Loading...

Penanggulangan Hama Terpadu

Penanggulangan Hama Terpadu
PENANGGULANGAN HAMA TERPADU ertanian merupakan hal penting dalam setiap sisi kehidupan manusia. Hampir semua kebutuhan manusia dipenuhi dari pertanian. Pertanian dalam arti sempit merupakan usaha manusia untuk membudidayakan suatu tanaman untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Secanggih apapun teknologi, semaju apapun suatu bangsa, selama manusia masih mengonsumsi nasi, gandum, jagung, sagu, dan sumber nutrisi lainnya, pertanian tetap akan menjadi suatu hal tidak bisa tergantikan.Faktor hama dan penyakit yang menjadi pembatas dalam proses produksi komoditas pertanian merupakan hal yang sudah sangat biasa kita dengar. Sering kali kita mendengar di berbagai tempat terjadi serangan hama dan penyakit sehingga petani merugi hingga milyaran rupiyah. Upaya penanggulangan hama penyakit yang pernah dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia memang cukup berhasil, namun disamping memerlukan biaya yang tinggi dampak lainnya adalah munculnya resistensi (kekebalan) hama penyakit, munculnya peledakan hama secara massal, dan terbunuhnya organisme bukan sasaran, serta pencemaran lingkungan (Rachmat, et al., 1999). Upaya pengendalian hama penyakit dengan metode yang canggih ini justru berdampak balik kepada petani. Serangan hama semakin besar di berbagai tempat. Ditambah lagi dampak lingkungan yang diakibatkannya. Ini seperti sebuah balas dendam alam terhadap perilaku keserakahan manusia. Konsep Hama dan penyakit merupakan suatu hal “rasa” manusia. Semua tergantung keinginan manusia. Jika manusia merasa dirugikan, maka dia hama dan harus disingkirkan. Manakala manusia tidak merasa dirugikan maka tidaklah menjadi problem. Mari berpikir sejenak, ketika ada satu ulat saja yang ada pada tanaman anggrek satu-satunya yang kita punya, yang harganya rastusan juta, apakah kita menyebut ulat tersebut hama? Pastinya ya. Tetapi ketika kita memiliki sebuah sawah satu hektare kemudian terdapat belalang 20 ekor, apakah kita sudah menyebutnya hama? Pasti belum. Semuanya hanya sepihak atas persepsi manusia. PRINSIP dan KONSEP PHT mpat prinsip PHT yaitu: (1) budidaya tanaman sehat, (b) pelestarian musuh alami, (c) pengamatan agroekosistem secara rutin, dan (d) petani menjadi ahli PHT dan manajer di kebunnya. Konsep PHT diibaratkan seperti manusia. Berobat bukan solusi untuk hidup sehat. Sama halnya dengan tanaman yang tidak harus diberi obat (pestisida). Pertama kali yang perlu dijaga sebagai manusia adalah kesehatan. Ketika manusia sehat maka tidak mudah terserang penyakit, begitu pula dengan tanaman. Prinsip kedua adalah pelestarian musuh alami. Setiap makhluk hidup memiliki penghambat berupa musuh alami. Penggunaan pestisida akan mematikan musuh alami serangga. Sehingga pelestarian musuh alami hama menjadi salah satu aspek penting pengelolaan hama penyakit. Musuh alami akan secara sendirinya mengendalikan hama sehingga biaya pembelian pestisida bisa ditekan.Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi ekologi pertanian secara berkala. Apakah sudah perlu dilakukan pengendalian ataukah belum. Konsep ambang ekonomi menjadi hal penting untuk memutuskan adanya pengendalian.Petani dalam konsep PHT menjadi ahli pengendalian. Sebagai pelaku usaha tani tentunya petanilah yang seharusnya mengetahui konsidi pertaniannya sendiri. Petani perlu mengelola kondisi tanaman dan hubungan rantai makanan alamiah yang ada dalam ekosistem pertanian.Konsep PHT merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam pengendalian hama dan penyakit. Penggunaan pestisida memang telah memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan produksi tanaman, tetapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai koreksi pengendalian kimia, anggapan bahwa hama dan penyakit merupakan musuh yang sangat berbahaya bagi petani mulai dirubah oleh para peneliti. Hama dan penyakit pertanian perlu di kelola sehingga adakalanya kita mengendalikan dan adakalanya tidak. Perubahan itu yang awalnya bernama “Controlling” (pengendalian) menjadi “management”(pengelolaan) hama dan penyakit. Hama dan penyakit (Patogen : bakteri, virus, cendawan, dll) perlu dikelola jumlah populasinya sehingga tidak sampai merugikan manusia. Ini berarti petani tidak perlu berusaha mengusir keberadaan makhluk-makhluk tersebut dari tempat hidupnya, namun hanya dikelola saja. Toh sesunggahnya mereka adalah sama seperti kita sebagai makhluk Allah yang pastinya Dia menciptakannya dengan tujuan dan kemanfaatan yang kita belum ketahuai. SISTEM PERINGATAN DINI istem Peringatan Dini merupakan kegiatan pemantauan kondisi organisme pengganggu tanaman yang dilakukan secara rutin setiap bulan untuk mengetahui kondisi hama serta musuh alami yang ada di lapang. Informasi mengenai kondisi hama serta musuh alami ini sangat penting untuk mengevaluasi keamanan tanaman kelapa sawit dari serangan organisme pengganggu tanaman. Keseimbangan antara musuh alami dan organisme pengganggu tanaman merupakan kunci bagi pembentukan keadaan yang aman dan secara ekonomis tidak merugikan bagi Perusahaan. Sistem Peringatan Dini sekaligus merupakan kunci bagi pengendalian penggunaan pestisida di perkebunan kelapa sawit sekaligus mengurangi dampak penggunaannya bagi lingkungan. SISTEM MANAJEMEN HAMA TERPADU Dibuat berdasarkan enam komponen dasar : Jumlah hama yang dapat diterima (acceptable pest levels) Manajemen hama terpadu menekankan pada pengendalian, bukan pemusnahan karena memusnahkan seratus persen populasi hama adalah tidak mungkin dan dapat membahayakan secara lingkungan dan finansial. Manajemen hama terpadu menetapkan batasan jumlah hama pada level yang tidak merugikan secara ekonomi. Batasan ini spesifik berdasarkan jenis hama dan lokasinya. Misal hama belalang diizinkan berada di lahan tembakau karena belalang memakan gulma yang tumbuh di antara tanaman tembakau tapi tidak banyak memakan daun tembakau. Pemusnahan secara besar-besaran berarti melakukan seleksi terhadap hama yang tahan terhadap pestisida dan yang tidak. Hama yang tahan terhadap pestisida akan berkembang biak dengan cepat karena tidak harus berkompetisi dengan hama lainnya (yang sudah mati karena tidak tahan dengan pestisida). Populais hama berikutnya akan lebih tahan terhadap pestisida. Pendekatan prinsip pencegahan Memilih varietas yang tahan hama dan mempertahankan kesehatan tanaman adalah pendekatan yang harus dilakukan pertama kali dalam mencegah kedatangan hama, diikuti dengan karantina dan sanitasi (misal membuang tanaman yang sakit). Mikroba tanah yang bermanfaat harus tersedia sehingga dapat mencegah pertumbuhan penyakit akar dan penyakit yang bersumber dari tanah, dan mengurangi penggunaan fungisida. Pemantauan Pemantauan berkala diperlukan pada manajemen hama terpadu. Pemantauan dilakukan dengan dua tahap, yaitu inspeksi dan identifikasi.[8] Pemantauan secara visual, jebakan spora dan serangga, dan metode pengukuran lainnya dilakukan untuk memantau jumlah hama. Pencatatan diperlukan untuk memantau perilaku perkembangan populasi hama. Berbagai serangga telah memiliki dokumentasi permodelan siklus hidupnya. Pengendalian mekanis Ketika hama telah mencapai level yang melebihi batas, metode pengendalian secara mekanis adalah pilihan utama yang harus dilakukan. Pengendalian mekanis mencakup pemungutan hama dengan tangan, menggunakan pelindung, jebakan, vakum, dan pembajakan tanah. Pengendalian hama biologis Secara alami hama memiliki predator dan parasit yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dengan dampak lingkungan yang minimum. Insektisida biologis yang berasal dari mikroorganisme (misal Bacillus thuringiensis) juga dapat digunakan.Pestisida Pestisida merupakan cara terakhir yang dapat digunakan pada waktu tertentu pada siklus hidup hama. Berbagai pestisida yang berasal dari senyawa tumbuhan alami seprti nikotin dan piretrum telah tersedia dan dinilai tidak membahayakan lingkungan. Penerapan pestisida harus spesifik pada lokasi di mana hama berada sehingga penerapan pestisida dapat lebih efisien dan tidak mengganggu ekologi.