PENERAPAN TEKNOLOGI PEMAKAIAN MULSA UNTUK TANAMAN CABE DI LAHAN KEL. KOTA ALAM KEC. KOTABUMI SELATAN
Kota Alam 10 Januari 2019. Wilayah kerja Kota alam memiliki luas wilayah 42.91 ha yang terbagi luas sawah 8 ha bukan sawah 4.283 ha. Sebagian kecil penduduknya bermata pencarian petani dan pekebun. Lahan cabe yang kami amati memiliki luas 0.5 ha. Terletak di dusun alang – alang lebar. Kepemilikan lahan oleh Bapak Agus sebagai nara sumber. Tanaman cabai merah sebagai salah satu tanaman hortikultura yang banyak sekali dikonsumsi, merupakan tanaman yang terpengaruh pertumbuhannya apabila iklim mikro di sekitar tanaman mengalami perubahan. Tanaman cabai merah adalah tanaman warm-season, dan peka terhadap suhu dingin pada setiap vase pertumbuhannya (Smith et al., 2011). Penggunaan mulsa plasticputih perak pada lahan budidaya dapat meningkatkan suhu tanah. Noorhadi dan Sudadi (2003) menjelaskan bahwa Karena bahan mulsa tersebut adalah plastik, meskipun panas yang diserap sedikit, tetapi panas akan berada dibawah permukaan mulsa plastik dalam waktu yang cukup lama sehingga akan berpengaruh pada peningkatan suhu tanah. Pemberian air tidak memberikan pengaruh yang nyata pada penurunan suhu tanah, sedangkan perlakuan mulsa menunjukkan pengaruh yang sangat nyata dan tidak terdapat interaksi antara perlakuan volume pemberian air dan mulsa. Purwowidodo (1983) menjelaskan bahwa untuk mengendalikan penguapan air maka penggunaan mulsa merupakan bahan yang potensial untuk mempertahankan suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, meningkatkan penyerapan air dan mengendalikan pertumbuhan gulma. Chairumansyah (2010) menjelaskan bahwa keuntungan bertani menggunakan mulsa antara lain; pemberian pupuk dapat dilakukan sekaligus total sebelum tanam. Warna putih dari mulsa menimbulkan kesan gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma, memantulkan sinar matahari, sehingga dapat mengurangi hama aphis, trips dan tungau, serta secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus. Penggunaan mulsa plastik putih perak menjaga buah cabai yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah. Wijayanti et al. (2007) menjelaskan bawha penggunaan mulsa plastik putih perak pada budidaya krisan menunjukkan populasi Thrips spp. terkecil (1-6 ekor/bunga), persentase kerusakan bunga (1-33%) terendah dan intensitas kerusakan bungan terendah (0-29%). Penggunaan mulsa plastik putih perakdapat menekan tingkat kerusakan buah cabai akibat anthraknosa (Uhan dan Nurtika, 1995). Dilihat dari hasil produksi lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman cabe tanpa mulsa. Umur panen lebih singkat dibandingkan tanpa mulsa ( menurut pendapat bapak agus pemilik lahan cabe). Dari luas lahan 0.5 ha bapak agus menghabiskan dana sekitar kurang lebih 5 jutaan untuk pembelian mulsa.. Panen sementara telah dilakukan sebanyak 8 kali panen setiap panen menghasilkan 5 kuintal dengan harga @17.000. Maka nilai ekonomi yang telah diperoleh kurang lebih 68.000.000. Namun panen masih terus dilakukan karena tanaman cabe masih menghasilkan . ( Dwi Krestinna AM.d Penyuluh pertanian WKPP Kota Alam UPTD Pertanian Kec. Kotabumi Selatan).