Loading...

PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA SISTEM ORGANIK SPESIFIK LOKASI PADA MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DI PAPUA

PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA SISTEM ORGANIK SPESIFIK LOKASI PADA MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DI PAPUA
Penduduk Papua pada umumnya memliki lahan pekarangan yang cukup luas. Rata – rata keluarga memiliki lahan pekarangan 0,75 – 1,00 Ha. Di Kabupaten Jayawijaya dengan model pemukiman seperti kompleks yang berbentuk huruf U yang disebut Ussilimo, lahan pekarangan komunal dapat mencapai 10 – 20 ha. Pada umumnya lahan pekarangan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi maupun sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga.Di lain pihak perempuan pribumi Papua secara tradisi sudah terlibat dalam kegiatan usahatani keluarga. Peranan tersebut tercermin dari pola pembagian kerja antara pria dan wanita dalam kegiatan pertanian yang diatur dalam tatanan adat – istiadat Papua.Sementara itu realisasi konsumsi masyarakat yang dianjurkan masih berada di bawah anjuran pemenuhan gizi dan usaha diversifikasi pangan.Dalam upaya mencapai Pola Pangan Harapan sebesar 95 dan menjaga keberlanjutannya perlu dilakukan pembaharuan rancangan pemanfaatan pekarangan dengan memperhatikan program yang telah berjalan. Dan komitmen Pemerintah untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan konservasi tanaman pangan untuk masa depan perlu diaktualisasikan dalam menggerakkan budaya menanam di lahan pekarangan baik di kota maupun di perdesaan. Konsep pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) tentu saja disambut antusias oleh Kaum perempuan Papua. Salah satu hasil kajian BPTP Papua yang berkaitan dengan pemanfaatan pekarangan dan keterlibatan rumah tangga dalam mewujudkan ketahanaan pangan kemandirian pangan adalah Teknologi Budidaya Organik Pada Usahatani Pekarangan. Pada prinsipnya budidaya sistem organik menganjurkan penggunaan bahan – bahan organik alam dan mengupayakan adanya keseimbangan antara tanah, tanaman dan hewan serta mikroorganisme. Beberapa aspek penting dari budidaya sistem organik adalah pembuatan bedengan tinggi, penggalian ganda, pembuatan parit dalam, penggunaan pupuk organik alam, pengaturan pola tanam tumpangsari, kawan tanaman dan rotasi tanaman. Pada prinsipnya budidaya sistem organik menganjurkan penggunaan bahan – bahan organik alam dan mengupayakan adanya keseimbangan antara tanah, tanaman, ternak dan mikroorganisme. Dari segi kultur teknis beberapa aspek penting dalam sistim ini adalah sebagai berikut : (1) Pembuatan bedengan yang ditinggikan bertujuan untuk memperoleh struktur tanah yang gembur dan memperbaiki aerase tanah, karena akar – akar tanaman yang sehat akan menyerap hara dengan baik; (2)Penggalian ganda bertujuan mengemburkan tanah sedalam ± 60 cm, guna memperbaiki drainase dan penembusan akar. Dengan penggalian ganda (double digging), lapisan olah bagian atas tetap di atas dan lapisan olah di bawah tetap di bawah tetapi telah gembur. Dianjurkan untuk menggunakan sekop (spade) dan garpu tanah untuk memperoleh hasil yang memuaskan; (3) Pemberian pupuk organik akan merangsang mikroorganisme tanah dan kehidupan parasit serta predator suatu hama dapat terus berlangsung karena ketersediaan makanannya dari bahan organik;(4) Rotasi tanaman yang tepat merupakan aspek perhatian pada sistem budidaya organik. Tanaman tanaman berdaun setelah penanaman tanaman kacang – kacangan yang memberikan nitrogen dengan dengan