Tanaman jagung (Zea mays L.) berasal dari Amerika sebagai makanan pokok penduduk asli yang dibudidayakan sejak 8000 tahun yang lalu. Dua lokasi yang diduga pusat asal tanaman jagung, yaitu kawasan Peru, Ekuador, dan Bolivia, serta kawasan Mexico Selatan dan Amerika tengah (Sudjana et al., 1991). Kementerian Pertanian Indonesia melalui melalui program dan kegiatan berusaha meningkatkan produksi jagung nasional dengan harapan Indonesia bisa swasembada jagung bahkan mampu melakukan ekspor jagung. Upaya peningkatan produksi jagung di dalam negeri dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas jagung adalah menerapkan teknologi dengan pendekatan Pengeloaan Tanaman Terpadu (PTT). Dalam pengembangannya, PTT tidak menggunakan pendekatan paket teknologi, melainkan dengan pendekatan penerapan teknologi untuk memecahkan masalah usahatani di wilayah tertentu dan bersifat spesifik lokasi dengan bantuan para penyuluh dan petugas pertanian. Tujuan utama penerapan PTT adalah untuk meningkatkan produksi, pendapatan petani, dan menjaga kelestarian lingkungan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) bukanlah suatu paket teknologi, akan tetapi lebih merupakan suatu pendekatan dalam budidaya jagung yang menekankan pada pengelolaan tanaman, lahan, air dan organisme pengganggu secara terpadu. Pengelolaan yang diterapkan mempertimbangkan hubungan sinergis dan komplementer antar-komponen Tanaman jagung dapat diusahakan baik pada lahan kering maupun lahan sawah (tadah hujan atau irigasi) maka komponen teknologi alternatif yang dapat diterapkan dalam produksi jagung terkait dengan pengembangan PTT terdiri atas : Varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan, dan keinginan petani setempat, baik jenis komposit/bersari bebas ataupun hibrida. Benih bermutu (kemurnian/bersertifikat dan daya kecambah > 95%), diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan metalaksil 2 g (bahan produk) per 1 kg benih. Kebutuhan benih 15 – 20 kg/ha tergantung ukuran benih, semakin kecil ukuran benih bobot 1000 biji < 200 g) semakin sedikit kebutuhan benih. Populasi tanaman sekitar 66.600 tanaman/ha, jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman/lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman/lubang. Pemupukan Nitrogen (N) berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis laboratorium. Bahan organik (pupuk kandang 1,5 – 2,0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan). Pemberian air melalui saluran-saluran dan dilakukan sesuai kebutuhan (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau). Pengendalian gulma secara terpadu. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT). Panen dan prosesing dengan alat pemipil Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi tersebut dapat dibedakan menjadi dua bagian: 1) teknologi untuk tujuan memcahkan masalahsetempat atau spesifik lokasi, dan 2) teknologi untuk perbaikan cara budi daya yang efisien. Dalam penerapannya tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang mempunyai masalah spesifik. Ada lima komponen teknologi yang dapat diterapkan secara bersamaan (compulsory) sebagai penciri model PTT jagung, yaitu: Varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan, dan keinginan petani setempat, baik jenis komposit/bersari bebas ataupun hibrida. Benih bermutu (kemurnian/bersertifikat dan daya kecambah > 95%), diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan metalaksil 2 g (bahan produk) per 1 kg benih. Populasi tanaman sekitar 66.600 tanaman/ha, jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman/lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman/lubang. Pemupukan Nitrogen (N) berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis laboratorium. Bahan organik (pupuk kandang 1,5– 2,0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam untuk pemecahan masalah kesuburan tanah terutama pada lahan kering masam. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan) atau saluran distribusi air (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau). Jika kelima komponen teknologi tersebut diterapkan secara bersamaan, sumbangan terhadap peningkatan produksi dan efisiensi produksi jagung cukup besar. Tabel 1. Varietas unggul jagung yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (1996 – 2006). Varietas Tahun Pelepasan Potensi hasil UmurPanen Ketahanan Penyakit Bulai Keunggulan Spesifik (ton/ha) (hari) Komposit/bersari bebas Lagaligo 1996 7,50 90 Toleran Toleran kekeringan Gumarang 2000 8,00 82 AgakToleran Umur genjah Kresna 2000 7,00 90 AgakToleran Umur sedang Lamuru 2000 7,60 95 AgakToleran T. kekeringan Palakka 2003 8,00 95 Toleran Umur sedang Sukmaraga 2003 8,50 105 Toleran T. kemasaman Srikandi Kuning-1 2004 7,90 110 Rendah Protein bermutu Srikandi Putih-1 2004 8,10 110 Rendah Protein bermutu Anoman-1 (Putih 2006 7,00 103 Rendah Sesuai untuk pangan Hibrida Semar-3 1996 9,00 94 Toleran Toleran kekeringan Semar-4 1999 8,50 90 Toleran Umur sedang Semar-5 1999 9,00 98 Toleran Umur sedang Semar-6 1999 8,90 98 Toleran Umur sedang Semar-7 1999 9,00 98 Toleran Umur sedang Semar-8 1999 9,00 94 Toleran Umur sedang Semar-9 1999 8,50 95 Toleran Umur sedang Semar-10 2001 9,00 97 Agak Toleran Biomas tinggi Bima-1 2001 9,00 97 Agak Toleran Stay green Bima-2 Bantimurung 2006 11,00 100 Agak Toleran Stay green Bima-3 Bantimurung 2006 10,00 100 Toleran Stay green Gambar 1. Kegiatan pengolahan Tanah Gambar 2. Kegiatan Pemupukan Gambar 3 Kegiatan Penyiangan Gambar 4 Kegiatan Pengendalian OPT Gambar 5. Kegiatan Pemipilan Jagung dengan alat Corn Sheller Penulis : Tera Kertana, SP Jabatan : Penyuluh Pertanian BPP Wilayah Cariu Sumber Informasi : Badan Pengembangan dan Penelitian Pertanian, 2010, Pedoman Umum PTT Jagung Kementerian Pertanian Poehlman, J.M., and D.A. Sleeper. 1995. Breeding Fields Crops. Iowa State University Press. USA. Sudjana, A., A. Rifin, M. Sudjadi. 1991. Jagung. Buletin Teknik No.3. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balittan Pangan. Bogor.