Loading...

PENERAPAN TANAM JARWO MENGGUNAKAN TRANSPLANTER

PENERAPAN TANAM JARWO MENGGUNAKAN TRANSPLANTER
Pada tahun-tahun terakhir Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi guna mewujudkan swa sembada pangan. Upaya tersebut dilakukan dengan memberikan berbagai stimulan seperti perbaikan jaringan irigasi, jalan usahatani, pemberian bantuan hand traktor, mesin panen (combine harverter) dan alat tanam (transplanter). Semua stimulan tersebut secara simultan diharapkan mampu mendongkrak produksi pangan khususnya padi Kabupaten Indramayu dengan luas areal sawah 110.000 hektar merupakan salah satu kabupaten penghasil padi/beras di Jawa Barat. Rata-rata pertahun produksi padi yang dihasilkan Indramayu sebesar 1.7 juta ton GKP. Menurut Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu surplus beras setiap tahun tidak kurang dari 500 ribu ton. Kecamatan Pasekan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Indramayu. Luas wilayah Kecamatan Pasekan 816 hektar. Petani di Kecamatan Pasekan selain petani padi juga petambak. Permasalahan dalam mengelola usahatani padi antara lain adalah kekurangan buruh tanam pada saat dibutuhkan. Seringkali petani terlambat tanam gara-gara tidak mendapatkan buruh tanam. Apalagi biaya borongan jasa tanam dari luar kecamatan dalam 1 bau mencapai Rp. 900 ribu sampai Rp. 1 juta. Hal ini sangat memberatkan petani.Melihat permasalahan tersebut Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) M. Muslikh bersama Kepala UPTD mengusulkan Ketua Kelompoktani Samudra Jaya Desa Brondong ( Pak Somad) untuk memperoleh mesin tanam (Transplanter). Desa Brondong sendiri mempunyai areal sawah seluas 333 hektar. Alhamdulillah pada Tahun 2016 kelompoktani tersebut mendapat fasilitas transplanter. Uji Coba TransplanterPada musim tanam rendeng ini alat transplanter diujicobakan di lahannya. Walaupun mereka tahu bahwa kalau kegiatan pertama pasti banyak hambatan dan tantangan, mereka tetap melaksanakan uji coba transplanter. Hal ini untuk mengetahui kelemahan-kelemahan atau kekurangan dalam mengoperasionalkan transplanter. Menururt pak Somad, berdasarkan hasil uji coba tersebut ternyata masih dijumpai kekurangan-kekurangan antara lain : a. kepadatan benih dalam troy masih kurang, sehingga pada saat masuk transplanter bibit tidak terbawa (tanam banyak yang terlewat), b. jalannya transplanter masih bungkak bengkok, sehingga bibit yang tertanam tidak lurus, c. tanah yang dijadikan uji coba merupakan tanah kumplung (lumpur nya dalam), sehingga transplanter sering ambles. Hal ini terjadi karena musim kemarau yang pendek dan tanah kurang mendapat pengeringan. Ditambahkan oleh Pak Somad untuk luas sawah 1 bau ( 7.000 m persegi) membutuhkan benih sebanyak 50 kg. Hal ini karena benih yang ada direndam dengan air garam, sehingga diperoleh benih yang berisi 40 kg dan transplanater diciptakan untuk tanam legowo 2. Setelah diperam 48 jam benih disebar ditroy yang sudah diberikan tanah dan pupuk organik. Biarkan bibit selama 16 hari dan siram setiap padi dan sore untuk menjaga kelembaban. Sambil menunggu bibit berumur 16 hari tanah diolah sampai siap tanam. Baru setelah semuanya siap bibit dapat ditanam dengan menggunakan transplanter.Menurut Pak Somad dari hasil pengamatannya, menyadari bahwa masih dijumpai kekurangan-kekurangan dalam operasional transplanter ini. Untuk mengoptimalkan hasil penggunaan transplanter, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Dalam pembuatan bibit padi sebaiknya harus dikasih alas dengan kertas koran agar akar tidak tembus ke bawah troy serta harus padat, b. agar jalannya transplanter lurus, maka sebaiknya dipaskan dengan galengan terlebih dahulu atau membuat kenca dengan menarik tambang, c. Prioritaskan terlebih dahulu sawah-sawah yang tidak kumplung, baru terakhir menanam sawah yang kumplung. Dijelaskan lebih lanjut olah Pak Somad bahwa transplanter ini sangat bermanfaat manakala buruh tanam atau jasa tanam sangat terbatas dan kebutuhan akan jasa tanam meningkat. Namun untuk dapat lebih terampil mengoperasionalkannya butuh waktu yang lama dan uji coba ini sebagai bahan pembelajaran. Semoga dengan adanya alsintan seperti ini dapat memudahkan petani dan menjadikan biaya usahatani lebih efisien. Semoga pula kelompoktani Samudra Jaya lebih berkembang lagi. Kami berharap stimulan alsintan yang berasal dari Pemerintah ini tidak menjadi besi tua dan sia-sia. Amiiinnn (Edi Harnadi)