menggugurkan daun. PENERAPANNYA PADA SISTEM USAHATANI PEKARANGAN DI PAPUAPaket Teknologi Spesifik LokasiKajian yang dilakukan menghasilkan paket teknologi budidaya sistem organik yang diadaptasikan dengan kondisi agroekosistem (teknis, sosial ekonomi) setempat, yaitu : 1) Pengolahan lahan -Bersihkan lahan pekarangan dari gulma dan sampah lainnya-Lakukan penggalian tanah berganda dengan menggunakan sekop pertanian yaitu mengolah tanah sedalam 60 cm dengan lapisan atas (30 cm) dipisahkan terlebih dahulu lalu olah tanah bagian dalam, kemudian kembalikan tanah bagian atas ke atas tanah bagian bawah yang sudah terolah.-Bentuk bedengan berukuran 1 meter dan panjang menurut kondisi lahan. Arah bedengan memanjang Utara–Selatan. Buatlah parit sedalam 60 Cm di antara bedengan.-Tambahkan pupuk kandang sebanyak 4 m³ per 10 m² bedengan.-Bersamaan dengan pegolahan lahan lakukan pesemaian bibit sayuran kubis, petsai dan tomat. Setelah bibit mempunyai 3-4 helai daun, pindahkan dalam koker daun pisang. Setelah berumur 1 bulan bibit tomat dan kubis sudah dapat dipindahkan ke lahan sedangkan petsai atau sawi sudah dapat dipindahkan sekitar 2 minggu.-Aturlah penanaman di lapangan dengan pola tumpangsari perbedengan yang dianjurkan sebagai berikut :a. Tanam tomat /kubis. Jarak tanam tomat 80 cm x 40 cm. Tanam kubis di antara barisan tomat dengan jarak 40 cm x 40 cm.b. Ketimun/petsai. Jarak tanam ketimun 75 cm x 50 cm. Tanam petsai di antara barisan ketimun dengan jarak tanam 50 cm x 34 cm.c. Buncis/bayam. Tanam buncis dengan jarak tanam 50 cm x 20 cm. Tanam bayam di antara barisan buncisd. Jagung/kacang tanah. Tanam jagung dengan jarak tanam 100 cm x 50 cm. Kemudian tanam kacang tanah di antara barisan tanaman jagung dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm.-Pelihara tanaman dengan melakukan penyiangan, pembumbunan, menaikkan kembali bedengan tinggi. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan alat penyiram (gembor) -Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menentukan kelompok tanaman pada tumpangsari, dengan menempatkan jagung sebagai tanaman pinggir (border) dan dengan menanam tanaman hias marygold /tagetes di antara tanaman. Hasil Penerapan Hasil penerapan teknologi budidaya sistem organik spesifik lokasi Papua ditinjau dari beberapa aspek adalah sebagai berikut :1) ProduksiJika dibandingkan hasil penerapan sistem intensif dan sistem organik sistem terhadap sistem tradisional yang diterapkan petani pada luas satuan luas yang sama dan komoditas yang sama, maka perbandingan produksi yang dihasilkan adalah : sistem tradisional : sistem intensif : sistem organik maka perbandingannya adalah : 1 : 7.41 : 9,5. Hal ini disebabkan kondisi struktur tanah yang gembur dan aerase tanah yang baik karena pengolahan tanah ganda dan pembuatan bedengan tinggi. Kondisi tanah yang demikian menyebabkan perakaran tanah sehat sehingga optimal menyerap hara. Populasi hama dan serangan penyakit pada budidaya sistem organik relatif lebih kecil. Hal ini disebabkan kondisi bedengan lapang yang gembur tidak berbeda dengan kondisi di pesemaian sehingga tidak terjadi interupsi pertumbuhan tanaman yang dapat merangsang tanaman membentuk lebih banyak karbohidrat daripada protein, sehingga hama yang lebih menyukai protein dapat dihalau. Demikian pula halnya dengan penggalian ganda dan pemberian pupuk organik pada lapisan atas dan bawah , selain memperbaiki sifat fisik tanah juga menyuburkan tanah. Kawan tanaman pada tumpangsari tanaman tertentu serta penggunaan tegetes (marygold) memperkecil serangan hama.2) Penerimaan Jika dibandingkan penerimaan rumah tangga sistem intensif dan sistem organik terhadap sistem tradisional yang dilakukan petani , maka perbandingan penerimaannya sistem tradisional : sistem intensif dan sistem organik adalah 1 : 1,97 : 2.05. Penerimaan diperoleh hanya dari hasil yang dijual. Umumnya petani telah memahami pemilihan komoditas yang disukai konsumen seperti misalsarnya sawi, kol, buncis. Pada umumnya hasil panen dijual di Pasar Tradisional Lingkungan Kampung maupun ke luar Kampung. Ada juga orang – orang dari Kota yang kebetulan berkunjung atau melewati Kampung , singgah untuk membeli dengan cara panen sendiri untuk kebutuhan konsumsi. Hal ini memberi sensasi tersendiri bagi orang – orang Kota.3) Tingkat serangan HamaPada tanaman yang diusahakan dengan sistem tradisional tingkat serangan sebesar 30 %, sedangkan pada sistem organik sebesar 5 % yaitu ulat daun yang menyerang kubis. Hama yang menyerang pertanaman dengan sistem budidaya tradisional dan sistem budidaya intensif adalah ulat pada kubis dan petsai, penggerek tongkol jagung dan kutu buncis. Hal ini disebabkan penerapan sistem kawan tanaman pada tumpangasari serta penanaman tegetes (marygold) sebagai tanaman penghalau hama. Tanah yang gembur (tidak berbongkah) mengurangi serangan aphid pada buncis. 4) PembiayaanJika dibandingkan biaya yang dikurbankan pada sistem intensif dan sistem organik terhadap sistem tradisional yang dilakukan petani , maka perbandingan pembiayaan yang dikurbankan pada sistem tradisional : sistem intensif dan sistem organik adalah 1:1,73 : 1. Perbedaan biaya yang dikeluarkan pada sistem intensif adalah pada komponen biaya pupuk buatan yang dibeli di Kios Sarana Produksi di Ibu Kota Distrik yang jaraknya relatif jauh dari lokasi.5) Ditinjau dari aspek keamanan pangan dan lingkungan, teknik budidaya sistem tradisional dan sistem organik jauh lebih aman dan sehat. 6) Respon PetaniPada umumnya wanita tani responden (80 %) lebih suka mengelola usahatani di pekarangan daripada di kebun yang jaraknya relatif jauh dari rumah. Pertimbangan mereka adalah efisiensi waktu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak dan mengelola usahatani. Pertimbangan lainnya adalah usahatani pekarangan menyediakan bahan pangan konsumsi sehari-hari bagi seluruh keluarga. Hasil usahatani pekarangan yang berlebih dapat diberikan kepada tetangga, dijual ke pasar Kampung maupun pembeli yang datang dari Kota dengan melalukan panen sendiri di Kebun, memberi sensasi tersendiri bagi orang – orang Kota. Walaupun sebagian besar wanita tani lebih suka mengelola usahatani di pekarangan, namun karena terbatasnya tenaga kerja keluarga, maka sebagian wanita tani responden (10%) masih terus ke kebun membantu suami, namun curahan waktu dan tenaganya ke kebun sudah berkurang atau pada kegiatan tertentu saja. Selebihnya tetap membantu suami di Kebun dan merasa tidak sempat mengelola usahatani pekarangan.Wanita tani yang menerapkan budidaya sistem organik pada usahatani pekarangannya mengatakan mau melanjutkan penerapan budidaya sistem organik pada usahtani pekarangannya (100% responden). Sebagian besar petani responden (90%) yang menerapkan sistem tradisional dan sistem intensif mengatakan akan mencoba budidaya sistem organik, namun sebagian lagi (10%) kurang respons terhadap teknologi sistem organic dengan pertimbangan pengolahan tanah berat dan tenaga kerja kurang serta sulit mengumpulkan pupuk kandang dan sisa – sisa tanaman. Prospek Penerapannya Secara Luas Pada