R.A. Edward and J.F.D.Grennhalgh. 1988. Animal Nutrition. 4th Ed. LongmanScientific & Technical, New York : 321-370Martawidjaya. M, dan B. Setiadi, D. Yulistiani, D. Priyanto dan Kuswandi. 2002. Pengaruh Pemberian konsentrat protein tinggi dan rendah terhadap penampilan kambing jantan Kacang dan persilangan Boer. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak. Badan Litbangtan. Deptan, Bogor.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. 2011. Analisis proksimat silase daun Singkong. Laboratorium BPTP Lampung.