Loading...

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT & POKTAN BERSAMA MAHASISWA UNILA MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK KOMPOS DI DESA GUNUNG RAJA

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT & POKTAN BERSAMA  MAHASISWA UNILA MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK KOMPOS DI DESA GUNUNG RAJA
Sungkai Barat . 8 Januari 2019.Wilayah Sungkai Barat merupakan wilayah bagian kabupaten Lampung Utara yang sebagian masyakatnya bermata pencarian sebagai petani atau juga pekebun. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun,proses tersebut berlangsung lama sekali, dapat mencapai puluhan tahun. Bahan-bahanorganik tidak dapat langsung digunakan tanpa dikomposkan terlebih dahulukarena bahan organik yang masih mentah tidak dapat langsung dimanfaatkan olehtanaman.Ketersediaan bahan pembuat kompos yang banyak terabaikan dengan hadirnya mahasiswa dibantu dengan penyuluh pertanian mengadakan kegiatan pelatihan tentang pembuatan kompos. Tim Mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 10 orang melakukan pendekatan dan sosialisasi tentang Kompos. Masyakat dan anggota kelompok menyambut niat baik mahasiswa dan penyuluh. Mereka antusias melakukan kegiatan pelatihan kompos. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 08 Januari 2019 di Balai Pertemuan di desa Gunung Raja Sungkai Barat Pukul 10.38 WIB. Peserta kegiatan yaitu warga Rt 2 Rw 2 desa Gunung Raja dan Mahasiswa Unila. Metode yang digunakan dalam kegiatan transfer teknologi ini yaitu pemberian materi dan demonstrasi. Peserta menyimak paparan dari pemateri yang dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan kompos. Alat-alat yang digunakan dalam pelatihan berupa hijauan/daun-daunan/bonggol pisang, kotoran sapi, super decomposer, sekam padi, gula pasir, air, terpal, golok/pisau, ember dan cangkul. Menurut Setyorini et al (2006), agar pembuatan kompos berhasil maka syarat yang diperlukan antara lain: Ukuran bahan mentah. Sampai batas tertentu, semakin kecil ukuran potongan bahan mentahnya, semakin cepat pula waktu pembusukannya. Ukuran bahan sekitar 5-10 cm sesuai untuk pengomposan ditinjau dari aspek sirkulasi udara yang mungkin.Suhu dan ketinggian bahan. Makin tinggi volume timbunan makin mudah timbunan menjadi panas, sebaliknya apabila terlalu dangkal akan kehilangan panas dengan cepat. Dalam keadaan suhu kurang optimum, bakteri-bakteri yang bekerja pada timbunan tersebut tidak akan berkembang secara wajar, akibatnya pembuatan kompos akan berlangsung lebih lama, Sebaliknya timbunan terlalu tinggi akan mengakibatkan suhu menjadi tinggi.Nisbah C/N. Mikroba perombak bahan organik memerlukan karbon sebagai sumber energi untuk pertumbuhan dan nitrogen untuk pembentukan protein. Rasio C/N 30 merupakan nilai yang diperlukan untuk proses pengomposan yang efisien. Apabila C/N rasio terlalu besar (>40) atau terlalu kecil (<20) akan mengganggu kegiatan biologis proses dekomposisi. Kelembaban. Timbunan kompos harus selalu lembab, dengan kandungan lengas 50-60% agar mikroba tetap beraktivitas. Kelebihan air akan mengakibatkan volume udara jadi berkurang, sebaliknya bila terlalu kering proses dekomposisi akan terhenti. Aerasi. Aktivitas mikroba aerob memerlukan oksigen selama proses perombakan berlangsung. Pembalikan timbunan bahan kompos selama proses.( Ir. Jesse Sefri R Purba Penyuluh Pertanian UPTD Kecamatan Sungkai Barat).