Loading...

PENANGANAN PASCA PANEN PADI

PENANGANAN PASCA PANEN PADI
Penanganan pasca panen yang baik dapat mengamankan produksi dan meningkatkan kualitas hasil. Penanganan pasca panen yang kurang tepat dapat menyebabkan kerusakan dan kehilangan hasil sewaktu dan setelah panen, yang besarnya dapat mencapai sekitar 20%. Penanganan pasca panen padi meliputi tahap-tahap kegiatan, yaitu : 1. Pemanenan PadiHal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan padi adalah umur panen, peralatan dan mesin yang digunakan, sistem panen, serta penumpukan dan pengumpulan hasil panen. Pada tahap ini, kehilangan hasil dapat mencapai 9,52% apabila pemanenan padi dilakukan secara tidak tepat.a. Umur Panen padiTanda-tanda umur tanaman padi yang layak dipanen adalah : a) 90 – 95% gabah dari malai tampak kuning, b) malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga merata atau 135 – 145 hari setelah tanam, c) kadar air gabah 22 – 26% yang diukur dengan moisture tester (alat pengukur kadar air).b. Alat dan Mesin PemanenAlat dan mesin untuk memanen padi telah berkembang dari ani-ani menjadi sabit biasa kemudian menjadi sabit bergerigi dengan bahan baja yang sangat tajam dan terakhir telah diintroduksi reaper, stripper dan combine harvester. Ani-ani merupakan alat panen padi yang terbuat dari bambu diameter 10-20 cm, panjang ± 10 cm dan pisau baja dengan ketebalan 1,5 – 3 mm. Ani-ani dianjurkan digunakan untuk memotong padi varietas lokal yang berpostur tinggi. Sabit merupakan alat panen manual untuk memotong padi secara cepat. Sabit ada dua jenis yaitu sabit biasa dan sabit bergerigi, sabit pada umumnya digunakan untuk memotong padi varietas unggul yang berpostur pendek seperti IR-64 dan cisadane. Penggunaan sabit bergerigi sangat dianjurkan karena dapat menekan kehilangan hasil sebesar 3%. Pemotongan padi dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong tengah dan potong bawah tergantung cara perontokan. Pemotongan bawah dilakukan bila perontokan dengan cara dibanting/digebot atau menggunakan pedal thresher. Pemotongan bagian atas dan tengah dilakukan bila perontokan menggunakan power thresher. Reaper merupakan mesin pemanen untuk memotong padi sangat cepat, prinsip kerjanya mirip dengan cara kerja orang panen menggunakan sabit. Mesin ini sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakan tanaman dan menjatuhkan atau merobohkan tanaman tersebut kearah samping mesin reaper. Penggunaan reaper dianjurkan pada daerah-daerah yang kekurangan tenaga kerja dan dioperasikan di lahan dengan kondisi baik (tidak tergenang, tidak berlumpur dan tidak becek), penggunaan reaper dapat menekan kehilangan hasil sebesar 6,1%. Reaper binder merupakan jenis mesin reaper untuk memotong padi dengan cepat dan mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti berbentuk sapu lidi ukuran besar.c. Sistem PanenSistem panen harus dibuat berdasarkan tata cara berikut : a) pemanenan dilakukan dengan sistem beregu/kelompok, b) pemanenan dan perontokan dilakukan oleh kelompok pemanen, c) jumlah pemanen antara 5 – 7 orang yang dilengkapi 1 unit power thresher. Kehilangan hasil pada pemanenan sistem kelompok adalah 4,9%, lebih rendah dari sistem kroyokan yang besarnya dapat mencapai 16,20%.d. Penumpukan dan pengumpulan hasil panenUntuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengumpulan hasil panen menggunakan alas dari terpal/plastik. Penggunaan alas pada saat penumpukan dan pengumpulan hasil panen dapat menekan kehilangan hasil antara 0,94 – 2,36%. 2. Perontokan PadiPada tahap ini, kehilangan hasil akibat ketidaktepatan dalam melakukan perontokan dapat mencapai lebih dari 5%. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam perontokan padi adalah penundaan perontokan, alat dan mesin perontok yang digunakan. Alat dan mesin yang digunakan untuk merontok padi telah mengalami perkembangan dari gebotan menjadi pedal thresher atau power threseher.a. GebotanGebotan merupakan alat perontok padi tradisional yang masih banyak digunakan petani. Perontokan padi dengan alat gebotan dilakukan dengan cara : a) ambil malai padi secukupnya lalu dipukulkan/digebot pada meja rak perontok ± 5 kali dan hasil rontokannya akan jatuh di terpal yang ada di bawah meja rak perontok, b) kumpulkan gabah di tempat pengumpulan sementara, c) masukkan