Pendampingan Budidaya Kopi Arabika Ramah Lingkungan Kabupaten Jayawijaya
Kopi Papua tak lepas mata dan bibir sebut Kopi Wamena dan timbulkan rasa ingin untuk cicipi dan hirup aroma cita rasa khas kopi Lembah Baliem. Si hitam kopi kandungan asam lebih rendah dibandingkan dengan kopi lainnya adalah karakter rahasia yang tersimpan. Luas lahan Perkebunan Kopi di Jayawijaya hingga tahun 2017 seluas 1.910 ha tersebar di 24 Distrik seperti di Walesi, Kurulu, Hubertus dan Pyramid yang merupakan paling potensial perkembangannya. Seluas 480 ha Kebun Kopi masih berproduksi dan 300 ha nya masih dalam tahap proses pemeliharaan pertumbuhan dan sekitar 1000 ha tidak terawat hal ini disebabkan kondisi tanaman yang sudah cukup tua dan tanpa menggunakan pupuk kimia (organik) sehingga rata-rata produksi 600 – 650 kg/ha. Menurut kepala Dinas Pertanian Jayawijaya bahwa Produksi Kopi Wamena di tahun 2017 sebanyak 125,8 ton hal ini disebabkan semakin menurunnya hasil produksi dan sentuhan inovasi teknologi utamanya dalam pengendalian hama dan penyakit. Upaya Pemda Kab. Jayawijaya melalui Dinas Pertanian pada tahun yang sama melakukan optimalisasi lahan dengan sistem peremajaan dan perbaikan kebun seluas 200 ha serta didukung oleh BPTP Papua saat ini yang memproduksi bibit Kopi sebanyak 20.000 pohon diharapkan mampu menambah luasan lahan kebun kopi dan kedepannya kopi papua bangkit dari tidurnya.Masalah utama pengembangan kopi masih terkait persoalan cost produksi yang tinggi dimana lemahnya kelembagaan ekonomi seperti koperasi dan nilai tawar pekebun kopi sehingga tak mampu mandiri. Pada umumnya para penggiat kopi hanya melirik pada hasil akhir yaitu ketika sudah jadi bubuk sehingga harga jual tergolong rendah dan bekaitan hal tersebut kopi wamena sebagian besar hanya bisa diperdagangkan dalam kota dan antar kabupaten saja karena terkendala sarana transportasi via udara saja sehingga ketika keluar daerah harganya melambung tinggi hingga 250.000/kg. Jayawijaya yang hanya bisa diakses melalui pesawat udara dari Jayapura menyebabkan biaya upah, transport, bahan baku dan tenaga kerja cukup tinggi. Selain cost product yang tinggi, hal lain adalah terkait penguasaan tanah. Adanya hak ulayat adat yakni hak masyarakat adat atas tanah yang berada di wilayah adatnya, membuat investor enggan berinvestasi di sektor hulu. Beberapa lembaga/bank/pengusaha kopi lebih tertarik untuk bergerak di sektor hilir yakni menerima kopi yang sudah siap dipasarkan. Melihat kondisi tersebut perlu perhatian lebih kepada pekebun kopi agar dapat memperbaiki taraf hidupnya dengan memberikan berbagi informasi tentang potensi dan peluang kopi, memfasilitasinya dalam bentuk pelatihan atau bimbingan teknologi yang mengarah pada kelembagaan sampai ke mitra usaha sehingga mampu bersaing di kancah nasional bahkan internasional.BPTP Papua melakukan kegiatan pendampingan Budidaya Organik Kopi Arabika pada Kelompok Tani Alua Marian Kampung Waga-Waga Distrik Kurulu dan Kelompok Tani Okesa Kampung Yagara Distrik Walesi. Kegiatan Budidaya Kopi Arabika Ramah Lingkungan dibiayai Badan Litbang Pertanian melalui Kegiatan KP4S dengan PJ kegiatan Dr. Ir. Martina Sri Lestari, MP. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jayawijaya John Hendri Tetelepta, SP, M.Si produksi kopi Wamena sejak tahun 2017 menurun akibat tanaman yang sudah tua dan tidak terpelihara baik serta serangan hama dan penyakit, sehingga diperlukan sentuhan inovasi teknologi ramah lingkungan seperti peremajaan tanaman dan pengendalian hama dan penyakit. Pendampingan dan bimtek sangat diperlukan oleh petani. Pendampingan ini bertujuan untuk melakukan pendampingan teknologi organik, dan meningkatkan kapasitas petani melalui bimtek lapangan berbasis kopi organik. Kegiatan didampingi oleh Kasie Perbenihan Perkebunan Sahrul, SP langsung dilakukan dilahan petani kopi dengan menjelaskan dan mengajarkan cara budidaya organik kopi arabika meliputi sanitasi kebun, pemangkasan tanaman kopi dan naungan, pembuatan rorak, cara pembuatan pupuk organik dari sisa-sisa tanaman, cara pupuk organik dan pemasangan feromon sex PBKo. Hasil pengamatan dilapangan kebun kopi milik petani kurang dilakukan perawatan dan pemiliharaan terutama pemangkasan sehingga kebun menjadi lembab dan kotor penuh dengan rumput atau gulma. Hasil pemantauan serangan hama PBKo terlihat bahwa dari 100 biji kopi 20-43% terserang hama PBKo. Melalui pendampingan budidaya kopi organik diharapkan mampu meningkatkan kesadaran petani pentingnya perawatan tanaman kopi sehingga produksi biji kopi yang diperoleh melimpah. Penulis : Septi Wulandari Jabatan : Penyuluh Pertanian Ahli Pertama BPTP Papua