Secara teoritis gas rumah kaca (GRK) di atmosfir bumi sangat penting, karena gas tersebut membuat iklim bumi menjadi hangat dan stabil namun bila GRK di atmosfir bumi berlebihan, maka akan berdampak buruk, karena panas yang dipantulkan kembali kemuka bumi akan lebih bnyak sehingga suhu bumi makin panas. Emisi GRK yang dihasilkan dari sektor pertanian berasal dari lima kegiatan penting sektor pertanian yaitu: 1) peternakan, yang berasal dari aktivitas pencernaan hewan dan pengelolaan kotoran ternak; 2) budidaya padi, khususnya budidaya padi sawah; 3) pembakaran padang sabana; 4) pembakaran limbah pertanian; dan 5) tanah pertanian. Menurut data ADB-GEF-UNDP, 1998, emisi GRK (Gg) yang disumbangkan dari kegiatan sektor pertanian tahun 1990 digambarkan sebagai berikut: 1) Kegiatan peternakan: CH4 798, 39 Gg dan CO2 16.766,19 eq; 2) Budidaya padi: CH4 sebesar 2.543,00 Gg dan CO2 53.403,00 eq; 3) tanah pertanian: N2O 12,67 Gg dan CO2 3.927,70 eq; 4) Pembakaran sabana: CH4 19,52 Gg, N2O 0,24 Gg, NOx 512 Gg, CO 8,74 Gg dan CO2 3.927,70 eq; 5) Pembakaran limbah pertanian: CH4 26,61 Gg, N2O 0,62 Gg, NOx 559 Gg, CO 22,22 Gg dan CO2 751,01 eq. Total emisi GRK yang dihasilkan adalah: CH4 3.387,52 Gg, N2O 13,53 Gg, NOx 1.071 Gg, CO 30,96 Gg dan CO2 sebesar 75.332,22 eq Kegiatan Peternakan Emisi GRK dari peternakan berasal dari dua aktivitas yaitu aktivitas pencernaan berasal dari dua aktivitas yaitu aktivitas pencernaan hewan dan pengelolaan kotoran ternak yang menghasilkan gas methan (CH4). Gas methan dari aktivitas pencernaa dihasilkan oleh hewan herbivora yang dalam proses pencernaannya melakukan pemecahan karbohidrat oleh mikroorganisme. Jumlah gas methan yang dilepaskan oleh ternak bergantung kepada jenis, umur dan berat dari ternak serta kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Berdasarkan data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), 1994, disebutkan bahwa potensi emisi GRK dari aktivitas peternakan sebagai berikut: 1) satu kilogram kotoran ternak menghasilkan 230 liter gas methan; 2) satu ekor sapi perah mengeluarkan gas methan sebanyak 56 kg CH4/ekor/tahun, sedangkan sapi pedaging sebanyak 44 kg, kerbau 55 kg, kambing 8 kg, domba 5 kg, kuda 18 kg. Berdasarkan laporan Ecosolve Ltd (2002) yang menyebutkan bahwa tahun 2000 emisi methan dari kegiatan peternakan mencapai 846,46 Gg, sehingga aktivitas pencernakan dan kotoran ternak harus diperhatikan dan dikelola dengan baik. Budidaya padi Berdasarkan data ADB-GEF-UNDP (1998), padi sawah menyumbang 76% dari total gas methan yang dihasilkan oleh sektor pertanian. Sumber gas methan dari budidaya padi sawah dihasilkan karena kondisi anaerobik pada lahan sawah akibat penggenanangan air yang terlalu tinggi dan lama yang biasanya dilakukan oleh petani yaitu dengan pola penggenangan terus menerus (countinuously flooded) dan penggenangan berkala (intermittently flooded). Faktor lain yang mempengaruhi jumlah gas methan yang hasilkan adalah: 1) tingginnya penggenangan air; 2) suhu tanah; 3) penggunaan pupuk kimia; 4) jenis tanah; 5) cultivar; 6) cara budidaya. Tanah pertanian