Loading...

PENERAPAN INOVASI BUDIDAYA PADI LADANG MELALUI PERBAIKAN MODEL PTT SPESIFIK LOKASI DI WILAYAH KEPULAUAN ARU

PENERAPAN INOVASI BUDIDAYA PADI LADANG MELALUI PERBAIKAN MODEL PTT   SPESIFIK LOKASI DI WILAYAH KEPULAUAN ARU
PENERAPAN INOVASI BUDIDAYA PADI LADANG MELALUI PERBAIKAN MODEL PTT SPESIFIK LOKASI DI WILAYAH KEPULAUAN ARU Peningkatan jumlah penduduk telah mendorong meningkatnya permintaan pangan terutama beras. Upaya peningkatan produksi terus ditingkatkan walaupun masih terfokus pada lahan sawah. Upaya ini terhambat oleh berbagai masalah antara lain penyempitan lahan sawah khususnya di pulau Jawa akibat alih fungsi lahan. Potensi sumber daya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk ekstenfikasi padi adalah lahan kering. Indonesia memiliki lahan kering dengan luasan lebih dari 55,6 juta ha. Potensi lahan kering Indonesia yang luas ini belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan cenderung tidak mendapat perhatian serius. Upaya pemberdayaan lahan kering dapat melalui budidaya padi gogo. Akan tetapi, upaya ini menghadapi kendala antara lain: 1) produktivitas padi gogo yang masih rendah; 2) kesuburan tanah yang rendah; 3) ketersediaan air yang terbatas musim hujan;dan 4) kehadiran gulma. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem/pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesifik lokasi. Produktivitas padi gogo di Kepulauan Aru baru mencapai 2,4 t/ha (Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Aru, 2017), hasil ini tergolong rendah. Minat petani terhadap budidaya padi gogo masih tergolong rendah dikarenakan sistim pertanian berpindah-pindah yang sudah menjadi kebiasaan turun temurun sejak dahulu kala dan hanya berorientasi konsumtif sehingga menyebabkan tidak adanya upaya peningkatan produksi dari petani. Dalam rangka peningkatan produksi, maka penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan kondisi lahan setempat menjadi sebuah keharusan. Dengan penggunaan varietas unggul diharapkan dapat meningkatkan produksi padi gogo, sehingga budidaya padi gogo dapat diminati oleh petani. Disamping penggunaan varietas unggul sebagai bagian dari komponen PTT, dalam budidaya padi gogo ini juga diterapkan beberapa komponen PTT diantaranya Pengolahan Tanah Sempurna (menggunakan Traktor), Pemupukan Berimbang dan penggunaan sistim tanam jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 60 x 30 x 15 cm. Dalam pengujian adaptasi ini menggunakan 8 varietas terdiri dari 4 varietas padi gogo diantaranya Inpago V, Inpago VIII, Inpago IX, Inpago XI dan 4 Varietas Lokal terdiri dari Varietas MTB Merah, MTB Putih, MTB Hitam dan Varietas Lokal Aru Merah. Berdasarkan hasil ubinan dari 8 Varietas tersebut hanya Varietas Inpago VIII yang direkomendasikan untuk dibudidayakan atau dikembangkan di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru dengan potensi produksi sebesar 3,5 Ton/Ha. Ditulis oleh : Zadrak Apalem, SST Penyuluh Pertanian Pertama Kabupaten Kepulauan Aru Sumber : 1. Petunjuk Teknis BPTP Balitbangtan Maluku, 20172. Muhamad Fajry dkk, Pola Diseminasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 3. BPS Kabupaten Kepulauan Aru, 2017