gabah ke dalam karung atau wadah.b. Pedal ThresherPedal thresher merupakan alat perontok padi dengan konstruksi sederhana dan digerakkan menggunakan tenaga manusia. Kelebihan alat ini dibandingkan dengan alat gebot adalah mampu menghemat tenaga dan waktu, mudah dioperasikan dab mengurangi kehilangan hasil, kapasitas kerja 75 – 100 kg per jam dan cukup dioperasikan oleh 1 orang. Penggunaan pedal thresher dapat menekan kehilangan hasil padi sekitar 2,5%.c. Power ThresherPower thresher merupakan mesin perontok yang menggunakan sumber tenaga motor penggerak. Kelebihan mesin perontok ini dibandingkan dengan alat perontok lainnya adalah kapasitas kerja lebih besar dan efisiensi kerja lebih tinggi. Penggunaan power thresher dalam perontokan dapat menekan kehilangan hasil padi sekitar 3%. Penggunaan power thresher hampir sama dengan pedal thresher perbedaannya pada sumber tenaga yang berasal dari motor penggerak dan semua bagian padi yang akan dirontokkan dimasukkan ke ruang perontok, butir padi akan jatuh dan tertampung pada pintu pengeluaran padi bernas. 3. Pengeringan PadiPengeringan merupakan proses penurunan kadar air gabah sampai mencapai batas optimum yaitu sekitar 14%, sehingga siap untuk diolah/digiling atau aman untuk disimpan dalam waktu yang lama. Kehilangan hasil akibat ketidaktepatan dalam melakukan proses pengeringan dapat mencapai 2,13%. Pada saat ini cara pengeringan padi telah berkembang dari cara penjemuran menjadi penggunaan mesin pengering.a. Penjemuran tradisionalPenjemuran merupakan proses pengeringan gabah basah dengan memanfaatkan panas sinar matahari. Sebagai sarana penjemuran dapat digunakan lantai jemur dari semen atau menggunakan alas dari terpal/plastik.Cara penjemuran gabah adalah sebagai berikut : 1) permukaan lantai jemur sebaiknya dibuat bergelombang agar dapat mengalirkan air hujan secara cepat sehingga tidak menyebabkan genangan air yang dapat merusak gabah. Penggunaan alas dari terpal/plastik sebagai sarana penjemuran mempunyai beberapa keuntungan, yaitu memudahkan pengumpulan/penga-rungan gabah pada akhir penjemuran dan memudahkan penyelamatan gabah bila turun hujan mendadak. 2) jemur gabah dengan ketebalan 5–7 cm pada musim kemarau atau 1–5 cm pada musim hujan. 3) lakukan pembalikan setiap 1-2 jam atau 4-6 kali dalam sehari dengan menggunakan garuk kayu. 4) waktu penjemuran antara pukul 08.00 – 17.00. 5) pada kahir penjemuran, kumpulkan gabah dengan garuk, sekop atau sapu kemudian dimasukkan ke dalam karung.b. Pengeringan BuatanPengeringan buatan merupakan alternatif cara pengeringan padi bila penjemuran dengan matahari tidak dapat dilakukan, berikut mesin pengering yang biasa digunakan, a) Flat Bed Dryer, merupakan mesin pengering yang terdiri dari kotak pengering, blower/kipas yang digerakkan motor penggerak, kompor pemanas memakai bahan bakar minyak tanah, b) Continuous Flow Dryer, cara kerja mesin ini sama dengan drier lainnya, namun padi yang akan dikeringkan diaduk posisinya oleh screw conveyor. 4. Penyimpanan PadiPenyimpanan gabah/beras yang kurang baik dapat mengakibatkan terjadinya respirasi (penguapan kandungan air pada gabah/beras), tumbuhnya jamur, serangan serangga, binatang mengerat dan kutu beras yang dapat menurunkan mutu gabah/beras. Penyimpanan gabah/beras dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, a) Penyimpanan gabah/beras sistem curah, yaitu penyimpanan tanpa kemasan dalam jumlah besar yaitu dengan menggunakan silo atau kotak kayu. Silo biasanya berbentuk silinder atau kotak segiempat yang terbuat dari plat lembaran atau papan, dilengkapi dengan sistem aerasi, pengering dan elevator (bisanya berbentuk mangkuk yang berjalan terbuat dari sabuk karet atau kulit serta plat lembaran); b) Penyimpanan gabah/beras dengan kemasan dapat dilakukan dengan menggunakan karung plastik atau goni. Beberapa aspek penting dalam penyimpanan dalam karung adalah 1) karung harus dapat melindungi dari kerusakan dalam pengangkutan atau penyimpanan, 2) bahan karung tidak boleh mengakibatkan kerusakan atau pencemaran dan tidak membawa OPT, 3) karung harus kuat, dapat menahan beban tumpukan dan melindungi fisik dari goncangan serta dapat mempertahankan keseragaman, tinggi tumpukan maksimal 15 karung. Penyusun Ir. EDI HARNADI - Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu