Secara umum tanaman jagung dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan. Suhu optimal antara 21–34 °C, pH. Tanah antara 5,6–7,5 dengan ketinggian antara 1000–1800 m dpl. Dengan ketinggian optimum antara 50–600 m dpl. Tanaman jagung tumbuh dengan baik bila tercukupi kebutuhan air sekitar 100-140 mm/bulan. Sehingga pada waktu penanaman perlu memperhatikan curah hujan dan penyebarannya dapat dimulai bila curah hujan sudah mencapai kurang lebih 100 mm/bulan. Untuk mengetahui ini perlu dilakukan pengamatan curah hujan dan pola distribusinya selama 10 tahun ke belakang agar waktu tanam dapat ditentukan dengan baik dan tepat. Pengendalian GulmaPengendalian gulma dilakukan sesuai kondisi gulma dan pertumbuhan tanaman jagung, yaitu saat tanaman berumur 15 HST dengan penyemprotan herbisida Karalis 1,5 l/Ha. Dan saat tanaman belum berbunga dan belum keluar akar gantung (umur 28-30 HST) serta setelah berbunga (umur 45 HST), masing-masing penyemprotan dengan menggunakan herbisida Moxson 30 ml/liter air dan DMA 50 ml/liter air. Pengendalian Hama dan PenyakitPengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menerapkan prinsip pengendalian secara terpadu, seperti; penggunaan varitas unggul, pengaturan jadwal tanam dan penggunaan pestisida Pengendalian penyakit bulai dengan perlakuan benih 1 kg dicampur dengan 2 g Ridomil atau Saromil yang dilarutkan dalam 7,5 – 10 ml air. Penyakit yang banyak dijumpai pada tanaman jagung diantaranya adalah jamur (Fusarium) pengendalian dapat disemprot dengan Fungisida (Dithane M-45) dengan dosis 45 gr / tank isi 15 liter. Penyemprotan dilakukan pada bagian tanaman di bawah tongkol. Ini dilakukan sesaat setelah ada gejala infeksi jamur. Dapat juga dilakukan dengan cara membuang daun bagian bawah tongkol dengan ketentuan biji tongkol sudah terisi sempurna dan biji sudah keras. Hama yang umum mengganggu pertanaman jagung adalah lalat bibit, penggerek batang dan tongkol. Dikendalikan dengan pemberian insektisida Furadan 3G melalui pucuk tanaman (±3-4 butir/tanaman). Hama Lalat bibit umumnya mengganggu pada saat awal pertumbuhan tanaman, oleh karena itu pengendaliannya dilakukan mulai saat tanam menggunakan insektisida carbofuran utamanya pada daerah-daerah endemik serangan lalat bibit. Untuk hama penggerek batang, jika mulai nampak ada gejala serangan dapat dilakukan dengan pemberian carbofuran (3-4 butir carbofuran/tanaman) melalui pucuk tanaman pada tanaman yang mulai terserang. Hama penggerek batang dikendalikan dengan memberikan insektisida caebofuran sebanyak 3-4 butir dengan ditugal bersamaan pemupukan atau disemprot dengan insektisida cair fastac atau regent dengan dosis sesuai yang tertera pada kemasan. Pengairan (Pada musim kemarau) Setelah benih ditanam, penyiraman dilakukan secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu penyiraman yang lebih intensif. Bila musim kemarau pengairan perlu dilakukan pengaturan antara lain umur pertumbuhan, 15 hst, 30 hst, 45 hst, 60 hst, dan 75 hst (6 kali pemberian). Pada fase atau umur tersebut tanaman jagung sangat riskan dengan kekurangan air. Sumber air dapat dari irigasi permukaan atau tanah dangkal (sumur) dengan pompa Ditulis : DalmadiSumber bacaan Teknologi Budidaya Jagung BPTP KalselSumber gambar : BPTP Kalsel Sistem pengairan dengan pompanisasi.