Loading...

PEMBIBITAN KARET DENGAN OKULASI

PEMBIBITAN KARET DENGAN OKULASI
Mengingat Karet merupakan salah satu komoditas unggulan dan sebagai komoditi ekspor, maka harus terus dikembangkan dan direvitalisasi atau diremajakan dengan menggunakan klon-klon baru. Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran tersebut dapat tercapai bila pertanaman kebun karet rakyat yang sudah tua dan tidak produktif dilakukan peremajaan dengan menggunakan klon unggul baru yang bermutu. Untuk mendukung sasaran pemerintah tersebut perlu disiapkan bahan tanam berupa bibit yang baik. Dengan bibit yang baik akan menghasilkan pertanaman yang tumbuh baik serta memberikan produksi yang tinggi pula. Persyaratan TumbuhUntuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik, tanaman karet memerlukan persyaratan lingkungan tumbuh yang spesifik. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap tanaman karet antara lain adalah iklim, ketinggian tempat dan jenis tanah.1. IklimDaerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS dan150 LU dengan suhu harian antara 25°-30°C. Sedang curah hujan optimal yang diperlukan pertumbuhan tanaman karet antara 2.000-2.500 mm/tahun dengan hari hujan berkisar 100 s/d 150 HH/tahun, namun lebih baik lagi bila curah hujan merata sepanjang tahun. Karet membutuhkan sinar matahari sepanjang hari minimum 5-7 jam/hari. Tanaman karet merupakan tanaman tahunan dengan pohon tinggi bisa mencapai 15-25 m, dengan batang tanaman tumbuh lurus dan mempunyai cabang tanaman yang tinggi diatas, sehingga kecepatan angin yang terlalu kencang, kurang baik untuk karet. 2. Ketinggian TempatTanaman karet tumbuh baik pada daerah dataran rendah dengan ketinggian 200-400m dari permukaan laut (dpl). Pada ketinggian > 400m dpl dan suhu harian lebih dari 30°C, pertumbuhan tanaman kurang baik. 3. TanahTanaman karet dapat tumbuh diberbagai jenis tanah seperti tanah vulkanis, alluvial, podsolik merah kuning. Pada tanah vulkanis yang mempunyai sifat fiska yang cukup baik terutama struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi daaaan drainase meskipun kandungan haranya rendah. Pada tanah alluvial cukup mengandung unsur hara namun drainase dan aerase kurang baik. Untuk tanah podsolik merah kuning yang kurang subur namun dengan diberikan pupuk dan pengelolaan lahan yang baik, dapat dijadikan perkebunan karet dan mampu berproduksi cukup baik.Tanaman karet tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah berpadas, derajat keasaman (pH) mendekati normal yaitu pH 5-6 dengan batas toleransi pH 4-8.Secara umum, sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet adalah aerasi dan draenasi cukup, tekstur 35% tanah liat dan 30% tanah pasir, permukaan air tanah Persiapan Bahan TanamTanaman Karet yang dikenal dengan nama latin Hevea brasilliensis merupakan tanaman tahunan. Untuk menghasilkan bibit karet yang bermutu, bahan tanaman perlu dipersiapkan dengan baik mulai dari pemilihan pohon induk, benih, persemaian sampai pembibitan. Bahan tanaman yang dianjurkan adalah bahan tanam klon yang diperbanyak secara okulasi. Keuntungan dari cara ini adalah produktivitas lebih tinggi, masa tanam belum menghasilkan lebih cepat, tanaman lebih seragam, produksi pada tahun sadap pertama lebih tinggi, memiliki sifat yang diinginkan yaitu tahan hama penyakit tertentu, batang tegak, respon terhadap pupuk dan volume kayu per pohon tinggi.Jenis bibit okulasia. Bibit okulasi di lahanBibit okulasi di lahan adalah bibit yang disemaikan di lahan dan diokulasi ditempat tersebut sampai dipindahkan ke perkebunan yang telah disiapkan. Dari bibit ini akan dihasilkan bibit yang baik dalam bentuk stum mata tidur, stum mini maupun stum tinggi.b. Bibit okulasi di dalam kantong plastikBibit okulasi dalam kantong plastik dapat diperoleh dengan dua cara yaitu:1) Bibit disemaikan sekaligus diokulasikan di kantong plastik. Setelah pemotongan batang di bagian atas perisai, tanaman dibiarkan tetap berada dalam kantong plastik dan mata tunas tumbuh sampai dipindahkan ke lahan;2) Bibit disemaikan di lahan dan selanjutnya dipindahkan kekantong plastik pada stadium stum tidur. Pemindahan ke lahan dilakukan setelah berumur satu tahun atau setelah tumbuh 2-3 payung daun.Keuntungan dari cara ini adalah ketika dipindahkan ke lahan, kemungkinan hidupnya sangat besar dan masa sadap lebih awal. Sedang kekurangannya adalah biaya persiapannya lebih besar (untuk pembelian kantong plastik dan biaya angkut) dan memakan tempat. c. Bibit okulasi dengan tapihBibit okulasi dalam tapih merupakan modifikasi dari bibit okulasi dalam kantong plastik yaitu bibit yang seharusnya dikantong palstik namun diganti dengan lembaran plastik yang ditapihkan/disarungkan pada bibit karet. Dengan cara ini media tanam yang semula berupa tanah diganti dengan spaghnum moss (sejenis lumut hutan yang telah dikeringkan) atau sabut kelapa sehingga ringkas dan ringan. Khususnya dengan menggunakan media sabut kelapa, pada okulasi dalam tapih ini dapat menghemat biaya pengadaan dan pengangkutan sebanyak 75% dibandingkan dengan bibit okulasi dengan kantong plastik. Bibit okulasi didalam tapih menghasilkan bibit okulasi stum mata tidur. 1) Pembuatan bibit okulasi dalam tapih dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:a) Menyiapkan bahan-bahan yaitu: (1) bibit stum mata tidur yang diambil dari pesemaian dalam stadium payung daun satu dan daunnya sudah cukup tua dengan mata okulasi sudah pecah; (2) lembaran plastik hitam berukuran 25 x 25 cm dan tali rafia sepanjang 1,2 m untuk setiap stum; (3) sabut kelapa;b) Sabut kelapa diletakkan di lembaran plastik yang sudah disiapkan, kemudian dicampur dengan tanah sebanyak empat genggam kemudian bibit stum yang telah pecah mata tunasnya diletakkan dalam media tersebut, kemudian dibungkus dan diikat. Pengikatan dilakukan tepat dibawah mata tunas. Sebelum di tempatkan dilapangan, bungkusan bibit tersebut dicelupkan kedalam air agar tetap lembab;c) Stum yang telah dibungkus kemudian disusun berbaris di tempat terbuka yang cukup mendapat sinar matahari. d) Penyiraman dilakukan sehari sekali kecuali jika ada hujan tidak perlu dilakukan penyiraman. Agar bibit cepat pertumbuhannya, dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk daun Bayfolan dengan dosis dan frekuensi sesuai anjuran. 2) Pemeliharaan a) Pengendalian OPT Hama yang sering menyerang bibit adalah belalang dan kutu yang dapat dikendalikan dengan penyemprotan Kelthane 200 EC konsentrasi 0,2%. Sedang untuk mengantisipasi penyakit cendawan pada daun dilakukan penyemprotan dengan menggunakan Dithane M 45 konsentrasi 0,2%. Penyemprotan pestisida tersebut dilakukan dua minggu sekali.b) Agar bibit di lapangan tumbuh dengan baik, hendaknya disekitar tanaman bebas dari gulma. Sebaiknya dilakukan pengecekan dilapangan seminggu sekali untuk melihat bila pada bibit tumbuh tunas-tunas yang tidak diharapkan selain mata okulasi dengan membuang tunas tersebut dengan menggunakan pisau tajam. Pemeliharaan ini dilakukan sampai tanaman siap dipindahkan ke lahan perkebunan yang telah disiapkan yaitu bila bibit sudah mencapai stadium satu payung daun yang sudah tua.3) Keuntungan bibit okulasi dalam tapih yaitu: a) bentuk lebih ramping dan bobot lebih ringan sehingga menghemat biaya pengangkutan sebesar 75%; b) pendistribusian dan penanaman bibit lebih cepat. Seleksi bibitTidak semua stum okulasi mata tidur dapat digunakan untuk bahan tanaman, tetapi harus dilakukan seleksi. Kriteria stum okulasi mata tidur yang baik untuk bahan tanaman sebagai berikut: a) Akar tunggang lurus, normal dengan panjang 25-35cm, tidak bercabang, tidak berbentuk garpu dan tidak berbonggol; b) akar lateral panjang 5-10 cm; c) tidak terserang penyakit jamur akar putih;dan d) Mata okulasi masih hidup. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) S. Damanik, M. Syakir dan Siswanto, 2012. Budidaya dan Pascapanen Karet. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, kementeriaPertanian; 2) Ir. Nurhawaty Siagian, MS, 2006. Pembibitan dan Pengadaan Bahan Tanam Karet Unggul. Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Medan; 3) Dari berbagai sumber