PEMANFAATAN LAHAN TANAMAN KARET UMUR TBM UNTUK BUDIDAYA JAGUNG DI DESA SINAR OGAN KECAMATAN ABUNG SELATAN KAUPATEN LAMPUNG UT
Komoditas jagung merupakan tanaman pangan yang penting yang diprogramkan oleh kementerian pertanian untuk ditingkatkan luas tanam dan produksinya demi mencapai swasembada pangan di negara ini.Beberapa teknologi budidaya jagung telah terus dikembangkan agar dapat tercapai produksi yang tinggi. Akan tetapi, keterbatasan ketersediaan lahan untuk ditanami tanaman pangan menjadi faktor pembatas yang perlu ditemukan jalan keluar untuk mengatasinya.Selain itu, pertimbangan disisi pihak petani telah terjadi persaingan pilihan komoditas yang akan dipilih untuk ditanam oleh petani tersebut. Pilihan itu biasanya berdasarkan kebutuhan yang akan mereka cukupi dari hasil pertanian yang dia usahakan. Tentunya, harapannya pendapatan yang terus menerus ada dan dalam jangka waktu yang pendek mereka bisa raih dengan pasti. Komoditas yang menghabiskan lahan tanaman pangan tersebut adalah tanaman perkebunan seperti karet dan sawit.Tanaman karet mendominasi luas lahan yang ada dan sudah menjadi primadona lama di usaha pertanian desa Sinar Ogan ini. oleh karena itu, sulit untuk membongkar keyakinan petani untuk mengganti lahan pertaniannya dengan tanaman palawija. Akan tetapi, kondisi ini masih memiliki celah peluang untuk menyediakan lahan untuk tanam jagung. Celah tersebut dapat berupa suatu inovasi yang bersifat jalan tengah atau memanfaatkan peluang yang ada di kondisi lahan yang ada di petani. Inovasinya adalah budidaya jagung pada lahan perkebunan karet yang masih berstatus umur tanaman belum menghasilkan (TBM).Pada intinya, karet umur TBM masih dapat ditanami jagung dengan tingkat naungan oleh kanopi tajuk daun dibawahnya sekitar 35%. Pada tingkat naungan ini, sinar matahari dapat masuk di tanah dibawah kanopi tanaman dan tanaman jagung masih dapat tumbuh berkembang dengan baik walupun tidak sebaik bila dibudidayakan dengan sistem monokultur. Kita ketahui, bahwa sinar matahari (solary system) berperanan penting bagi pertumbuhan dan pencapaian produktivitas hasil tanaman. Sinar matahari ini adalah sumber energi yang digunakan untuk mensintesis unsur hara (hara mineral) yang diserap akar oleh tanaman pada daun (klorofil) yang dimasak menjadi fotosintat atau yang biasa disebut proses fotosintesis. Fotosintat adalah bahan makanan hasil fosintesis yang akan disalurkan keseluruh tubuh tanaman. Bila tanaman sudah memasuki masa perkembangan membentuk buah maka fotosintat tersebut hasil fotosintesis akan disimpan untuk cadangan makanan atau disimpan dalam alat perkembangbiakan (benih) tanaman itu sendiri. Semakin cukup tanaman mendapatkan sinar matahari maka akan semakin baik pula hasil produksi yang akan dihasilkan tanaman.Teknik budidaya jagung dengan tumpang sari di lahan karet TBM tidak jauh berbeda dengan menanam monokultur. Yang menjadi sedikit perbedaan adalah banyaknya jumlah benih per hektanya serta cara pengolahan lahannya. Benih hanya membutuhkan sekitar 10 kg/ha, sedangkan dilahan normal berkisar 15 kg/ha. Kemudian, pengolahan lahan dilakukan hanya pada gang/ lorong baris tanaman karet kurang lebih 1 meter dari garis tanam/batang karet saja yang dibajak. Hal tersebut dilakukan agar menjaga akar karet tidak banyak terpotong oleh piringan bajak.Untuk pembajakan tanah hanya 1 kali selama 2 kali tanam (1 tahun). Untuk tanam ke-dua tidak dibajak lagi, tetapi cukup dibuat lubang tanam dengan dicangkul /dikoak terlebih dahulu. Fungsi pengoakan ini selain untuk penggemburan tanah juga untuk tempat pembubuhan pupuk dasar yaitu pupuk kandang sebelum tanam jagung. Jarak tanam yang digunakan adalah 70cm x 40 cm, 70 cm x 35 cm dengan 2 butir/lubang tanam atau 70 cm x 25 cm = 1 butir/lubang tanam.Pupuk yang digunakan adalah pupuk dasar yaitu pupuk kandang dari tenak kambing/ayam sekitar 150-200 karung per ha atau sekitar 4-6 ton/ha diberikan saat sebelum tanam. Sedangkan pupuk kimia yaitu urea 200 kg/ha, NPK = 200 kg/ha diberikan dengan dua tahap. Pemupukan tahap pertama pada saat umur 10-15 HST, dan tahap kedua pada saat umur 45-50 HST. Dari pengalaman petani di desa Sinar ogan ini, hasil produksi jagung bila ditanam monokultur dapat mencapai 7-9 ton/ha. Sedangkan bila sistem tumpang sari dengan tanaman karet umur 3-4 tahun berkisar 4-6 ton/ha. Akan tetapi, pada karet umut 1-2 tahun setelah tanam masih dapat tercapai hasil 7-8 ton/ha. Hal ini disebabkan masih cukupnya sinar matahari yang didapat oleh tanaman jagung. Semakin naik persentasi tingkat naungannya maka hasil akan semakin menurun, juga semakin tumbuh besar tanaman maka perakaran tanaman karet sudah semakin luas jangkauannya sehingga terjadi persaingan akar di dalam tanah dengan tanaman jagung demi mendapatkan unsur hara yang dibutuhkan masing-masing tanaman itu sendiri. (Penulis: Khoirul Anwar, SP. Petugas Penyuluh Pertanian WKPP Sinar Ogan Kec. Abung Selatan Kab. Lampung Utara.)