Pada kenyataannya tanah pertanian juga menjadi sumber emisi N2O dengan mekanisme pelepasan atom N untuk beraksi dengan udara. Pelepasan N2O sebagai akibat pengolahan tanah. Peningkatan emisi nitrogen oksida dari tanah juga disebabkan penggunaan pupuk kimia (chemical fertilizer) seperti urea dan amonium sulfat (AS) akan menghasilkan N2O dan NO2 dengan tingkat emisi 1 dan 1,57% (IPCC, 1994 dan Ecosolve Ltd., 2001). Pada tahun 1998/1999, emisi nitrogen yang diakibatkan dari penggunaan pupuk kimia di Indonesia telah tercatat mencapai 14,15 Gg N2O dan 22,23 Gg NO2. Pembakaran Sabana Pembakaran padang sabana akan menghasilkan gas CH4, N2O, Nox dan CO. Pembakaran dilakukan karena lahan akan dipergunakan sebagai lahan pertanian yang menggunakan sistem pertanian berpindah. Jumlah gas yang diemisikan tergantung pada luas lahan yang dibakar dan jumlah biomass yang terbakar di padang sabana tersebut. Sesuai laporan ADB-GEF-ADB (1998), emisi dari kegiatan pembakaran sabana di Indonesia pada tahun 1990 adalah CH4 19,52 Gg, N2O 0,24 Gg, NOx 512 Gg, CO 8,74 Gg dan CO2 3.927,70 eq. Pembakaran Limbah Pertanian Kegiatan budidaya pertanian (on-farm) dan pengolahan hasil (off farm) menghasilkan limbah yang cukup besar. Secara umum limbah pertanian merupakan bahan organik yang mudah busuk yang mengemisikan gas methan. Selain itu, limbah pertanian juga banyak dibakar oleh petani yang mengahsilkan residu pembakaran untuk pupuk yang akan mengemisikan gas CH4, NO2, Nox dan CO. Perlakuan terhadap limbah pertanian yang kurang baik akan menghasilkan emisi GRK seperti : 1) satu ton sampah padat organik yang terfermentasi tanpa kontrol akan menghasilkan 50 kg gas methan; 2) limbah pertanian yang dibakar akan mengemisikan gas methan (CH4) karbonmonoksida (CO2), nitrogenoksida (N2O) dan Nox. Sesuai laporan ADB-GEF-ADB (1998), emisi dari kegiatan pembakaran sabana di Indonesia pada tahun 1990 adalah CH4 26,61 Gg, N2O 0,62 Gg, NOx 559 Gg, CO 22,22 Gg dan CO2 751,01 eq. Hasil laporan Ecosolve Ltd. (2002), emisi dari kegiatan pembakaran residu tanaman padi dan jagung di Indonesia adalah CH4 31,35 Gg, N2O 5,45 Gg, NOx 685,32 Gg, dan CO 19,68 Gg. Upaya yang dianjurkan Agar emisi GRK dapat berkurang sebaiknya dilakukan berbagai upaya seperti: 1) pengembangan biogas dari kotoran sapi; 2) penerpn sistem irigasi intermitten; 3) pengembangan pertanian organik; 4) pengembangan dan penggunaan pakan ternak rendah emisi; 5) pengolahan kompos dari limbah pertanian dan agroindustri; 6) penggunaan pupuk organik untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia; 6) pengembangan sistem budidaya efisiensi pupuk; 7) penggunaan varietas yang responsif terhadap pemupukan dan rendah emisi; 8) penghijauan bagi lahan/ kawasan terlantar; 9) pengembangan dan penggunaan bioenergi; 10) penerapan sistem pembukaan lahan tanpa bakar. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Agenda Nasional (2008-2015) Rencana Akasi (2008-2009) Pengurangan Emisi GRK Sektor Pertanian, Departemen pertanian 2007; Pengembangan Inovasi Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta 2009.