Usahatani Pekarangan di Papua Dalam upaya melestarikan tersedianya pangan bagi keluarga melalui pemanfaatan pekarangan sebagaimana tujuan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari di Papua, hasil kajian ini dapat menjadi alternatif pilihan masyarakat. Faktor pendukungnya dapat dikembangkan dan penghambatnya dapat diupayakan solusinya.Faktor pendukung bagi masyarakat untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi sistem usahatani pekarangan dengan sistem organik adalah :1) Sistem sosial/adat istiadat penduduk lokal di Papua dalam pengambilan keputusan baik dalam kegiatan pertanian maupun non pertanian dimusyawarahkan dalam keluarga. Musyawarah keluarga melibatkan/ mendengarkan pendapat ibu (kaum perempuan) dalam keluarga. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pandangan kaum laki – laki di Papua terhadap kaum Ibu (perempuan). Sebagaimana diketahui pada mulanya di Papua terdapat pandangan bahwa kaum perempuan hanya sebagai tenaga kerja keluarga sehingga tidak perlu terlibat dalam musyawarah keluarga untuk mengambil keputusan. Keikutsertaan kaum perempuan dalam proses pengambilan keputusan keluarga merupakan potensi sosial dalam adopsi inovasi pertanian dalam hal ini usahatani pekarangan dan teknologi sistem usahatani organik yang memerlukan tenaga kaum bapak sebagai bentuk dukungan terhadap aspirasi wanita tani yang mau memanfaatkan pekarangan dengan sistem organik.2) Pengertian suami terhadap peran ganda istri (wanita tani) merupakan dukungan sosial yang sangat mempengaruhi adopsi usahatani pekarangan dengan sistem organik. 3) Adanya pasar lingkungan di Kampung–Kampung yang dapat menampung hasil komoditas hortikultura yang dihasilkan dari usahatani pekarangan serta adanya angkutan pedesaan dari dan ke kampung memudahkan pemasaran ke luar Kampung maupun pembeli dari luar Kampung.4) Tersedianya bahan – bahan organik di semua tempat di Papua Faktor Penghambat1) Penerapan teknologi sistem organik sulit diterapkan apabila masyarakat belum menerapkan sistem pemeliharaan ternak dalam kandang. Selain manure ternak yang digunakan dalam budidaya sistem organik tidak terkumpul, ternak yang berkeliaran juga dapat merusak tanaman yang diusahakan di pekarangan. 2) Terbatasnya tenaga kerja dalam keluarga tani, menyebabkan wanita tani harus ke kebun mambantu suami sehingga tidak mempunyai waktu dan tenaga untuk mengelola usahatani pekarangan, walaupun sebenarnya lebih efiisen apabila wanita tani mengelola usahatani pekarangan. 3) Teknologi budidaya sistem organik memerlukan peralatan pengolahan tanah standar yang harus dimiliki keluarga tani yaitu sekop pertanian (spade) dan garpu tanah. Keterampilan petani mengolah lahan dengan sekop masih rendah, namun hal tersebut dapat dilatih dan dibiasakan.4) Keterbatasan pupuk kandang dalam jumlah yang relatif banyak dapat diadaptasikan dengan pembuatan pupuk organik (pengomposan) dengan menggunakan mikroorganisme Lokal MOL dari bahan bahan organik lainnya yang ada di lokasi.5) Pengolahan tanah ganda dan pembuatan bedengan tinggi pada awal cukup berat bagi wanita tani. Dalam hal ini bantuan tenaga kerja laki – laki dalam keluarga sangat diperlukan. Kerjasama (gotong royong) dalam kelompok yang biasa dilakukan di Papua dapat mengatasi hal tersebut. Namun selanjutnya tinggal menggemburkan dan menaikkan tanah yang turun saja.6) Pengendalian hama selain dengan menerapkan pola kawan tanaman, penanaman refugia, juga dapat menggunakan pestisida nabati. Penulis : Sri Rahayu D. Sihombing (Penyuluh Pertanian) BPTP