Loading...

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK KOMPOS DI DESA RUKTI BASUKI KECAMATAN RUMBIA

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK KOMPOS DI DESA RUKTI BASUKI KECAMATAN RUMBIA
Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa hasil pertanian dan atau limbah peternakan (Kotoran hewan) yang sangat bermaanfaat untuk memperbaiki unsur hara tanah. Namum saat ini sebagian besar petani di Indonesia cenderung mengandalkan pupuk anorganik seperti Urea, KCl dan SP-36 untuk budidaya tanaman dikarenakan mampu memberikan efek yang lebih cepat. Keadaan ini jika terjadi terus menerus maka akan mengakibatkan degradasi lahan sehingga tanaman akan sulit berkembang dan pertumbuhannya terganggu. Permasalahan ini dapat diatasi dengan penambahan bahan organik salah satunya kompos. Kompos dapat memperbaiki produktivitas dalam tanah, secara fisik, kimia, dan biologis. Secara fisik, kompos dapat menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan drainasi. Secara kimia, kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), ketersediaan unsur hara, ketersediaan asam humat (Ida, 2013). Proses pengomposan adalah proses dekomposisi materi organik menjadi pupuk kompos melalui reaksi biologis mikroorganisme secara aerobik dalam kondisi terkendali. Pengomposan sendiri merupakan proses penguraian senyawa-senyawa yang terkandung dalam sisa-sisa bahan organik (kotoran hewan dan sisa hasil pertanian) dengan suatu perlakuan khusus. Hampir semua bahan yang pernah hidup, tanaman atau hewan akan membusuk dalam tumpukan kompos. Lamanya proses pengomposan membuat banyak petani lebih memilih pupuk anorganik yang tersedia langsung dipasaran dikarenakan mampu memberikan efek yang lebih cepat pada proses budidaya tanaman. Proses pengomposan merupakan hasil perombakan bahan organik oleh mikroba dengan hasil akhir berupa kompos yang memiliki nisban C/N yang lebih rendah dari bahan bakunya (kotoran hewan dan sisa hasil pertanian). Bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos yang dihasilkan memiliki nisbah C/N < 20. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N jauh lebih tinggi diatas 30 akan terombak dalam waktu yang lama, sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu rendah maka akan terjadi kehilangan N karena menguap selama proses perombakan berlangsung. Dalam proses pengomposan perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi, antara lain:1. Perbandingan Karbon, pembuatan kompos yang optimal membutuhkan rasio C/N 25-30.2. Suhu pengomposan aerobil yang ideal adalah 45-65 oC, sedangkan untuk pengomposan anaerobik berkisar 50-60 oC. 3. Keasaman pH yang baik sekitar 6,5-7,5 (netral)4. Cairan pemula/starter untuk mempercepat terjadinya proses fermentasi menggunakan Effective Microorganisme 4 (EM4) yang banyak mengandung bakteri dekomposer. 5. Ukuran bahan, dimana semakin kecil ukuran bahan maka akan semakin mempercepat proses pengomposan karena mikroorganisme lebih mudah beraktifitas pada bahan yang lembut daripada ukuran bahan yang lebih besar. Ukuran pengomposan bahan yang dianjurkan adalah 1-7,5 cm. Kegiatan pembuatan kompos organik ini dilakukan di Desa Rukti basuki, Kec Rumbia, Kab. Lampung Tengah dengan melibatkan petani, gapoktan, PPL, Korluh dan UPTD BPP Kec. Rumbia.Kompos yang akan dibuat mengikuti kombinasi dengan volume 1 m3 (1 Ton) yang dibagi menjadi 5 lapisan dengan masing-masing lapisan setebal 20 cm. Adapun metode pengomposan sebagai berikut:1. Bahan dan Alat Pembuatan Pupuk Komposa. Kotoran hewan (kotoran sapi) dan sisa hasil pertanian (jerami padi dan daun gamal)b. Dolomit 5 kg (1 kg per lapisan @ 20 cm)c. Pupuk Urea 1 kg (20 gr per lapisan @ 20 cm)d. EM4 dengan konsentrasi 0,5 % (1 lt per ton)e. Gula putih dengan konsentrasi 0,8 % (1 kg per ton)f. Cangkulg. Pipa paralon ukuran ½ inchh. Gembori. Sabit untuk memcacah bahan organikj. Drum plastik besark. Kantor plastik ukuran 4 x 4 m2. Metode pembuatan larutan dekomposera. Masukkan air kedalam drum plastik sebanyak 50 literb. Masukkan larutan EM 4 sebanyak 1 literc. Larutkan gula pasir (1 kg) kedalam drum plastik yang telah terisi campuran larutan air dan EM 4. Gula berfungsi sebagai sumber energi untuk perkembangbiakan mikroba (EM 4).d. Aduk rata ketiga larutan tersebut selama 1 jam3. Metode pembuatan komposa. Pembuatan kompos menggunakan metode per la[isan, dimana setiap lapisan diberikan perlakuan yang sama, yaitu:- Ditaburkan pupuk urea- Ditaburkan dolomit- Disiram dengan larutan EM 4 + gula- Disiram dengan air hingga seluruh bagian basahb. Sebelumnya disiapkan pipa paralon didalam tumpukan yang berfungsi sebagai saluran udara dan pengeluar panas dari [roses dekomposisi. Setiap minggu dilakukan pembalikan kompos, proses ini berlangsung 1-3 bulan hingga kompos matang. Adapaun tahapan pembuatan kompos sebagai berikut:- Membuat lapisan dengan memasukkan bahan sisa pertanian dan kotoran hewan kemudian ditaburi pupuk urea, dolomit dan kemudia disiram dengan larutan EM4 + gula. Lapisan ini dibuat dengan ketebalan 20 cm dan sebanyak 5 lapis. Setiap lapis diulangi proses tersebut. - Kemudia lapisan kompos dengan volume 1 m3 tersebut ditutup dengan plastik besar sampai tertupun semua bagian. Kemudia tancapkan pipa paralon yang telah dipotong dan dilubangi sisinya ketumpukan kompos tersebut.- Kompos ini sebaiknya dibalik setiap 1 minggun sekali dan dibasahi dengan air.4. Ciri-ciri kompos yang baik:a. Kompos yang sudah jadi atau sedah matang berbau harum seperti tanah.b. Warna kompos yang sudah matang adalah coklat kehitaman.c. Kompos menjadi remah saat ditekan.d. Penyusutan kompos sekitar 20-40 %.e. Suhu kompos yang telah matang menyerupai suhu awal pembuatan kompos yaitu sekita 50o C. Oleh : Mega Silvia Fitrianti (Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian TPH Kec. Rumbia, Kab. Lampung Tengah)