Desa Pandean Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi memiliki kearifan lokal yaitu dimana setiap kepala keluarga memiliki minimal 1(satu) ekor ternak sapi. menurut data populasi ternak UPT-PTP BPP Kecamatan Karanganyar (2019), mengatakan bahwa jumlah populasi ternak sapi potong yang ada di wilayah desa pandean sebanyak 1.276 ekor. Pemeliharaan ternak biasanya dilakukan secara individu dan dibuatkan kandang di dalam rumah, dimana limbah kotoran ternak biasanya di buang begitu saja belum tersentuh inovasi teknologi. Jika 1(satu) ekor ternak sapi menghasilkan kotoran ternak berupa feses seberat + 23,6 kg/hari (Purwoko, Deha dan Utami, B. U., 2017) maka 1.276 ekor ternak sapi dapat menghasilkan kotoran ternak sebanyak 30,114 kg/hari. Melihat potensi tersebut Penyuluh Pertanian Lapangan wilayah binaan desa pandean mengajak Gabungan Kelompok Tani Tani Maju yang berada di desa pandean untuk mengelola dan mengolah limbah kotoran ternak sapi menjadi bhokasi melalui demonstrasi cara.Menurut Purwoko, deha (2017), mengemukakan tahapan pembuatan bhokasi berbahan dasar limbah kotoran ternak sapi, antara lain : A) Tahapan Persiapan, dimana semua alat dan bahan dipersiapkan terlebih dahulu. Adapun alat dan bahan yang dipergunakan dalam pembuatan bhokasi antara lain : 1) Alat : thermometer, gelas ukur, timbangan, saringan/ayakan halus, ember, gayung, terpal, gerobak roda tiga, dan 2) Bahan : Feses/limbah kotoran ternak sapi, sekam/arang sekam, dedak, dolomite, MOL, tetes, dan air secukupnya; B) Proses pembuatan bhokasi, dalam proses pembuatan ini yang perlu diperhatikan adalah: a) Lapisan penumbuhan bahan bhokasi yaitu paling dasar adalah kotoran ternak untuk tumpukan selanjutnya sekam/arang sekam lalu dolomite dan terakhir adalah dedak, serta lokasi penumpukan di tempat teduh terhindar dari sinar matahari langsung dan air; b) pemantauan temperature/suhu tumpukan hari 3 s/d 7 usahakan suhu 50-70oC guna membunuh bakteri pathogen dan bibit gulma dan temperature hari ke-21 suhu menunjukan 25-55oC; c) proses pembalikan tumpukan bahan bhokasi dilakukan pada hari ke-7 dan ke-14 guna mendapatkan oksigen yang cukup; d) penyiraman air saat proses pembalikan melihat kadar air, kadar air 60%, cara mengetahui kadar air dengan meremas bahan tumpukan jika bahan diremas terasa basah tapi tidak mengeluarkan air; dan C) Tahap Pengemasan, dimana bhokasi dikemas dalam karung goni/plastic yang kedap udara lalu karung goni/plastik di jahit guna melindungi produk dari kerusakan dan ditaruh di tempat teduh, tidak lembab dan terhindar dari air hujanCiri – ciri bhokasi yang sudah matang antara lain : tidak berbau, di pegang terasa dingin, warna coklat kehitam-hitaman, bentuk remah dan rasio C/N = 20-40Daftar Pustaka :Anonim, 2019. Laporan Data Populasi Ternak UPT-PTP BPP Kecamatan Karanganyar Triwulan II Tahun 2019.UPT-PTP BPP Kecamatan Karanganyar. NgawiPurwoko, D. dan Utami B.U., 2017. Kompetensi Peternak Sapi Potong Peranakan Ongole dalam Pembuatan Kompos.Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 10 No.3 November 2017. Universitas Negeri Jember. Jember.Purwoko, Deha, 2017. Kompetensi Peternak Sapi Potong Peranakan Ongole dalam Pembuatan Kompos(Studi Kasus Pada Kelompok Ternak Mekar Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun). Karya Ilmiah Penugasan Akhir (KIPA), Agustus 2017. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang. Malang.Penulis :Deha Purwoko, S.S.T, Penyuluh BPP Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi